Presiden Venezuela Usir Tiga Diplomat AS

Presiden Venezuela Nicolas Maduro memerintahkan pengusiran seorang diplomat AS dan dua orang pegawai kedutaan AS di Venezuela karena diduga melakukan konspirasi dengan oposisi  ‘ekstrem kanan’.

“Keluar dari Venezuela. Yankee pulang. Cukup sudah pelanggaran terhadap martabat tanah air kami yang menginginkan perdamaian,” kata Nicolas Maduro dalam sebuah acara TV, Senin (30/9/2013) sore.

Ketiga pejabat AS yang diusir itu adalah chargé d’affaires Kelly Keiderling dan dua pegawai kedutaan, Elizabeth Hunderland dan David Mutt. Ketiganya diberi batas waktu 48 jam untuk meninggalkan Venezuela.

Ketiga diplomat AS itu dituding bertemu dengan oposisi sayap kanan Venezuela dan mendanainya dalam rangka aksi sabotase sistem layanan listrik dan ekonomi Venezuela.

“Kami telah mengawasi beberapa pejabat di Kedutaan Besar AS di Caracas…Saya punya bukti (konspirasi) mereka,” kata Nicolas Maduro.

Presiden Nicolas Maduro berulangkali menyatakan pemadaman listrik dan kelangkaan bahan pangan tahun ini merupakan usaha oposisi untuk mensabotase ekonomi Venezuela dan mengacaukan negeri Bolivarian tersebut.

Lebih lanjut Maduro menambahkan, pihaknya tidak peduli dengan respon dari pemerintahan Obama. Ia mengatakan, “Kami tidak akan mengijikan pemerintahan imperialis datang ke sini dan memberi uang untuk menghentikan operasional perusahaan dan mensabotase listrik untuk mematikan Venezuela.”

Menanggapi tuduhan itu, pihak Kedutaan AS di Caracas menyatakan “menolak sepenuhnya tuduhan pemerintah Venezuela terhadap pemerintah AS terlibat dalam setiap konspirasi untuk mendestabilisasi pemerintahan Venezuela.”

Pihak kedutaan AS juga mengklaim, perjalanan terakhir Keiderling, Moo dan Hoffman masih dalam rangka tugas diplomatik resmi. Selain itu, kedutaan AS juga mengaku memelihara hubungan secara reguler dengan semua spektrum politik di Venezuela, termasuk partai pemerintah.

Hubungan Venezuela-AS mulai memburuk sejak era Presiden Hugo Chavez, yang menuding keterlibatan AS dalam upaya kudeta terhadap pemerintahannya pada tahun 2002. Sejak tahun 2010, kedua negara tidak saling menempatkan Dubes.

Kecaman Di Sidang Umum PBB

Sementara itu, pada hari Jumat (27/9) lalu, Menlu Venezuela Elias Jaua juga berbicara di Majelis Umum PBB di New York. Di sana ia mengeritik AS dan sekutunya sebagai ‘elang perang’ yang ‘membajak’ Dewan Keamanan PBB.

“Kami di sini untuk melaporkan penculikan,” katanya, yang menuding AS telah menculik PBB. Ia juga mengulang pernyataan koleganya Presiden Bolivia Evo Morales, yang meminta agar markas PBB dipindahkan ke tempat di mana ‘semua bangsa dihomarti’.

Menlu Elias Jaua juga menuduh AS telah berusaha menghalangi delegasi Venezuela untuk menghadiri pertemuan Majelis Umum PBB dengan tidak memberinya visa masuk.

Sementara Presiden Evo Morales, di Sidang Umum PBB, menyerukan perlunya ‘pengadilan bangsa-bangsa’ (tribunal of the people) dengan badan-badan internasional dan pembela hak asasi manusia besar (terlibat) untuk memulai gugatan terhadap pemerintah Obama.

Morales mengeritik kebijakan AS terkait  “pembajakan udara” dengan larangan terbang di atas wilayah Amerika atau membatasi jumlah visa untuk delegasi dari negara yang tak disukai. “Kadang-kadang, mereka membatasi visa kami,” kata Morales.

Kecaman terhadap AS juga datang dari Presiden Brazil, Dilma Roussef, terkait kegiatan mata-mata yang dilakukan pemerintahan AS terhadap Brazil.

Langkah Dilma ini diambil menyusul serangkaian laporan stasiun Globo TV di Brazil yang merinci program NSA di negara itu. Diantaranya: penyadapan komunikasi Presiden Dilma dengan para stafnya. NSA juga meretas jaringan komputer perusahaan minyak negara Brazil, Petrobas. Tak hanya itu, NSA mengambil data dari miliaran email dan percakapan telpon di seluruh Brazil, yang merupakan pusat kabel serat optik trans-Atlantik.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut