Rakyat Tunisia Ingin Membersihkan Rejim Lama

Jika gerakan rakyat di Mesir agak direm oleh berbagai konsesi dengan rejim Hosni Mubarak, namun gerakan rakyat di Tunisia masih terus “tancap gas” untuk menghabiskan seluruh sisa-sisa rejim lama.

Kemarin, 6 Februari, ribuan demonstran kembali bentrok dengan polisi saat menuntut agar perwira kepolisian, Khaled Ghazouani, diturunkan dari jabatannya karena dianggap masih bagian Democratic Constitutional Regrouping Party (RCD), partai pendukung rejim lama.

Akibat bentrokan itu, media lokal setempat melaporkan bahwa 2 orang tewas dan 7 orang lainnya mengalami luka parah. Saat itu, para demonstran yang marah berusaha membakar kantro kepolisian tersebut.

Polisi dianggap bagian dari rejim lama, sehingga gerakan rakyat Tunisia menghendaki agar seluruh pimpinan kepolisian diganti. Sementara RDC, partai yang berkuasa selama 23 tahun bersama Ben Ali, dianggap sebagai penindas rakyat.

Menurut sebuah sumber, bentrokan di Kef, 200 kilometer dari ibukota, meletus setelah seorang perwira polisi menampar seorang perempuan saat demonstrasi di depan kantor kepolisian.

Pergantian 24 Gubernur

Sebuah sumber resmi melaporkan bahwa pemerintahan sementara telah mengganti sebanyak 24 gubernur karena dianggap bagian dari rejim lama. “Mereka dulu merupakan penjilat kekuasaan Ben Ali,” kata sumber tersebut.

Bukan hanya itu, laporan lain menyebutkan bahwa sebuah pergantian besar-besaran juga dilakukan terhadap pejabat kementerian dalam negeri, sebagai langkah awal untuk membongkar kepolisian, pasukan keamanan, dan jaringan intelijen yang pernah dipergunakan rejim Ben Ali.

Sementara itu, belum terlihat tanda-tanda bahwa aksi protes akan menghilang di jalanan, sebelum seluruh pejabat yang terlibat dengan kekuasaan Ben Ali disingkirkan.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
Tags: