Proses Pembentukan Bahasa Nasional Indonesia (1)

Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu yang berakar di pantai timur Sumatera. Karena sejarah perkembangan kehidupan ekonomi, bahasa Melayu kemudian mampu memperluas batas-batas wilayahnya sendiri dari batas-batas regional menjadi batas nasional, dan atas dasar itu bahasa Melayu diperkaya baik dalam logat atau dialek maupun dalam peristilahan, idiom dan sintaksis. Dalam perkembangannya kemudianbahasa Melayu sebagai lingua-franca tidak sekedar mendukung peranan ekonomis saja, tetapi juga peranan-peranan sosio-kultural dan politik, akhirnya tumbuh sebagai lingua-franca bagi seluruh nasion Indonesia.

Sesungguhnya sangat menarik mempelajari sejarah dan peranan Bahasa Indonesia yang unik itu. Dengan menunjuk kepada D. de Vries dalam bukunya Culturele Aspecten in de Verhouding Nederland – Indonesië, Dr. Justus M. Van der Kroef berkata antara lain: “Kesusasteraan Indonesia modern menggunakan suatu bahasa yang asal dan perkembangannya kiranya paling unik di dunia”.[1]

Sebagaimana dunia ilmupengetahuan telah bersepakat, sejarah bahasa Indonesia yang kita kenal sekarang berakar di jantung tanah Melayu. Dalam hal ini perlu ditegaskan, bahwa daerah yang disebut tanah Melayu, daerah asal bahasa Indonesia itu, bukanlah Semenanjung Malaya sekarang, melainkan sebuah kerajaan Melayu Kuno yang terletak di pantai timur Sumatera dan yang mempunyai daerah-daerah pengaruh di Semenanjung Melayu itu.

Dalam menelusuri sejarah hidupnya Prof. Dr. Slametmulyono menulis: “Ujud bahasa Indonesia / Melayu tertulis yang paling tua terdapat pada piagam Sriwijaya dari abad ketujuh.” Seterusnya dikatakan, “sudah pasti bahwa bahasa tersebut telah dipakai pula dalam masa kerajaan Melayu lama yang telah berdiri sebelum timbulnya kerajaan Sriwijaya.”[2]

Sebagai suatu imperium yang dalam masa jayanya tiada berbanding serta berkuasa atas bagian barat perairan Nusantara dan lalu-lintas perniagaannya, maka bahasa Melayu itu pun memperoleh watak dan merebut kedudukan sebagai lingua-franca bagi seluruh penjuru kepulauan Nusantara itu. Baik ditinjau dari segi geografis maupun historis, mudah dipahami apabila belahan timur kepulauan Nusantara harus berorientasi dan bahkan bergantung kepada belahan barat pulau-pulau itu.

Sebagai lingua-franca sudah barang tentu di satu pihak bahasa Melayu mempunyai berbagai macam logat atau dialek yang sangat berbeda-beda dan sangat kaya, namun di pihak lain bahasa Melayu ketika itu pun belum mempunyai kesempurnaan bentuk yang tertentu. Oleh karenanya bahasa Melayu pada masa itu pun, sebagai konsekuensi daripadanya, belum mampu menjadi sarana perkembangan artistik bahasa. Lingua-franca yang juga oleh banyak pengarang disebut sebagai bahasa Melayu Pasar, sekarang terbukti telah dapat tetap hidup dan malahan semakin tumbuh dan berkembang. Faktor-faktor apakah yang menyebabkannya?

Ada tiga faktor penyebab yang tali-temali. Pertama, karena kesibukan yang tidak pernah diam di kota-kota bandar dan seluruh penjuru lautan Nusantara oleh kehidupan perdagangan dan perniagaan. Kedua, karena sifat eklektisisme[3] yang besar, yang dimiliki oleh bahasa Melayu Pasar tersebut sebagai lingua-franca. Ketiga, karena tugas dan peranan yang didukung oleh bahasa itu yang semuanya merupakan faktor-faktor penentu untuk pembentukan watak baginya.

Bahasa Melayu telah memperlebar batas-batas tanahairnya sendiri, dari batas=-batas regional menjadi berbatas nasional. Bersama dengan itu Bahasa Melayu juga memperluas pendukungnya, dari sementara sukubangsa-sukubangsa di belahan barat kepulauan Nusantara, sampai kepada sukubangsa-sukubangsa yang hidup di belahan timur seluruhnya.[4] Atas dasar itu bahasa Melayu menjadi diperkaya, tidak saja di dalam logat atau dialek, tetapi malahan juga dalam hal peristilahan, idiom dan sintaksis.

