Pahlawan dan Bangsa

Tahukah anda, bahwa Indonesia sekarang mempunyai 184 jumlah pahlawan nasional, yang merupakan jumlah terbanyak di seluruh dunia. Amerika serikat hanya mempunyai sekitar 50-an pahlawan nasional, sementara negara lain juga hanya mencatat jumlah puluhan.

Namun, ironisnya, meskipun pemerintah Indonesia sangat “royal” memberi gelar pahlawan, namun masih banyak sekali pejuang atau orang yang sangat berbakti dalam perjuangan pembebasan nasional tidak mendapatkan gelar pahlawan. Karena alasan-alasan politik, seperti komunisto-phobia dan de-sukarnoisme, sebagian besar pahlawan itu dilempar keluar dari panggung sejarah perjuangan bangsanya.

Sebaliknya, dari jumlah pahlawan yang sangat besar itu, hanya sedikit sekali yang benar-benar “pahlawan” pembebasan nasional. Sebagian besar diangkat pahlawan karena bekas tentara, pernah menjadi birokrat, atau tokoh masyarakat. Ini tidak terlepas dari “tafsiran sempit” mengenai pahlawan nasional, juga karena rejim berkuasa sangat pintar untuk menggelapkan sejarah.

Orde baru berkontribusi besar dalam “penyempitan tafsir” terhadap defenisi pahlawan nasional ini. Sudah menjadi kelaziman di jaman Soeharto, bahwa tentara yang meninggal akan dimakamkan di taman makam pahlawan. Selain itu, tokoh-tokoh politik atau birokrat yang berpengaruh dan punya kedekatan intim dengan kekuasaan, akan sangat mudah mendapatkan promosi gelar pahlawan.

Akibatnya, tokoh-tokoh besar dalam sejarah pembebasan nation Indonesia, seperti Amir Syarifuddin, Tan Malaka, Wikana, Semaun, Alimin, Haji Misbach, Mas Marco Kartodikromo, dan masih banyak lagi, justru tidak ada dalam daftar pahlawan nasional sampai sekarang ini. Bahkan, Tirto Adhisuryo, yang merupakan salah satu penggagas atau perintis kesadaran nation itu sendiri, baru diangkat menjadi pahlawan nasional tahun 2006 lalu.

Ada beberapa masalah dalam penyusunan pahlawan nasional saat ini; pertama, sebagian besar yang digelari pahlawan adalah hasil dari medan perang atau perang fisik, sementara penyair, penulis, wartawan, pengajar/pendidik, ilmuwan sangat sedikit yang dinobatkan sebagai pahlawan. Begitu juga dengan perempuan, jumlahnya bisa dihitung jari yang disebut pahlawan. Pahlawan bangsa Kuba, Jose Marti, adalah seorang penulis dan penyair, namun gagasan dan keterlibatannya sangat besar dalam membangkitkan perjuangan pembebasan melawan penjajahan Spayol.

Kedua, Pahlawan nasional sangat identik dengan mantan pejabat negara, terutama sekali Presiden, ataupun tokoh-tokoh masyarakat. Akibatnya, setiap tahun kita mendapatkan ratusan ribu proposal pahlawan, yang sebagian besarnya adalah mantan birokrat, militer, atau tokoh masyarakat.

Terkait dengan Soeharto, yang akhir-akhir ini hendak dipaksakan menjadi pahlawan nasional, bagi kami, adalah sebuah pengingkaran dan sekaligus membalikkan arti-penting perjuangan pembebasan nasional itu sendiri. Sebab, dengan melakukan kudeta merangkak terhadap Bung Karno, Soeharto telah mengakhiri pembangunan nation dan penuntasan revolusi Indonesia; masyarakat adil dan makmur. Soeharto justru mengundang negeri-negeri imperialis untuk merampok Indonesia, terutama kekayaan alam, tenaga kerja, dan pasarnya. Soeharto juga merupakan “pencoleng” uang negara dan mewariskan “birokrasi korup” hingga saat ini.

Dan, sebetulnya, apa yang dibutuhkan bukanlah mendaftarkan begitu banyak pahlawan, melainkan bagaimana menurunkan nilai kepahlawanan itu kepada seluruh bangsa; dan karenanya, setiap orang dapat meneladani perjuangan para pahlawan, mengabdi kepada bangsa dan kemanusiaan, dan membela kaum tertindas! Karena itu, sangat penting pula untuk menuntut agar sejarah diluruskan dan dikembalikan sesuai rel-nya. Sebab tanpa pelurusan sejarah dan pengungkapan kebenaran, maka cerita-cerita kepahlawanan itu akan diselimuti kebohongan.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut