Perbudakan Seksual; Utang Sejarah Jepang

“Aku percaya kalian tidak akan suka menjadi korban bangsa apa pun. Juga tidak suka bila anak-anak gadis kalian mengalami nasib malang seperti itu. Artinya, kalian juga tidak akan suka bila ibu-ibu kalian—para perawan remaja pada 1943-1945—menderita semacam itu. Itu sebabnya kukhususkan surat ini pada kalian.”

Buku ini mengisahkan tentang para  perawan negeri ini yang dijadikan budak seks pada zaman pendudukan tentara Jepang, atau orang Jepang sendiri menyebutnya ‘Jugun Ianfu’.

Latar belakang dari kumpulan kisah ini adalah Perang Dunia II. Pada tahun 1941 Jepang menyerang Honolulu-Hawai negara bagian ke-50 Amerika Serikat dari udara, sehingga AS, Inggris, dan Hindia Belanda menyatakan perang terhadap Jepang. Perang ini disebut dengan Perang Pasifik.

Tahun 1942, Jepang menggunakan taktik Jerman untuk meluncurkan serangan kilat ke Asia Tenggara, sehingga negeri-negeri jajahan Barat jatuh ke tangan Jepang, termasuk Indonesia.

Tahun 1943, serangan besar-besaran dilakukan oleh Sekutu di Asia Tenggara sehingga posisi bala tentara pendudukan Jepang yang awalnya agresif menjadi defensif. Hubungan laut dan udara Jepang menjadi sulit, hal ini mengakibatkan Dai Nippon tak bisa mendatangkan wanita penghibur dari Jepang, Cina dan Korea. sebagai gantinya para gadis perawan Indonesia yang dikirm ke garis depan sebagai penghibur dan pemuas nafsu seks bala tentara Jepang.

Data Buku: Judul Buku : Perawan Remaja Dalam Cengkraman Militer Pengarang : Pramoedya Ananta Toer Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) Tahun Terbit : Cetakan Pertama Maret 2001, Jakarta; Cetakan Kesembilan, Oktober 2015
Data Buku:
Judul Buku : Perawan Remaja Dalam Cengkraman Militer
Pengarang : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Tahun Terbit : Cetakan Pertama Maret 2001, Jakarta; Cetakan Kesembilan, Oktober 2015

Jugun Ianfu adalah istilah Jepang terhadap perempuan penghibur tentara kekaisaran Jepang di masa Perang Asia Pasifik. Pada kenyataannya Jugun Ianfu bukan merupakan perempuan penghibur tetapi perbudakan seks yang brutal, terencana, serta dianggap masyarakat internasional sebagai kejahatan perang. Para sejarawan memperkirakan setidaknya 200 ribu perempuan Asia berusia 13 hingga 25 tahun dipaksa menjadi budak seks balatentara Jepang. Mereka diperkosa dan disiksa secara kejam. Dipaksa melayani kebutuhan seksual sebanyak 10 hingga 20 orang tentara Jepang siang dan malam serta dibiarkan kelaparan.

Kisah ini mulai ditulis Pramudya Ananta Tour yang saat itu diasingkan ke pulau Buru kemudian bertemu dengan sebagian kecil dari mereka (jugun ianfu) yang sudah menjadi tua di pulau tersebut. Berdasarkan pengamatan pribadinya disertai kisah-kisah nyata dari sumber yang dapat dipercaya Pram akhirnya membuat catatan tentang penderitaan perempuan-perempuan ini yang kehilangan masa depannya gara-gara tentara Jepang.

Memulai ingatannya, Pram memberikan pesan yang begitu medalam untuk seluruh generasi sekarang , terkhusus kaum perempuan. Beginalah Pram menuliskannya:

….. Kalian para perawan remaja, telah aku susun surat ini untuk kalian, bukan saja agar kalian tahu tentang nasib buruk yang biasa menimpa para gadis seumur kalian, juga agar kalian punya  perhatian terhadap sejenis kalian yang mengalami kemalangan itu. Surat kepada kalian ini juga semacam protes, sekalipun kejadiannya telah puluhan tahun lewat.

Pram menuliskan pada kita sebuah kisah pilu. Kejadian yang menyadarkan kita akan bau bangkai terpendam dari era pendudukan militer Jepang.

Tahun 1943, terdengar suara sayup dari kekusaan tertinggi  di Jawa pada waktu itu, Pemerintah Balatentara Pendudukan Dai Nippon. Sebuah janji memberi kesempatan untuk belajar pada gadis-gadis Indonesia ke Tokyo dan Singapura. Awalnya kabar itu hanya sebuah desas-desus atau kabar angin, namun kemudian menjadi perintah yang harus dituruti oleh pribumi.

Para gadis Indonesia begitu senang mendengar kabar mengenai niat baik pemerintah Jepang untuk menyekolahkan mereka. Harapan sebagain gadis merasa memiliki kesempatan untuk mempersiapkan diri membaktikan diri untuk tanah air jika kemerdekaan telah tiba. Namun, sebagian dari mereka juga merasa curiga dan bertanya, mengapa tidak ada pemberitahuan ataupun diumumkan secara resmi oleh Pemerintah Dai Nippon tentang rencana itu.