Bahwa akhirnya Bahasa Melayu ini telah menjadi lingua-franca bagi seluruh bangsa-bangsa di kepulauan Nusantara, sesungguhnya merupakan suatu hasil keharusan sejarah, pertama-tama dan terutama karena dituntut oleh perkembangan sejarah kehidupan perekonomian bangsa-bangsa se-Nusantara itu.


Watak dan latar belakang politik

Secara selintas telah dikemukakan di atas tentang sejarah lahirnya bahasa nasional dan latar belakangnya, sebagai suatu bahasa baru yang tumbuh dan berkembang dari bahasa Melayu Pasar. Karena proses sejarah yang demikian itulah pula apabila bahasa Melayu memiliki, sebagaimana yang kemudian ternyata, watak-watak khas dan istimewa, dibandingkan dengan bahasa-bahasa daerah atau sukubangsa yang lain dan mana pun di Indonesia.

Bahasa yang berasal dari kerajaan Melayu Lama itu dalam banyak hal mampu menanggalkan ketegaran watak feodal, dan sebaliknya memiliki unsur-unsur watak demokratis. Berbeda dengan bahasa Jawa yang didukung oleh sukubangsa terbesar di Indonesia. Tetapi, walaupun demikian, sebagai akibat “adanya garis-garis batas antara klas-klas masyarakat tinggi dan rendah”, demikian Thomas Stamford Raffles, “maka penduduk di pulau-pulau Jawa, Madura dan Bali, di samping mengenal bahasa-bahasa ngoko, kromo, mereka juga mengenal bahasa kawi, yaitu bahasa puitik atau bahasa klasik.[5]

Untuk memperoleh gambaran tentang seberapa luas dan dalam watak masyarakat Jawa feodal yang anti demokrasi itu tersirat di dalam bahasanya, perlu diketahui tentang adanya tatakrama yang mutlak berlaku dalam bahasa Jawa. Pada pokoknya ada 4 (empat) tingkat-tingkat tatakrama bahasa Jawa: (1) ngoko, (2) madya, (3) krama , dan (4) bagongan atau bahasa istana.[6]

Secara negatif Perang Salib telah “mematikan” Venesia sebagai kota pelabuhan transito benua Eropa, untuk barang-barang dagangan hasil bumi negeri-negeri Timur Dekat dan Timur Jauh. Tetapi sebaliknya secara positif peperangan itu sendiri telah “memperluas cakrawala”, baik bagi dunia Timur maupun bagi dunia Barat. Perang Salib telah mendorong perdagangan negeri-negeri Barat ke negeri-negeri di sebelah timur Laut Tengah.[7]

Sebagai bangsa bahari tua yang bertanahair subur, maka sudah sejak ratusan tahun lalu bangsa Indonesia menjadi subjek sederajat dalam hubungan antarnegara dengan negeri-negeri tetangganya di benua Asia dan Afrika. Tetapi sejak Perang Salib berakhir, bersamaan dengan waktu dengan ekspansi Islam ke timur serta ke barat, juga negeri-negeri Eropa di seberang Laut Tengah dan di sepanjang pesisir Lautan Atlantika, malahan juga Amerika dan Jepang di timur, semuanya mulai mengadakan hubungan langsung dengan Indonesia.[8]

Dalam pada itu Indonesia perlahan-lahan mulai dan semakin terdesak dalam hubungan antarnegara itu, khususnya terhadap negara-negara Eropa. Lumpuh dari kedudukannya sebagai subjek, dan berubahlah menjadi objek. Arus-balik telah bertiup ke Nusantara, dari barat, timur dan utara, lalu berpadu dalam arus puting-beliung dan menyeret Indonesia dalam mata-pusaran sejarah dunia. Dan bersamaan dengan proses tersebut syarat-syarat baru sudah diciptakan bagi perkembangan bahasa Indonesia, sebagai bahasa nasional dari suatu bangsa. (bersambung)

*) Hersri Setiawan adalah seorang penulis dan sastrawan Indonesia. Pernah menjadi Ketua LEKRA Cabang Jawa Tengah dan anggota Front Nasional. Beberapa karyanya yang terkenal adalah “Memoar Pulau Buru (2004)” dan “Negara Madiun? Kesaksian Soemarsono Pelaku Perjuangan (2003)”.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut