Rakyat Butuh Pemimpin “Pencerah”

Dengan penuh antusias dan apresiatif rakyat Indonesia menyambut film “Sang Pencerah”, film biografi karya Hanung Bramangtyo, yang menceritakan perjuangan hidup Kiai Haji Ahmad Dahlan, seorang tokoh pendiri Muhammadiyah yang berjiwa besar dan pantang menyerah.

Namun, kita tidak sedang mengulas soal isi film tersebut, tetapi berusaha mengangkat sebuah kenyataan di depan mata, bahwa mayoritas rakyat Indonesia sedang mencari seorang pemimpin yang pemberani, berjiwa besar, dan sanggup melakukan terobosan untuk mengatasi persoalan bangsa sekarang ini.

“Pencerah” dapat diartikan sebagai pemimpin yang membawa terang bagi bangsanya, bukan pemimpin yang membawa bangsanya pada “kegelapan”. Sebab, selain perlu adanya perumusan cita-cita politik dan kemauan yang keras, setiap perjuangan juga memerlukan seorang pemimpin. Demikian pula dengan perjuangan sebuah bangsa, seperti dikatakan sendiri oleh Bung Karno dalam pidato Re-so-pim, memerlukan sebuah kepemimpinan nasional, sebab tanpa itu, perjuangan akan seperti tentara tanpa jenderal.

Seorang pemimpin nasional, meminjam perkataan Bung Karno lagi, bukan memimpin suatu partai atau suatu kabinet koalisi, melainkan harus memimpin suatu bangsa, dan bangsa itu bukan seperti satu kabinet koalisi, ataupun satu partai.

Pada kenyataannya, kepemimpinan nasional sekarang ini sangat mirip dengan perkataan pepatah “jauh panggang dari api”, alih-alih dikatakan sebagai seorang pemimpin, banyak rakyat Indonesia yang merasa tidak punya pemimpin. Antara lembaga negara terjadi cekcok dengan lembaga lain, seperti dalam kasus cicak versus buaya.

Kenapa bisa terjadi? Karena pemimpin nasional sekarang ini gagal melakukan apa yang dikatakan oleh Bung Karno sebagai “mengaktivir bangsa yang ia pimpin kepada perbuatan”. Rakyat merasa tidak “digerakkan” oleh pemimpinnya.

Pemimpin nasional saat ini, dalam hal ini Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), lebih banyak berkeluh kesah di hadapan rakyat, menyampaikan himbauan-himbauan, menyampaikan jangan ini-jangan itu, dan lain-lain. Padahal, kalau hanya menyerukan rakyat pada sebuah perbuatan, tetapi kenyataannya tidak “mengaktivitir” rakyat dalam perbuatan, maka rakyat tidak akan bergerak untuk menjalankan perbuatan itu.

Untuk mengaktivitir rakyat dalam perbuatan, seorang pemimpin perlu menjelaskan konsepsi-konsepsi dan melukiskan cita-cita politiknya, membangkitkan kepercayaan rakyat pada kemampuannya, dan sanggup membangunkan kekuatan rakyat untuk mencapai tujuan politiknya.

Di sinilah letak sebagian besar persoalan, bahwa pemimpin nasional sekarang ini tidak memiliki konsepsi nasional, malah lebih banyak mengintrodusir konsepsi-konsepsi yang berbau asing; demokrasi liberal, liberalisme ekonomi, dan lain sebagainya.

Akibat dari ketiadaan konsepsi itu, bangsa Indonesia kini menjadi terombang-ambingkan di tengah perubahan dunia yang sangat cepat, tidak memiliki kepribadian dan karakter nasional, dan menyaksikan keterpurukan di segala bidang—politik, ekonomi, pertanahan dan kemananan, kesejahteraan rakyat, dan demokrasi.

Bagaimana kita bisa mendapatkan “pencerahan”, jikalau setiap hari hanya disajikan kejadian-kejadian memilukan; kemiskinan bertambah, biaya pendidikan mahal, kesehatan sulit diakses rakyat banyak, harga sembako terus merangkak naik, kebebasan berkeyakinan tidak dapat dijamin negara, tidak ada perlindungan terhadap minoritas, pertikaian berbau SARA di mana-mana, Tenaga Kerja Indonesia (TKI) terabaikan di luar negeri, dan lain sebagainya.

Padahal, sebagai seorang pemimpin yang seharusnya memimpin bangsa, maka pemimpin nasional sekarang mestinya mampu menyatukan keragaman (budaya, suku, agama, dll) ke dalam sebuah persatuan nasional yang kuat. Karenanya, seorang pemimpin harus berani pasang badan untuk melindungi persatuan nasional, dan menjaga persatuan nasional itu seperti menjaga “biji matanya” sendiri.

Dan, rasa antusias dan penuh optimisme rakyat untuk menonton film biografi, juga ketertarikan rakyat untuk kembali kepada tokoh-tokoh pembebasan di masa lalu, seperti Bung Karno, Bung Hatta, Syahrir, Amir Syarifuddin, dsb, juga membaca buku-buku dan material-material mengenai tokoh-tokoh itu, ataupun adanya sebagian rakyat yang “lompat pagar” membanggakan pemimpin negara lain seperti Ahmadinejat, Hugo Chavez, Evo Morales, dan Fidel Castro, adalah penjelasan yang gamblang bahwa rakyat sedang memimpikan lahirnya pemimpin nasional yang seperti itu.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut