Perempuan Kiri Ini Berpeluang Jadi Presiden Peru

Tanggal 10 April mendatang, Peru akan menggelar Pemilihan Umum (Pemilu). Ada lima kandidat yang akan bersaing ketat memperebutkan suara 20 juta pemilih.

Dari lima kandidat itu, ada satu kandidat yang cukup mencuri perhatian. Dia adalah Veronika Mendoza, seorang anggota Kongres periode 2011-2016. Veronika diusung oleh koalisi kiri yang disebut Front Luas (Broad Front).

Verovika adalah Capres termuda di Pilpres Peru kali ini. Dia baru berusia 35 tahun. Kendati begitu, kematangan politiknya tidak diragukan lagi. Sejak deklarasi pencapresannya di tahun 2015 lalu, popularitas Veronika terus melejit.

Jajak pendapat Ipsos menempatkan Veronika di urutan ketiga dengan perkiraan suara 12 persen. Sedangkan tempat pertama ditempati oleh anak Diktator Peru Alberto Fujimori, Keiko Fujimori, dengan perkiraan suara 32 persen. Sedangkan tempat kedua ditempati oleh bekas ekonom IMF/Bank Dunia, Pedro Pablo Kuczynski, dengan 16 persen suara.

Sementara jajak pendapat Datum International, yang dirilis pada Jumat (1/4) lalu, memperkirakan Veronika mendapat 17,3 persen suara dan Pedro dengan 18,6 persen. Keduanya akan bertarung hidup-mati untuk memperebutkan posisi kedua, sekaligus akan menjadi penantang Fujimori di Pilpres putaran kedua.

Dalam kampanye pemilu, Veronika membawa sejumlah agenda progressif, seperti menaikkan belanja publik sebesar 50 persen, membatalkan kesepakatan perdagangan bebas, dan menegaskan kedaulatan Peru di hadapan sektor bisnis.

Di sektor perburuhan, dia menjanjikan kenaikan upah, pembayaran lembur, pekerjaan untuk kaum muda, kompensasi bagi pekerja rumah tangga, dan larangan PHK sepihak.

Dia juga mendorong pengakuan hak masyarakat adat, meninjau ulang kontrak pertambangan yang merugikan masyarakat dan lingkungan, dan penyusunan kembali Konstitusi Peru.

Di mata Veronika, Konstitusi Peru saat ini, yang dibuat di era diktator Fujimori, hanya menjamin hak istimewa segelintir orang dan mengorbankan mayoritas lainnya.

“Kami ingin perubahan yang benar dan mendalam. Kami ingin perubahan radikal,” katanya seperti dikutip teleSUR, Jumat (1/4/2016).

Tak mengherankan, lantaran program yang progressif itu, Veronika mendapat banyak serangan dari golongan kanan dan konservatif di Peru. Dia dicap “anti-tambang” dan “Chavista”—istilah yang disematkan kepada mereka yang dianggap pengikut setia Presiden Venezuela Hugo Chavez.

Tidak hanya itu, Veronika juga harus bersaing dengan kekuatan politik mapan di Peru. Sudah begitu, karena politiknya yang mendukung perkawinan sejenis, Veronika dimusuhi oleh gereja Katolik Peru.

Lalu, dari berbagai jajak pendapat, kandidat yang diunggulkan memenangi Pilpres Peru kali ini adalah Keiko Fujimori. Anak diktator Alberto Fujimori ini diperkirakan menang melalui pertarungan dua putaran.

Namun, bukan berarti pelaung Veronika tidak ada. Berbagai survei menyebutkan, banyak pemilih yang belum memutuskan pilihan politik mereka alias menunggu.

Sebaliknya, sejak Maret lalu, popularitas Keiko menurun akibat gelombang protes yang menentang pencapresannya. Demonstran menganggap pencapresan Keiko ilegal karena melakukan politik uang. Dia juga dikaitkan dengan kediktatoran ayahnya, Alberto Fujimori, yang tidak populer bagi kelas menengah dan kaum terdidik.

Jajak pendapat menyebutkan, 49 persen orang mengaku tidak akan memilih Keiko Fujimori. Sebagian besar orang itu berdiam di kota-kota besar, terutama di ibukota Lima.

Nah, apakah pemilu Peru kali ini akan menjadi penanda baru pasang naik gerakan kiri di Amerika latin? Kita tunggu hasil Pemilu putaran pertama pada 10 April mendatang.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut