Ngopi Pagi: “Perlunya membangun solidaritas”

Tadi pagi, saat asyik-asyik menikmati secangkir kopi panas di kantor Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta, Mas Ngateman tiba-tiba muncul. Wajahnya tak lagi berseri-seri sebagaimana biasa. Namun dari pancaran bola matanya dapat saya pastikan, api semangat juang itu masih berkobar.

Mas Ngateman ini, satu dari 22 anggota Serikat Karyawan (Sekar) Indosiar yang masih konsisten memperjuangkan haknya. Mereka tidak terima begitu saja ketika tempo hari di-PHK oleh perusahaan. Mereka yakin tak ada perjuangan yang sia-sia.

Berbagai cara ditempuh. Mulai dari perundingan, aksi massa turun ke jalan hingga ke meja hijau. Setelah melalui tahapan demi tehapan, kemarin, Selasa (5/10), hakim membacakan putusan sidang PHI itu.

“Gimana putusan kemarin, mas?” tanya saya. Dia tak langsung memberi jawaban. Keningnya mengkerut. Air mukanya berubah keruh. Saya mencium aroma kerisauan. Kabar buruk nih, pikir saya dalam hati. Dan saya hanya bisa memahami. Tak mau mengusik lebih dalam.

Sejurus kemudian, setelah terdiam sesaat Mas Ngateman angkat bicara.

“Kalah, mas.”

Sewaktu sidang kemarin, dia menceritakan, penjagaan ketat sekali. Aparat kepolisian berjaga di dua kantor Indosiar. Di pengadilan, juga banyak aparat berjaga-jaga. Bahkan hakimnya dikawal ketat oleh aparat.

“Kesannya kami ini mau bikin onar!? Padahal…” dia berhenti sejenak dan geleng-geleng kepala. Saya tak mau menyela omongannya. Diam dan menunggu dia bercerita lagi.

Kami sama-sama menyalakan rokok dan mengambil posisi duduk senyaman mungkin di sekitar pintu ruang rapat AJI Jakarta. Di balik kepulan asap, bibir Mas Ngateman mulai berkata-kata lagi.

“Buruh memang harus bersatu,” katanya tanpa menoleh ke arah saya.

“Cocok. Saya sangat setuju…”

“Saya masih ingat betul, ketika aksi May Day kemarin. Ketika ribuan kaum buruh turun ke jalan, kaum pemodal getar-getir itu. Nah, sekarang ini kaum buruhnya berjuang sendiri-sendiri bila terbentur masalah. Susah menang! Melawan kaum pemodal itu harus dengan persatuan kaum buruh rupanya,” tandasnya.

Saya lantas terbayang dua hal. Pertama, apa yang ditulis Karl Marx dan Engels dalam MPK, buku tebal yang saya pelajari ketika duduk di bangku kuliahan dulu. Buku itu mendudukan hubungan industrial antara pemodal dan pekerja. Pada bab penutupan, tertulis besar-besar kalimat: KAUM BURUH SEDUNIA BERSATULAH!

Kedua, saya terbayang sepak terjang anak-anak muda yang di awal tahun 90-an berkecimpung dalam Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID). Kebetulan kisah-kisah yang dilakoni anak-anak SMID ini sedikit banyak saya himpun untuk dijadikan skripsi.

Perlu digarisbawahi, SMID ini punya peran besar dalam membuka kembali kran demokrasi yang telah lama disumbat rezim Soeharto.

Satu pelajaran yang bisa dipetik dari gerakan mereka ialah solidaritas. Ketika mahasiswa ISTN Jakarta diserang oleh aparat dalam aksi pendudukan kampus (peristiwa subuh berdarah), muncul aksi solidaritas dari berbagai kampus lainnya.

Ketika peristiwa berdarah terjadi di Ujung Pandang, solidaritas pun bermunculan begitu hebatnya dari berbagai penjuru kampus yang dinakhodai anak-anak SMID. Banyak lagi kalau saya urai satu persatu. Solidaritas-solidaritas itu memperkuat barisan perjuangan melawan kewenang-wenangan.  Alhasil, Soeharto bisa tumbang kok!

Nah, hingga hari ini persatuan kaum pekerja ini belum terwujud. Jangankan persatuan, solidaritas pun masih jauh…

“Mas, saya ke PN Jakarta Barat dulu ya. Jam 11 nanti kita sidang perdata. Agendanya mendengarkan keterangan saksi ahli,” Mas Ngateman bermohon diri. Mhhhh…ada sidang PHI ada sidang perdata. Saya baru tahu…

“Selamat berjuang mas! Perjuangan memang tak ada yang sia-sia…”

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut