Pelajaran Dari Perjuangan Rakyat Bima

“Hantamkanlah kita punya palu godam di atas singgasana kaum kapitalis.” Kata-kata pemimpin sosialis Belanda itu sering dikutip Bung Karno untuk membangkitkan semangat perjuangan rakyat.

Di Bima, Nusa Tenggara Barat, rakyat berhadapan dengan sebuah kekuasaan yang sudah buta dan tuli. Berkali-kali rakyat menggelar aksi massa, bahkan sudah terjadi korban jiwa, tapi pemerintah tetap tidak mau mendengar. Rakyat pun menghantamkan palu godam pada kekuasaan yang anti-rakyat itu: rakyat membakar kantor Bupati, simbol angkuh dari kekuasaan yang menindas itu.

Namun, di mata sebagian orang, aksi pembakaran kantor Bupati itu terkadang disepadamkan dengan aksi vandalisme. Bagi mereka, ada banyak jalan untuk menyelesaikan persoalan itu. Maklum, orang-orang yang berpandangan semacam ini terkadang tidak memahami persoalan secara utuh dan ahistoris.

Rakyat Bima, khususnya di Lambu dan Sape, sangat memeluk tradisi. Dulu, sebelum rakyat mengetahui adanya SK tersebut, Bupati dianggap ‘anak tuhan’. Kalau bupati datang ke desa, maka rakyat akan berbondong-bondong menyambutnya. Bahkan, kata warga Lambu, air cuci kaki bupati pernah diminum oleh rakyat.

Kebijakan bupati yang anti-rakyat lah yang mengubah keadaan. Patok-patok konsensi pertambangan menindih lahan pertanian dan pemukiman rakyat. Sejak itu, rakyat pun baru sadar akan watak sejati pemimpinnya. Realitas politik itu mengubah cara berfikir masyarakat tentang kekuasaan. Rakyat juga makin kritis terhadap keadaan.

Ada beberapa hal yang patut dijadikan pelajaran dari perjuangan rakyat Bima:

Pertama, soal konsistensi dan daya tahan perlawanan. Perjuangan rakyat Bima banyak diwarnai dengan represi. Pada bulan Februari 2011, misalnya, ketika rakyat menggelar aksi massa di kantor camat Lambu, polisi membubarkan aksi dengan tembakan. Akibatnya, 2 orang terkena tembakan dan 60-an orang ditangkap.

Tapi perjuangan rakyat tidak surut karena kejadian itu. Aksi-aksi massa terus berlangsung tanpa henti. Hingga, pada Desember 2011 lalu, rakyat memutuskan untuk memblokade pelabuhan Sape. Aksi blokade itu berakhir dengan represi: 3 orang tewas, puluhan terluka, dan puluhan ditangkap.

Semangat perlawanan tidak surut. Mobilisasi-mobilisasi dengan dukungan massa yang cukup besar terus terjadi. Pada 13 januari 2012, misalnya, rakyat Lambu dan Sape menggelar rapat akbar dengan memobilisasi sedikitnya 20-an ribu massa. Aksi-aksi dalam jumlah massa yang besar terus terjadi sesudahnya.

Kedua, rakyat Bima menggunakan metode radikal: blokade dan aksi pendudukan. Rakyat Bima sangat faham betul, bahwa penguasa yang berhati batu hanya bisa ditaklukkan dengan metode yang radikal pula.

Metode aksi yang radikal ini cukup efektif. Maklum, dengan watak penguasa yang tuli dan buta seperti di Bima, hanya bentuk aksi radikal-lah yang membuat penguasa bisa mendengar aksi-aksi rakyat.

Ketiga, perjuangan rakyat Bima tidak mudah dimoderasi dan disogok oleh politik kompromi. Begitu aksi-aksi radikal rakyat Bima menarik perhatian publik, pemerintah setempat mencoba menawarkan jalan kompromi: operasional PT. SMN ditunda sementara. Tetapi berbagai tawaran kompromis itu ditolak oleh rakyat.

Juga, ketika Komisi III DPR hendak bertemu dengan warga. Karena tidak membawa jawaban konkret terkait tuntutan rakyat, maka warga pun memasang blokade di seluruh jalanan desa untuk menghalau kedatangan anggota DPR tersebut.

Keempat, konsisten dalam mengusung tuntutan pokok: pencabutan SK Bupati Bima nomor 188/2010. Ketika aksi blokade pelabuhan sape direpresi, yang mengakibatkan sejumlah korban tewas dan terluka, sejumlah kelompok berusaha menggeser isunya menjadi soal kekerasan saja. Tetapi, seperti kita ketahui, rakyat Bima tetap berpegang pada isu pokoknya.

Perjuangan rakyat Bima memang belum mencapai kemenangan puncak. Akan tetapi, gerakan rakyat di Bima telah memberi sumbangsih dalam memperkaya strategi perjuangan di era neoliberal ini.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut