Pekerja Migran Asal Afrika Jadi Sasaran Pembantaian Pemberontak Libya

Pekerja migran asal Afrika menjadi sasaran eksekusi pasukan pemberontak setelah berhasil mengambil-alih sebagian besar Libya. Seorang pejabat PBB melaporkan bahwa seorang pekerja kulit hitam telah dieksekusi oleh pemberontak.

Tidak diketahi berapa jumlah pekerja migran asal Afrika yang sudah dieksekusi oleh para pemberontak. Tetapi, pekerja yang sebagian besar berasal dari Nigeria, Chad, dan Sudan itu sudah mulai menjadi sasaran eksekusi sejak maret lalu.

Situasi ini diperkeruh dengan laporan media yang menyebutkan bahwa Khadafi merekrut orang kulit hitam sebagai tentara bayaran.

Sejak berkuasa 42 tahun lalu, rejim Khadafi terkenal sangat terbuka dengan kaum imigran. Dari sekitar 6 juta lebih penduduk Libya, sedikitnya 2 juta orang adalah kaum imigran.

Sejak para pemberontak mengamuk, ditambah dengan dukungan serangan udara NATO, banyak imigran yang sudah melarikan diri. Tetapi tidak sedikit pula yang terperangkap di dalam perang.

Perwakilan UNHCR, orgisasi PBB untuk pengungsi, menerima laporan dari seorang warga Somalia bernama Ahmed. Ia tinggal di Tripoli dan mengajar di sebuah Universitas sejak tahun 2007.

Ahmed mengatakan, dirinya harus segera meninggalkan negeri itu, sebab jika pemberontak melihatnya, seorang warga berkulit hitam, maka ia bisa menjadi sasaran eksekusi.

“Siapapun yang berkulit hitam, mereka (pemberontak, pen) akan mengatakan bahwa itulah musuhnya,” katanya.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
Tags: