Rafael Correa Kembali Terpilih Sebagai Presiden Ekuador

Rafael Correa

Presiden Ekuador Rafael Correa kembali terpilih sebagai Presiden Ekuador. Dalam pemilu yang berlangsung Senin (17/2), Correa merebut suara mayoritas: 58 persen. Sedangkan pesaingnya, Guillermo Lasso, seorang bekas bankir, hanya meraih 24 persen.

Begitu hasil perhitungan cepat itu muncul Televisi, ribuan pendukung Correa langsung membanjiri Istana Kepresidenan. “Ini adalah kemenanganmu,” kata Correa di hadapan pendukungnya. “tidak seorang pun yang bisa menghentikan revolusi ini,” tambahnya.

Rafael Correa, seorang PhD jebolan University of Illinois, AS, terkenal dengan kebijakan populis dan anti-imperialisnya. Ia berani mengusir Bank Dunia dan IMF dari negerinya. Dia juga terang-terangan menolak kehadiran pangkalan militer AS di negaranya.

Correa diusung oleh Alianza PAÍS (AP), partai progressif yang dibentuk pada tahun 2006. Tahun itu juga Alianza PAÍS turut bertarung dalam pemilu dan mengusung Correa sebagai Capres. Hasilnya cukup spektakuler: Alianza PAÍS menang pemilu dan Correa terpilih sebagai Presiden.

Kebijakan Pro-Rakyat

Di bawah panji-panji “Revolusi Warga”, pemerintahan Correa mulai mengubah Ekuador. Ekuador berhasil mencapai kemajuan di lapangan politik, ekonomi, dan sosial-budaya.

Sebelum Correa berkuasa, Ekuador merupakan negara paling bernasib buruk di Amerika Latin. Hampir 80 persen rakyatnya hidup di bawah 2 US dolar perhari. Separuh anggaran belanja nasionalnya dipakai untuk membayar utang luar negeri. Akibatnya, anggaran publik merosot tajam.

Selama Correa berkuasa, pengangguran turun menjadi 4,1 persen akhir tahun lalu—terendah dalam 25 tahun terakhir. Kemiskinan telah turun 26 persen sejak tahun 2006. Sedangkan belanja pendidikan, seperti pendidikan, telah dinaikkan dua kali lipat.

Belanja kesehatan juga meningkat, yang telah memudahkan rakyat mengakses layanan kesehatan. Belanja sosial yang lain juga meningkat. Termasuk subsidi perumahan.

Pembayaran utang publik Ekuador kurang dari 1 persen PDB. Sedangkan rasio hutang terhadap PDB hanya 25 persen.

Pemerintahan Correa juga berani mengambil kendali terhadap Bank Sentral dan memaksanya menggiring kembali 2 trilun USD cadangan devisanya dari luar. Uang kemudian disalurkan oleh bank-bank umum untuk pinjaman pembangunan infrastruktur, perumahan, pertanian, investasi di dalam negeri, dan lain-lain.

Ia berani memberlakukan pajak kepada setiap uang yang hendak meninggalkan negerinya (capital outflow). Kebijakan ini diperlukan untuk menjaga 60 persen aset likuiditas tetap di negerinya. Ia juga memaksa menurunkan suku bunga real untuk menstimulus sektor produktif. Sebaliknya, Correa justru memajaki aktivitas para bankir.

Tak pelak lagi, kebijakan itu berhasil menaikkan pendapatan pemerintah dari 27 persen PDB (2006) menjadi 40 persen (2012). Ekuador juga berhasil mengurangi 70 persen utangnya. Karena utang tersebut terbukti illegal dan tidak mengikat kewajiban rakyat Ekuador untuk membayarnya.

Di bidang media, Correa mungkin dianggap anti kebebasan pers. Tapi, tenang saja, itu hanya tudingan dari media bisnis yang kepentingannya terganggu oleh kebijakan regulasi media di Ekuador. UU media Ekuador mengatur distribusi lisensi siaran: swasta (33%), publik (33%), dan komunitas (34%).

Sebaliknya, sebagai dukungan terhadap demokrasi dan kebebasan, Ekuador memberikan suaka kepada pendiri Wikileaks, Julian Assange. Tindakan ini membuat pemerintah AS dan Eropa kebakaran jenggot.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut