‘Perbudakan’ Di Tangerang

Buruh pabrik industri pengolahan limbah menjadi perangkat aluminium terlihat saat Polres Kota Tangerang membuka kasus ini kepada media, Sabtu (4/5/2013).  (Foto: KOMPAS/KRISTIANTO PURNOMO)

Terungkapnya praktek ‘perbudakan’ di sebuah pabrik pengolahan limbah jadi panci aluminium di Tangerang, Banten, membuat banyak diantara kita merinding. Betapa tidak, di negara merdeka yang berdasarkan Pancasila ini, ternyata masih ada praktek menyerupai perbudakan.

Menurut informasi dari berbagai media, sebanyak 35 orang buruh disekap dan dipekerjakan secara tidak manusiawi di pabrik tersebut. Rata-rata berusia 20-an tahun. Empat orang diantaranya bahkan masih berada di bawah umur.

Dari pengakuan para buruh itu diketahui, buruh dipaksa bekerja di bawah tekanan dan diperlakukan tidak manusiawi. Gaji mereka tidak pernah dibayarkan. Padahal, awalnya mereka dijanjikan upah Rp 600 ribu perbulan (sangat jauh dari UMP). Selama bekerja di tempat tersebut, para buruh kerap dipukul, disiram timah panas, disundut rokok, dan disekap.

Yang lebih ironis lagi, seperti pengakuan para buruh, praktek ‘perbudakan’ dibekingi oleh dua oknum anggota Brimob. Kedua anggota Brimob itulah yang menebar ancaman kepada para buruh agar jangan mencoba-coba untuk melarikan diri. Bahkan, seperti dituturkan para buruh, kedua anggota Brimob itu datang ke pabrik dengan menggunakan seragam resmi lengkap dengan senjata apinya.

Akhir April 2013 lalu, masyarakat dunia juga dikagetkan oleh runtuhnya bangunan pabrik tekstil di Dhaka, Bangladesh, yang menyebabkan 400-an buruh meninggal. Kejadian itu juga menyingkap kebiadaban kapitalisme dalam mengeksploitasi kaum buruh. Ternyata, buruh-buruh yang bekerja di bawah kondisi yang buruk itu, di bawah bangunan yang berbahaya, hanya dibayar 38 euro atau Rp 490.000 per bulan.

Paus Fransiskus mengutuk kondisi kerja para buruh di Bangladesh itu sebagai “praktek perbudakan”. “Tidak membayar upah yang adil, tidak memberikan pekerjaan karena Anda hanya melihat neraca keuangan, untuk mencari keuntungan, adalah hal yang bertentangan dengan Tuhan,” kata Paus Fransiskus.

Kejadian di Tangerang maupun di Bangladesh telah menyingkap secara telanjang kebiadaban kapitalisme. Sistem ini, yang hanya mempertuhankan “keuntungan” semata, melegalkan praktek eksploitasi dan penghisapan terhadap umat manusia. Sistem ini telah mensubordinasikan martabat, keselamatan, dan nyawa manusia di bawah logika keuntungan. Di mata kapital, manusia dan alam hanyalah alat untuk mencapai tujuan (keuntungan).

Logika kapital dan logika pembangunan manusia memang selalu bertolak-belakang. Manusia butuh kondisi hidup yang layak, seperti makanan yang bergizi, air bersih, sandang, rumah yang sehat, pendidikan, kesehatan, dan lain-lain, supaya bisa mengembangkan potensinya sebagai manusia. Akan tetapi, demi memaksimalkan keuntungan, kapitalisme menolak semua hal itu dengan mendorong upah murah, ketidakpastian kerja, memangkas jaminan sosial, dan lain-lain.

Dewasa ini dimana-mana, juga di Indonesia, kaum buruh berhadapan dengan sistem kerja kontrak dan outsourcing. Sistem itu membawa kaum buruh dalam kondisi kerja yang buruk: ketidakpastian kerja (rawan PHK), menurunnya posisi tawar buruh, penurunan upah, memburuknya kondisi kerja, tidak mendapat perlindungan sosial, pelemahan serikat buruh, dan lain-lain. Tak heran jika banyak kaum buruh menyebut praktek outsourcing ini sebagai bentuk “perbudakan modern”.

Padahal, jika kita mengingat sejarah pendirian bangsa ini, para pendiri bangsa kita punya mimpi besar, yakni sebuah masyarakat yang adil dan makmur, yang di dalamnya tidak ada lagi exploitation de I’homme par I’homme—penghisapan manusia atas manusia. Itulah mengapa kita diwarisi Pancasila sebagai dasar negara.

Namun, pada kenyataannya, cita-cita pendiri bangsa itu masih jauh dari kenyataan. Bahkan, yang sangat ironis, pemerintah sendirilah yang justru melegalkan praktek eksploitasi terhadap buruh itu. Diantaranya: melalui UU nomor 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan.  Atau, dalam kasus perbudakan di Tangerang, aparat negara justru jadi centengnya.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut