Lebaran bagi Rakyat Indonesia

Setelah sebulan penuh berpuasa, Umat Islam Indonesia akan merayakan Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran. Lebaran sudah menjadi tradisi rakyat Indonesia. Semua golongan rakyat Indonesia akan bersuka cita menyambut hari besar itu.

Istilah lebaran pun lebih populer bagi rakyat Indonesia dibanding Idul Fitri. Di Indonesia, sebagaimana dicatat sejarahwan muda JJ Rizal, lebaran tidak sekedar berdimensi religi, tetapi juga punya dimensi sosial-budaya dan politik.

Istilah lebaran punya arti  “selesai”; menyelesaikan suatu pekerjaan atau kewajiban berpuasa. Menurut Poerbatjaraka, seperti dikutip JJ Rizal dalam “menemukan makna lebaran”, istilah Lebaran memang sangat berkait erat dengan puasa yang berasal dari bahasa Sansekerta. Puasa berasal dari kata upawasa, artinya menutup, atau tidak mengeluarkan wasa. Wasa adalah kekuatan/kemampuan yang ada pada seseorang.

Lebih lanjut, menurut Poerbatjaraka, di zaman pra Islam, Lebaran itu uapacara setelah 40 hari selesai menjalankan puasa. Jadi, lebaran dan puasa sama tua. Dengan mengacu pada kesimpulan Poerbatjaraka, kita menjadi tahu kenapa lebaran dalam tradisi Indonesia lebih bermakna plural dan melibatkan hampir semua rakyat.

Tradisi lebaran juga biasanya disertai dengan tradisi-tradisi rakyat Indonesia lainnya, seperti tradisi pulang kampung (mudik) bagi perantau, tradisi saling mengunjungi antar keluarga dan kenalan, tradisi saling memaafkan, dan lain sebagainya.

Tidak heran, karena keunikan tradisi rakyat Indonesia ini, sebuah kawat Diplomatik AS pernah menulis khusus soal lebaran ini. Dalam kawat tersebut, sebagaimana disampaikan oleh Wikileaks, momen mudik adalah kesempatan emas untuk mempelajari sungguh-sungguh karakter rakyat Indonesia sampai tingkat akar rumput.

Kami kira betul, jika hendak memahami rakyat Indonesia sampai ke dalam alam kesadarannya, maka pelajarilah tradisi-tradisi mereka. Cara mempelajari tradisi ini pernah dilakukan oleh aktivis pergerakan di jaman kolonial.

Misalnya: pada tahun 1929, sebuah krisis ekonomi menghantam Hindia-Belanda. Berkehendak mencegah krisis ekonomi berpengaruh pada politik, penguasa Belanda pun memberi pukulan terhadap dunia pergerakan. Jadi, pada saat itu, untuk pertama-kalinya diadakan sholat lebaran lapangan terbuka Koningspelein (Gambir). Para aktivis pergerakan menggunakan kesempatan itu untuk bersosialisasi dengan rakyat dan menguatkan semangat mereka menghadapi krisis.

Juga, pada tahun 1945, seusai Bung Karno dan Bung Hatta membacakan proklamasi kemerdekaan, ada keinginan untuk menggelar sholat Ied di halaman Gedung Proklamasi. Acara itu sekaligus sebagai ucapan syukur terhadap kemerdekaan bangsa Indonesia. Tetapi pihak Jepang melakukan penjagaan ketat di sekitar gedung, sehingga sholat Ied dipindahkan ke Jalan Pegangsaan.

Pada tahun 1946, ketika bangsa Indonesia sedang berjuang keras melawan kembalinya kolonialisme Belanda, perayaan Lebaran dijadikan momentum untuk menghadirkan tokoh-tokoh revolusi dan pemimpin Republik. Momen lebaran itu menjadi ajang untuk mempersatukan seluruh kekuatan revolusi, supaya tidak terpecah belah saat menghadapi serangan belanda.

Oleh karena itu, dalam situasi bangsa Indonesia sekarang ini, dimana imperialisme dan kolonialisme kembali mengoyak-ngoyak bangsa kita, marilah kita jadikan momentum lebaran untuk memperkuat solidaritas dan persatuan nasional. Mari kita tinggalkan pertikaian yang tidak perlu, lalu memperkuat persatuan menghadapi musuh kita: imperialisme.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut