Presiden Venezuela: Saya Bangga Disanksi oleh Donald Trump

Pada hari Senin, 1 Agustus 2017, pemerintah Amerika Serikat (AS) memberlakukan sanksi ekonomi khusus kepada Presiden Venezuela, Nicolas Maduro.

Di bawah sanksi itu, semua aset Presiden Maduro yang berada di dalam yurisdiksi AS dibekukan. Tidak hanya itu, orang atau badan usaha Amerika dilarang berbisnis dengan dia.

“Dengan menghukum Maduro, Amerika memperjelas posisinya terhadap rezimnya (Maduro) dan dukungan kami kepada rakyat Venezuela yang sedang berjuang mengembalikan demokrasi,” kata Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin, seperti dikutip Reuters, Senin (1/8/2017).

Menghadapi sanksi AS tersebut, Presiden Nicolas Maduro tidak merasa ciut. Malahan, Presiden ke-65 Venezuela itu menantang balik pemerintahan Donald Trump.

“Anda memaksakan sanksi apapun, saya tetap pemimpin dari sebuah rakyat yang merdeka,” kata Maduro, seperti dikutip teleSUR, Senin (1/8/2017).

Maduro menganggap sanksi AS tersebut sebagai “serangan imperialis” dan upaya paksa mereka untuk campur tangan dalam urusan dalam negeri Venezuela.

“Kenapa mereka menghukum saya? Karena saya menyelenggarakan Pemilu demokratis yang memungkinkan rakyat secara bebas memilih Majelis Konstituante Nasional,” jelasnya.

“Saya bangga jika disanksi oleh tuan imperialis, Donald Trump,” tegasnya.

Mantan sopir bus ini menegaskan, Venezuela tidak akan mundur dengan Majelis Konstituante-nya kendati diperhadapkan dengan tekanan dari AS.

“Venezuela tidak bisa dibungkam, tidak seorang pun dapat menghentikan Majelis Konstituante,” tegasnya.

Jauh-jauh hari, Presiden AS Donald Trump menyatakan ketidaksetujuannya dengan pemilihan Majelis Konstituante di Venezuela.

“Amerika tidak akan diam membiarkan Venezuela runtuh. Jika rezim Maduro memaksakan Majelis Konstituante pada 30 Juli, Amerika akan mengambil tindakan ekonomi yang keras,” kata Trump.

Seperti dikutip Reuter, seorang pejabat Gedung Putih menyatakan bahwa pemerintahan Trump akan memberlakukan sanksi terhadap sektor energi Venezuela, termasuk perusahaan minyak PDVSA (perusahaan minyak negara Venezuela).

Pemilu Majelis Konstituante berlangsung sukses hari Minggu (30/7) kemarin. Jumlah pemilih di luar dugaan, yakni 8,089,4320 orang atau 41,5 persen dari total rakyat Venezuela yang punya hak pilih.

Media-media barat menuding, pemilu Majelis Konstituante hanya diikuti oleh pendukung Maduro. Faktanya, jumlah pemilih Pemilu Majelis Konstituante lebih banyak dari perolehan suara Maduro dalam pemilu 2013 lalu yang hanya  7,587,579 orang.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut