Petani Lampung Tengah Masih Mogok Makan

Sudah 23 hari petani Lampung Tengah menggelar aksi pendudukan di depan kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) Lampung. Namun, sampai berita ini diturunkan, pihak BPN tidak juga merespon tuntutan petani.

Petani pun memutuskan menggelar aksi mogok makan. Sebanyak 40 petani berpartisipasi dalam aksi mogok makan ini. Aksi mogok makan itu dimulai sejak 4 hari yang lalu.

“Kita tidak akan menghentikan aksi mogok makan ini sampai pihak BPN merespon tuntutan petani,” kata Ahmad Muslimin, aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD) yang mendampingi aksi petani.

Sampai hari ke-4 ini, 9 orang peserta mogok makan mengalami kondisi kritis. Bahkan seorang peserta mogok makan dilarikan ke rumah sakit. “Kita meminta 9 peserta mogok makan yang sudah sangat kritis ini untuk menghentikan aksi,” ujar Ahmad Muslimin.

Sedangkan 31 orang peserta mogok makan lainnya terus melanjutkan aksi. Mereka menuntut agar BPN segera merealisasikan tuntutan petani: menerbitkan SK terkait pengembalian lahan petani.

Sedangkan 70-an petani yang tidak menggelar aksi mogok makan tetap bertahan di bawah tenda-tenda darurat. Kondisi kesehatan mereka juga makin menurun akibat cuaca dan kondisi buruk di tenda pendudukan.

Hari ini, kata Ahmad Muslimin, BPN Lampung dikunjungi oleh DPD RI. Akan tetapi, agenda kunjungan itu sangat tertutup. Tidak sosialisasi atau pemberitahuan perihal pertemuan itu.

Sementara itu, seorang petani Lampung Tengah, bapak Misbach, diduga melakukan aksi bunuh diri akibat tidak terangnya penyelesaian kasus konflik agraria ini. Ia kecewa dengan sikap BPN dan pemerintah yang tidak mempedulikan perjuangan petani.

Sebelum melakukan aksinya, Pak Misbach menelpon adiknya, Fauzi, yang terlibat aksi pendudukan di depan BPN. Mendapat jawaban dari Fauzi terkait belum terangnya penyelesaian kasus, Pak Misbach pun memunculkan keinginannya melakukan bunuh diri sebagai bentuk protesnya.

Aktivis PRD, yang mengetahui rencana pak Misbach itu, berusaha mencegah. Sayang, pak Misbach berada di kampung Surabaya, Lampung Tengah, dan sangat jauh dari lokasi aksi pendudukan. Sehingga aksinya itu tidak sempat dicegah. Ia pergi memilih jalan bunuh diri sebagai bentuk perjuangannya yang terakhir.

“Aksi (bunuh diri) ini pertanda Rakyat Indonesia belum menikmati kehidupan sebagaimana dituangkan dalam Pasal 33 UUD 1945,” kata Misbach di ujung telpon sebagaimana dituturkan oleh Fauzi.

Bapak Misbach sendiri punya 3700 meter persegi. Tanah itu, sejak tahun 1970an, dikuasai oleh PT. Sahang. Pak Misbach sendiri sudah bertahun-tahun berjuang untuk merebut kembali hak-haknya tersebut.

SADDAM CAHYO

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • bung fendi

    penyelesaian konflik agraria harus dengan penyatuan kekuatan para petani di seluruh daerah, tp alangkah lebih baik jika penggabungan multi sektor..
    konfilik agraria merupakan perjuangan perlawan rakyat secara langsung melawan Investor asing..
    saya sangat suport dgn perjuanagn kwn2..
    tetap semangat buat kawan2 di sana yg sedang melakukan perlawanan..