Kelanjutan pekerjaan ini ditangani oleh Sendenbu (Jawatan Propaganda). Janji mempersiapkan rakyat Indonesia ke arah kemerdekaan sesuai dengan kehendak Nippon, generasi muda dididik untuk bisa mengabdikan diri dalam kemerdekaan. Janji ini disampaikan dari Sendenbu ke Pangreh Praja kemudian ke Bupati, Bupati ke Camat, Camat ke Lurah dan seterusnya. Hal ini dilakukan sebagai kesengajaan agar dapat menghilangkan jejak kebiadabannya tersebut yang bisa di sebut sebagai kejahatan perang dan tragedi kemanusiaan.

Para perawan remaja itu meninggalkan kampung halaman dan keluarnya, menempuh pelayaran berbahaya di tengah perang, bukan atas kemauan sendiri tetapi karena ketakutan orangtua mereka terhadap ancaman Jepang. Jepang juga dengan sengaja memilih para perawan remaja yang belum dewasa agar tidak mendapatkan perlawanan dari para remaja yang tidak berdaya itu.

Setelah Perang Dunia II selesai, keberadaan mereka praktis ditelantarkan begitu saja. Mereka tidak mendapatkan perhatian dari Jepang juga tidak dari negeri Indonesia ini. Bahkan oleh keluarganya sendiri pun cenderung dilupakan. Akibatnya, kebeeradaan mereka seperti orang buangan. Sejak kemerdekaan, pemerintah Indonesian tak pernah berupaya membongkar kembali kejahatan Jepang ini. Mereka sudah dianggap hanya bagian sejarah kelam masa lampau yang patut dilupakan.

Keberadaan para perawan remaja era 1940-an ini sebenarnya masih bisa ditelusuri dan masih ada yang hidup hingga tahun 1978  saat Pram mulai menulis buku ini. Beberapa ditemukan berada di pulau Buru tempat tahanan politik kala itu. Awalnya Pram mengetahui hal ini dari informasi para tahan politik yang di Pulau Buru yang sempat bertemu mereka sebelum kemudian menemui mereka secara langsung.

Mereka hidup jauh di bawah taraf peradaban dan kebudayaan asal mereka. Sebagian telah menikah dengan laki-laki dari suku setempat (Pulau Buru) yang kebudayaannya masih sangat tertutup dan terbelakang. Menurut kesaksian beberapa tahanan yang pernah bertemu, mereka sebenarnya merindukan keluarga dan berkeinginan untuk kembali ke Jawa, tapi apa hendak dikata mereka tidak tahu caranya. Bahkan mereka tidak berani berbicara dalam bahasa Jawa dan tidak diperboleh berbicara tentang diri mereka pada orang lain karena dilarang suami.

Lewat kisah ini, Pram coba menceritakan kepada kita tentang nasib bangsa yang pernah dihancurkan oleh bangsa Jepang. Trauma hidup meninggalkan luka batin yang begitu dalam sampai tak kuat lagi berhadapan dengan kehidupan nyata. Tidak sedikit di antara mereka yang telah membuang segala kenangan dengan keluarga dan mengubur harapan untuk kembali menjadi manusia bermartabat.

Buku ini tidak hanya disajikan untuk sekedar dibaca, namun, Pram mencoba sampaikan sebuah sikap protes dan ajakan kepada seluruh remaja Indonesia, terutama kaum perempuan  agar lebih peduli serta merasakan penderitaan  dan pengorbanan mereka para perawan remaja yang telah menjadi korban kejahatan perang. Karena bagaimanapun masalah ini belum diselesaikan oleh pemerintah Jepang. Bahkan untuk sekedar meminta maaf pun belum berkenan.

Pesan yang tertuang dalam buku ini, menjadi catatan penting untuk diketahui oleh genarasi masi kini. Generasi yang selalu asyik dengan pertumbuhan zaman, pemuda yang lebih tertarik pada K-Pop Korea, gadis-gadis yang sibuk dengan tongsis untuk bergaya selfie. Mengajak mereka untuk lebih peduli dan perhatian kepada sejarah bangsanya.

Saat menyelesaikan bacaan ini, satu hal yang membuat saya kesulitan dalam memahami keseluruhan alur cerita ini adalah sejumlah percakapan yang dituliskan dalam bahasa suku-suku Pulau Buru. Bahasa yang sama sekali asing ditelinga saya. Tapi di sisi lain penggunaan Bahasa Buru ini menjaga keautentikan dialog dengan budaya mereka.

Minaria Christyn Natalia, Ketua Umum Aksi Perempuan Indonesia (API )Kartini dan Ketua Bidang Perempuan dan Anak Komite Pimpinan Pusat Partai Rakyat Demokratik (KPP-PRD)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut