Tuntut Jaminan Kebebasan Beragama, Gereja HKBP Datangi Bareskrim

JAKARTA: Sejumlah jemaat Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) dan komunitas gereja lainnya mendatangi Bareskrim Mabes Polri, Jalan Trunojoyo Nomor 1, Jakarta Selatan, Kamis (16/9/2010).

Kuasa hukum jemaat HKBP, Saor Siagian, mengatakan, pihaknya akan meminta agar polisi tidak hanya menangkap pelaku di lapangan, tetapi juga aktor intelektual. Pernyataan ini terkait penanganan kasus penusukan jemaat HKBP pada hari minggu lalu (12/9).

Selain itu, dalam pertemuan ini, para jemaat gereja juga meminta ketegasan soal jaminan kebebasan beragama, supaya tidak ada lagi pembiaran terhadap aksi-aksi kekerasan terhadap kebebasan umat beragama dalam menjalankan ibadah agama masing-masing.

Dalam kunjungan ini para jemaat didampingi oleh aktivis dari Setara Institute, Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) dan perwakilan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI).

Adapun perwakilan gereja-gereja lain yang turut dalam kunjungan ini, antara lain, gereja HKBP Pondok Timur Indah, GPI Yasmin, Filadelpia, HKBP Cinere, dan Gereja Jatimulya. Pada umumnya, mereka juga mengalami kesulitan dalam menjalankan ibadah, meskipun sudah mengantongi surat ijin secara resmi.

Polri Tetapkan 10 Tersangka Kasus Penusukan Jemaat HKBP

Hingga Rabu (15/9), Polri sudah menetapkan 10 orang sebagai tersangka terkait penusukan jemaat HKPB, hari minggu lalu (12/9). Seluruh tersangka berasal dari luar kampung Ciketing, lokasi tempat kejadian berlangsung, salah satunya, Ketua Front Pembela Islam (FPI) Bekasi, Murhali Barda.

Kepada wartawan di Istana Negara (15/9), Kapolri Bambang Hendarso Danuri (BHD) menjelaskan, “Untuk kasus HKBP, kita akan usut tuntas siapapun di belakangnya atau siapa yang melakukan tindak kekerasan akan melalui proses hukum yang tegas. Jadi jangan lagi ada yang seolah-olah (bilang) kita tidak melakukan penegakan hukum.” (KS & Ulfa)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut