Pemilu Spanyol: Perimbangan Kekuatan Tidak Berubah

Hasil Pemilu terbaru Spanyol, yang diselenggarakan pada Minggu (26/6/2016), tidak banyak mengubah peta dan perimbangan kekuatan politik di negeri Matador.

Partai Popular (konservatif), yang dipimpin oleh Perdana Menteri Mariano Rajoy, tetap meraih suara terbanyak: 33,02 persen atau 137 kursi. Posisi kedua tetap ditempati oleh Partai Sosialis (PSOE) yang meraih suara 22,68 persen atau 85 kursi.

Sementara aliansi partai kiri Unidos Podemos (bersama kita bisa), yang menggabungkan Podemos, Izquierda Unida (persatuan kiri), partai hijau Equo, hanya menempati urutan ketiga dengan perolehan suara 21,1 persen atau 71 kursi.

Posisi keempat ditempati oleh partai liberal pendatang baru, Ciudadanos, yang mendapat suara 13 persen atau 32 kursi. Perolehan suara Ciudadanos ini turun dari pemilu sebelumnya yang mendapat 13,9 persen suara atau 40 kursi.

Hasil pemilu di atas tidak mengubah peta politik pasca Pemilu Desember 2015 lalu. Pertama, tidak ada kekuatan mayoritas di parlemen. Untuk menjadi mayoritas, partai pemenang pemilu mesti mengumpulkan 176 kursi.

Kedua, dua partai dominan, yaitu PP dan PSOE, berhasil mengelak dari kemunduran. Sebaliknya, Unidos Podemos yang diprediksi bisa menggeser PSOE di urutan kedua, justru perolehan suaranya mandek. Ini menunjukkan keberhasilan partai kanan (PP dan PSOE) menghindar dari opensif partai kiri (Unidos Podemos). PP malah berhasil menambah 10 kursi.

Hasil referendum di Inggris, yang menggiring Negeri Kerajaan itu keluar dari Uni Eropa (Brexit), turut mempengaruhi isu-isu politik menjelang pemilu.

Ketiga, tingkat golput yang cukup tinggi, yaitu 30,2 persen, menunjukkan adanya penurunan harapan pemilih akan tawaran masa depan pasca Pemilu. Menurut koran Spanyol El-Pais, ini golput tertinggi pasca Spanyol keluar dari cekikan kediktatoran Franco.

Podemos, yang mewakili harapan baru, menderita banyak kampanye negatif dari lawan-lawannya. Sebagai misal, Perdana Menteri Rajoy dari PP selalu menggambarkan pemilu sebagai pilihan antara kestabilan ekonomi (PP) dan ketidakpastian (Unidos Podemos).

Podemos sendiri cukup kecewa dengan hasil Pemilu ini. “Ini bukan hasil yang diharapkan. Ini tidak baik untuk partai, dan tidak baik untuk negeri. Perubahan politik tidak pernah lineal,” kata Sekretaris Politik Podemos Iñigo Errejon pada konferensi pers, Minggu (26/6/2016).

Meski demikian, Unidos Podemos tidak menyerah. Mereka bertekad terus bekerja untuk mendorong perubahan politik secara radikal di negara berpenduduk 47 juta jiwa itu.

“Kami akan mengevaluasi dampak politiknya setelah melihat hasil akhir (penghitungan suara),” kata Errejon.

Peta Pemerintahan Baru

Kali ini, PP punya banyak peluang membentuk pemerintahan. Pertama, partai kanan pro penghematan ini bisa merangkul partai liberal pendatang baru, Ciudadanos. Kalau koalisi ini terjadi, PP-Ciudadanos masih kurang 7 kursi untuk mayoritas di parlemen. Kekurangan ini bisa dicari dengan merangkul partai kecil dan regional.

Kedua, PP bisa menciptakan koalisi besar dengan Partai Sosialis (PSOE). Tetapi peluang ini kecil, karena pimpinan PSOE, Pedro Sánchez, sudah menegaskan bahwa partainya tidak akan berkoalisi dengan PP.

Namun, banyak analis politik berkeyakinan, PSOE lebih suka membangun koalisi besar dengan PP, atau setidaknya memberikan dukungan pasif kepada partai konservatif itu, ketimbang hidup seranjang dengan koalisi kiri radikal (Unidos Podemos) yang mengancam eksistensinya.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut