Peringati HUT ke-17, PRD Lampung Gelar Vergadering

Sedikitnya 400-an anggota dan simpatisan Partai Rakyat Demokratik (PRD) berkumpul di halaman sekretariat Komite Pimpinan Wilayah Partai Rakyat Demokratik (KPW-PRD) Lampung, Senin (22/7/2013).

Siang itu, KPW PRD Lampung sedang menggelar vergadering untuk memperingati HUT ke-17 PRD. Selain dihadiri anggota dan simpatisan PRD, hadir pula tamu undangan seperti perwakilan organisasi pergerakan, tokoh masyarakat, dan warga di sekitar kantor PRD.

Tak hanya itu, acara ini juga dihadiri oleh Walikota Bandar Lampung, Herman HN. Hadir pula akademisi dari Universitas Lampung, Arizka Warganegara. Hadir pula tokoh adat dari Lembaga Adat Megou Pak Tulang Bawang, Wan Mauli Sanggem.

Nyoman Adi Wirawan, aktivis PRD yang menjadi koordinator acara ini, menjelaskan tema acara. Menurutnya, PRD mengusung tema Trisakti, yaitu berdaulat di bidang politik, berdikari di lapangan ekonomi, dan berkepribadian secara budaya, adalah untuk mengingatkan bangsa Indonesia akan praktek penjajahan hari ini.

Acara vergadering sendiri baru dimulai sekitar pukul 16.00 WIB. Acara langsung dibuka dengan pembacaan puisi karya Wiji Thukul berjudul “Peringatan” oleh Saddam Cahyo. Tak lama kemudian, Joni Fadli, salah seorang pengurus PRD Lampung, membacakan sekapur sirih tentang 17 tahun perjalanan PRD.

Acara selanjutnya adalah pidato politik. Pidato politik pertama disampaikan oleh Deputi Politik PRD Lampung, Rakhmad Husein DC. Menurutnya, begitu Indonesia diproklamasikan tanggal 17 Agustus 1945, negara ini sudah punya filosofi dan landasan sistem ekonomi menuju cita-cita masyarakat adil dan makmur.

“Kita sudah punya Pancasila sebagai dasar negara. Kita juga sudah punya pasal 33 UUD 1945 sebagai landasan sistem perekonomian. Yang sekarang ini dibutuhkan adalah persatuan nasional yang berpijak cita-cita proklamasi 17 Agustus 1945,” katanya.

Sementara itu, Walikota Bandar Lampung Herman HN memberikan apresiasinya terhadap perjuangan PRD. “Usia ke 17 tahun bagi sebuah partai politik merupakan wujud dari  kematangan dan konsistensi perjuangan,” ujarnya. “Yang terpenting PRD harus setia pada komitmennya untuk turut berperan aktif membangun masyarakat, terutama di daerah,” tambahnya.

Arizka Warganegara, yang juga menyampaikan orasi politik, menyoroti perlunya partai politik yang mengusung gagasan-gagasan alternatif dalam perjuangan politiknya. Menurutnya, proses transisi demokrasi saat ini memerlukan tipe pemimpin yang kuat. “Pemimpin yang kuat bukanlah yang mempesona citranya, melainkan justru yang cuek terhadap pencitraan dan fokus melakukan kerja nyata bagi rakyat,” katanya.

Acara kemudian ditutup dengan pemotongan tumpeng dan buka puasa bersama.

Saddam Cahyo

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut