Pekerja Perusahaan Listrik Nigeria Hentikan Pemogokan

LAGOS: Para pekerja di perusahaan listrik telah mengumumkan penangguhan pemogokan umum yang dilancarkan serikat buruh setelah terjadi gencatan senjata dengan pemerintah.

Penangguhan pemogokan ini dating setelah Presiden Nigeria Goodluck Jonathan bersedia membayarkan tunggakan pembayaran tunjangan 20.000 pekerja listrik, yang nilainya mencapai 57 juta naira.

Presiden juga meluncurkan peta jalan reformasi sektor energi di negara ini dan rencana skematik Pemerintah yang akan secara efektif dapat menghadapi tantangan sektor energi di negara ini.

Sekretaris pengorganisasian persatuan pekerja listrik nasional (NUEE), Owirima, mengumumkan pembatalan pemogokan kepada wartawan di Abuja, pada hari Kamis (26/8).

Pemogokan, yang dimulai pada hari Rabu, telah menjerumuskan seluruh negeri dalam kegelapan.

Owirima menjelaskan, kondisi yang mendorong pemogokan adalah penunggakan pembayaran tunjangan dan upah para pekerja sejak 26 agustus lalu.

Dia menyatakan bahwa proses penyaluran dana harus diselesaikan dalam waktu seminggu, sedangkan persoalan kenaikan gaji sebesar 135% , sebuah kenaikan yang sangat besar, akan dibahas pada waktu yang telah disepakati.

Sekretaris serikar buruh ini juga mengatakan kepada wartawan, bahwa pemerintahan federal bersedia meninjau kembali dan membahas masalah janji regularisasi 10.000 pekerja biasa di perusahaan listrik Power Holding Company of Nigeria (PHCN).

Pembayaran tunggakan upah pekerja akan dimulai sejak terjadinya kesepakatan antar kedua belah-pihak, yang mana itu dicapai pada hari Kamis, sekitar 02.00 waktu setempat, kata Owirima.

Pemadaman menjadi hal umum terjadi di negeria, Negara paling padat penduduknya di Afrika, dimana permintaan akan energy listrik naik dua kali lipat dari pasokan saat ini sekitar 3.000 megawatt.

Relokasi sebagian besar perusahaan dari negeri ini ke Negara tetatangga secara perlahan-lahan telah meniupkan kekacauan politik, ekonomi, dan social di negeri ini.

Seperti pada bulan Oktober 2009, lebih dari 800 perusahaan telah sebagian atau sepenuhnya mengubah basis produksinya ke Negara tetangga seperti Benin, Togo, Gana, Pantai gading, dan Afrika selatan yang kurang sumber daya. (Berbagai sumber/Rh)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut