Bung Pice Jehali: Berjuang Di Parlemen Adalah Pilihan Taktik

“Hidup memang harus memilih, karena mereka yang tidak berani memilih akan tergilas perputaran roda kehidupan.”

Sebuah filosofi kehidupan yang begitu mendalam dan tegas. Sebuah filosofi kehidupan yang mensyaratkan keberpihakan pada mereka yang terus terpinggirkan secara struktural baik ekonomi maupun politik, sebagai cerminan jalan hidup yang telah diambil oleh Pice Jehali, atau Pice demikian biasa ia dipanggil, disatu sore ketika ditemui Tim Redaksi Berdikari Online di satu tempat. Sebungkus Rokok A-mild Merah tergeletak di meja ditemani beberapa cangkir kopi yang tersaji yang masih mengepulkan asapnya pertanda baru saja terseduh. Kepulan asap dan seruputan kopi seakan memacu adrenalin seorang bapak dari seorang gadis kecil yang dengan manja terus menggelayut dalam dekapan kasih sayangnya, untuk terus menumpahkan gagasan, ide dan cita-cita yang harus ia keluarkan ketika manyambut kami. Berambut ikal layaknya khas pemuda-pemudi dari Indonesia bagian Timur ini, Pice terus mengobrol dengan kami.

Maju menjadi caleg, baginya bukanlah sesuatu yang muncul secara tiba-tiba atau karena sudah bosan dengan gerakan ekstra parlemen. “Ini adalah hasil evaluasi dari  perjalanan panjang yang telah kami  lakukan,” demikian ia ungkapkan.

“Kami pernah menolak pemilu, karena menganggap pemilu hanya akan dijadikan alat daur ulang kekuasaan lama, yang secara substansi tidak akan menghasilkan perubahan apa-apa bagi rakyat,” sambil terus mengepulkan asap dari sela-sela dua bibirnya.

“Dan sekarang kami ikut pemilu”

“Tapi ini bukan berarti kami percaya sepenuhnya bahwa pemilu satu-satunya cara yang akan mampu menjawab dan menyelesaikan semua problem yang dihadapi rakyat, atau menjadikan ini sebagai tujuan, TIDAK.”

Ini masih kelanjutan  dari perjuangan kami, ini adalah bagian dari taktik perjuangan untuk semakin memajukan perjuangan rakyat. Kami banyak belajar dari pengalaman yang terjadi di tempat lain,” tegasnya.

Tanah Leluhur

Kurang lebih empat puluh tahun lalu, tepatnya pada tanggal 20 Juni 1973 di Manggarai Nusa Tenggara Timur, seorang bayi mungil dilahirkan dari hasil buah kasih sayang sepasang suami-istri yang bernama Daniel Jehali dan Lusia Nilud yang berprofesi sebagai petani. Sebuah mata pencaharian yang biasa ditempuh oleh penduduk setempat hingga saat ini. Ditangan dan pangkuan kasih sayang dari kedua orang tuanya tersebut, Pice kecil menjalani hidup.

Tumbuh dan besar ditengah lingkungan masyarakat yang masih memegang teguh nilai-nilai warisan budaya masyarakat terdahulu, meskipun dalam suasana lingkungan yang gersang dan tandus, Pice kecil terus tumbuh untuk mendapatkan tempaan lingkungan. Solidaritas antar sesama warga, gotong royong dan saling membantu sesama untuk saling meringankan beban hidup, yang tercermin dalam upacara adat pernikahan maupun adat kematian, yang merupakan warisan leluhur, masih terus bertahan hingga saat ini.

Meskipun hidup dalam suasana dan lingkungan masyarakat pertanian, ide-ide kamajuan dengan mengutamakan pendidikan bagi anak-anak Manggarai, bukanlah hal yang aneh. Ujung Pandang, nama kota Makassar kala itu, merupakan daerah tujuan yang diimpikan oleh setiap anak dan keluarga yang ada di desa tersebut. Semiskin apapun penduduk Manggarai, ketika kita tanyai apa cita-cita mereka, pasti akan dijawab dengan SEKOLAH. Makasar adalah kota yang selalu menjadi dambaan cita-cita mereka.

Budaya Kumpul Kope atau Nempung, sebuah budaya upacara pelepasan bagi anak-anak Manggarai yang akan melanjutkan pendidikan keluar daerah, dimana masing-masing dari mereka yang secara langsung maupun tidak memiliki ikatan darah kekeluargaan dengan jalan memberikan sumbangan baik finansial  maupun bahan makanan, merupakan cermin dari sifat kekerabatan yang terus dipelihara oleh masyarakat setempat. Budaya kekerabatan tersebut terus mereka bawa hingga keluar daerah dimana mereka tinggal. Tidaklah mengherankan ketika dalam satu rumah tangga warga Manggarai ditumpangi oleh seseorang yang secara tidak langsung mempunyai ikatan darah kekeluargaan. Bisa jadi mereka menampung seseorang yang berstatus saudara jauh. Inilah cerminan sifat kegotongroyonagn mereka.

Persinggungan dengan Dunia Gerakan

Tidak mengherankan jika pada akhirnya Pice yang sudah tumbuh menjadi seorang laki-laki dengan tinggi badan yang diatas rata-rata masyarakat Indonesia pada umumnya serta rambut ikal khas pemuda dari Indonesia bagian Timur, menginjakan kakinya di Makasar Ibu Kota Ujung Pandang pada tahun 1993. Setelah menyelesaiakan seluruh tahapan pendidikan dasar hingga menengah di tanah leluhurnya dan lulus dari SMA Katolik Manggarai, kota Makasar menjadi daerah tujuan selanjutnya dalam hidupnya. Masuk menjadi mahasiswa Fakultas Ekonomi, Universitas 45 Makasar, kemudian pindah ke Fakultas Hukum Universitas Veteran (UVRI) Makassar hingga akhirnya dia mampu merengkuh sarjana pada tahun 2004.

Bergabung dengan PMKRI (Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia) ditahun ketiga masa kuliahnya, menyeret dia untuk terlibat dan bersinggungan langsung dengan gerakan radikal mahasiswa melawan Soeharto yang mulai bertumbuh subur kala itu. Rapat-rapat Front yang digalang gerakan mahasiswa maupun PRD yang juga melibatkan anggota dan simpatisan PDI Megawati di Makasar inilah yang kemudian mempertemukan dirinya dengan seorang gadis yang pada akhirnya menjadi belahan hatinya.

“Pertamakali kami pertamakali terjadi di rapat-rapat front,” demikian ungkapnya. “Yah, hanya sebatas kenal aja”.

Dari kerja-kerja Front inilah, keberpihakan dan ideologisasi Pice dewasa terus bersemai dan menemukan muaranya. Tidak aneh jika dalam perjalanan hidup selanjutnya banyak diwarnai dengan kerja-kerja pengorganisiran petani sambil merenda cinta yang tengah mekar saat itu. Wahida Baharudin Upa, seorang gadis yang tumbuh dalam terpaan gerakan perlawanan, berhasil ia sunting pada tahun 2001. Seorang gadis kecil, cantik dan ceria, yang terus menemani pertemuan sore itu merupakan bukti cinta kasih mereka berdua selama ini.

Setahun setelah resmi tergabung di PRD, pada tahun 2000 ia dan beberapa aktifis lainnya menggagas pendirian Lembaga Bantuan Hukum Rakyat (LBH Rakyat), yang sejak awal pendiriannya memang di maksudkan untuk memberikan bantuan hukum dan pendampingan pada kasus-kasus rakyat yang memang marak saat itu. Di dalam lembaga ini pula yang semakin mendekatkan dan mengantarkannya langsung untuk terjun dalam berbagai macam kasus-kasus yang di hadapi rakyat, dari kasus PHK buruh di Kawasan Industri Makassar (KIMA), kasus petani Wajo, kasus petani maros, kasus lonsum, sampai penggusuran pedagang kaki lima dan pemukiman rakyat miskin di Makasar.

Pengalaman dalam mengadvokasi kasus-kasus yang menimpa rakyat, semakin menumbuhkan keyakinannya “bahwa penindasan itu memang ada, dan rakyat harus bersatu, membangun organisasinya untuk bisa mempertahankan hak-haknya,” tegas Pice.

Dan sebagai konsekwensi dari aktivitasnya, berkali-kali ancaman, teror sampai dinginnya ruang tahanan sudah dia rasakan. Tapi itu tidak lantas membuat dia surut. Sebaliknya, membuat dia makin yakin kebenaran jalan hidup yang dilakoninya. Karena menurutnya, sebaik-baiknya manusia, adalah mereka yang bisa memberikan manfaat untuk orang banyak.

Tahapan Baru Perjuangan

“Pilihan untuk menjadi CALEG Propinsi dari DAPIL Makasar 1 melalui Partai Gerindra harus dilihat sebagai sebuah kelanjutan dari perjuangan. Jangan dipisahkan dengan apa yang telah kami lakukan selama ini dengan tahapan pencalegan,” demikian ia ungkapkan.

Menurutnya, adalah hal wajar, jika saat ini ada pihak yang pesimis melihat pemilu. Selain karena praktek politik yang kurang sehat, juga karena maraknya pemberitaan kasus yang menimpa politisi yang membuat rakyat semakin tidak yakin akan lahir perubahan dari pemilu. Tetapi menjauh dari gelanggang politik pemilu, artinya sama juga membiarkan mereka-mereka akan semakin mudah menguasai lembaga politik dan semakin mendominasi. Karena menurutnya panggung politik pemilu, adalah tempat bagi semua spektrum politik untuk mengekspresikan dan memperjuangkan apa yang menjadi cita-cita dan gagasannya.

Dia berharap, rakyat tidak lagi terjebak pada politik transaksional. Tetapi memilih calon yang benar-benar mereka kenal dan punya rekam jejak perjuangan membela kepentingan rakyat. Karena itu dia mengajak rakyat untuk menilai calon dari program dan gagasan yang disampaikan, sebelum menentukan pilihan, bukan apa yang diberikan. Karena bisa jadi mereka akan mengambil lebih besar hak kita dari apa yang telah mereka berikan.

Sebuah upaya sederhana yang akan ia kerjakan seandainya dirinya terpilih nanti, yaitu peningkatan anggaran pendidikan dan kesehatan untuk rakyat, memperjuangkan lahirnya peraturan daerah yang melindungi pasar tradisional dan pedagang kecil,  dan aturan yang melindungi pemukiman masyarakat miskin di Makassar. Dan tentu saja, ia tak akan meninggalkan kerja-kerja pengadvokasian yang selama ini ia kerjakan.

Dengan menjadi anggota Dewan, akan menambah keluwesan gerak untuk menjangkau bagi mereka yang membutuhkan,” demikian ia ungkapkan.

Selain program tersebut diatas, Pice Jehali, SH  menawarkan konsep kontrak politik. Sehingga rakyat bisa menyusun dan menawarkan apa yang menjadi kebutuhan mendesak mereka, yang akan di perjuangkan jika calon yang di dukung terpilih. “Ini lebih mengikat, jika kemudian hari ternyata calonnya ingkar, silahkan di laporkan ke partainya dengan menunjukkan bukti kontrak politiknya dan publikasikan ke media untuk menghukumnya,” ujarnya.

Kelik Ismunanto

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut