Retorika Kosong MDG’s

Meski sudah lewat dua hari, tidak ada salahnya jika kita mengenang kembali Hari Anti Kemiskinan Sedunia yang jatuh pada tanggal 17 Oktober kemarin. Seperti diketahui, pada tanggal 17 Oktober tahun 1987, lebih dari seratus ribu orang berdemonstrasi di Trocadéro di Kota Paris, Perancis, tepat di tempat penandatanganan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia tahun 1948, untuk mengajak seluruh warga dunia merenungkan kembali nasib para korban kemiskinan ekstrim, kekerasan dan kelaparan di seluruh dunia. Kemudian, demi menghormati momen bersejarah tersebut, PBB berinisiatif untuk mengeluarkan resolusi no. 47/196 tertanggal 22 Desember 1992, yang menetapkan tanggal 17 Oktober sebagai Hari Anti Kemiskinan Sedunia (International Day of Eradication for Poverty)- yang diperingati oleh warga dunia hingga saat ini.

Berbicara tentang cara pemberantasan kemiskinan versi PBB, tentu tak bisa lepas juga dari pelaksanaan Tujuan Pembangunan Millenium/Millenium Development Goal’s disingkat MDG’s – yang juga merupakan produk PBB pada tahun 2000 demi menciptakan dunia tanpa kemiskinan pada tahun 2015. Sebagai bagian dari PBB, Indonesia sendiri ikut menerapkan program MDG’s sejak tahun 2004. Di dalam MDG’s sendiri, kita tahu, ada sekitar delapan program yang muluk-muluk di bidang kemiskinan, kesehatan, pendidikan, lingkungan, kesetaraan gender, dll.

Namun,terus terang, kami sangat meragukan keberhasilan program MDG’s di Indonesia. Karena praktis, kemiskinan -dan proses pemiskinan- tidak berkurang sama sekali. Kita masih mendengar terjadinya wabah kelaparan di berbagai tempat di tanah air, yang artinya masih terdapat kemiskinan ekstrim. Kesehatan rakyat juga semakin buruk saja. Angka kematian ibu dan bayi di Indonesia masih cukup tinggi, bahkan di antara negara-negara berkembang. Pendidikan semakin terbelakang dan tidak terjangkau. Perihal kesetaraan gender pun seperti masih mimpi, karena praktik penjualan anak dan perempuan masih marak di mana-mana. Target di bidang lingkungan hidup pun tidak terlihat karena setiap harinya kita terus disuguhkan fakta tentang dampak kerusakan lingkungan di sekitar kita, seperti banjir dan tanah longsor. Dan masih lagi fakta yang membuat kita ragu akan bukti keberhasilan MDG’s.

Bagi kami, bagaimana mungkin MDG’s dapat sukses jika Indonesia sendiri masih konsisten di jalur neoliberal. Mana mungkin ada anggaran yang cukup untuk membiayai pendidikan dan kesehatan, jika anggaran negara setiap tahun dihabiskan hanya untuk membayar utang luar negeri, sementara pendidikan dan kesehatan malah diserahkan pengelolaannya pada pasar. Mana mungkin kemiskinan dapat berkurang jika industri nasional sedang berhancuran akibat kesalahan kebijakan perdagangan pemerintah. Mana mungkin lingkungan hidup kita dapat selamat jika tidak ada penegakan hukum terhadap para pembalak liar. Semua ketidakmungkinan itu ditambah birokrasi program MDG’s yang berbelit-belit dan tidak transparannya penggunaan dana MDG’s membuatnya lebih terlihat seperti retorika kosong belaka.

Syukurlah di tengah situasi ketidakjelasan sekarang ini, masih ada saja elemen-elemen masyarakat yang setia memperingati Hari Anti Kemiskinan Sedunia dengan terus menyadarkan rakyat tentang kegagalan MDG’s- seperti salah satunya Serikat Rakyat Miskin Indonesia. Sehingga rakyat tidak lagi terbuai oleh retorika-retorika kosong MDG’s.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut