Pejuang Agraria Yang Dikriminalisasi Itu Bernama Eva Bande

Hari itu, 15 Mei 2014, sebuah rumah yang disinggahi oleh salah seorang Pejuang Agraria, didatangi oleh Tim Kejaksaan Agung dan Tim Kejaksaan Negeri Luwuk. Rumah tersebut terletak di Jl.Babadan No.12 Banguntapan, Bantul, Provinsi DI Yogyakarta. Pejuang Agraria itu bernama Eva Bande.

Kedatangan Tim tersebut untuk menangkap Eva Bande yang selama ini dicari-cari dan dianggap ‘buronan’ oleh Kejaksaan Negeri Luwuk. Eva, yang selama ini aktif memperjuangkan hak-hak petani yang dirampas oleh pihak pemodal, dituduh ‘menghasut’ petani untuk melawan pihak perusahaan.  Eva kemudian dijatuhi hukuman 4 tahun penjara oleh Majelis hakim di Pengadilan Negeri Luwuk.

Perempuan pejuang Agraria itu kemudian ditangkap dan dibawa ke kantor Kejaksaan Tinggi Yogyakarta. Penangkapan tersebut dipimpin langsung oleh Kepala Kejaksaan Negeri Luwuk, M. Syarifuddin. Keesokan harinya,16 Mei 2014, Eva Bande langsung diterbangkan ke Luwuk, Sulawesi Tengah, dengan menggunakan penerbangan regular. Sesampainya di Luwuk,  Eva yang dikawal oleh petugas keamanan langsung digiring ke Lembaga Pemasyarakatan Luwuk.

***

Eva Susanti Hanafi Bande, yang biasa disapa Eva Bande, lahir di Luwuk 36 tahun silam yang lalu. Ia menamatkan Sekolah Menengah Atasnya (SMA) di Luwuk, dan kemudian melanjutkan Pendidikannya ke Universitas Tadulako, di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip), pada tahun 1998 silam yang lalu. Pada saat itu juga Eva sudah mulai terlibat dalam gerakan mahasiswa.

Perjuangan Eva Bande dalam membela hak-hak petani dimulai pada tahun 1999. Pada saat itu Eva bersama kawan-kawannya di Front Mahasiswa Indonesia Sulawesi Tengah  terlibat langsung dalam pembelaan petani Tambak, korban perampasan hak dari perusahaan tambak di Kecamatan Batui, Kabupaten Banggai. Selain itu, sejak tahun 2008 hingga sekarang, Eva yang merupakan Koordinator Front Rakyat Advokasi Sawit (FRAS), juga aktif membela hak-hak petani yang dirampas oleh pihak pengusaha di dataran Moilong, Toili, Toili Barat.

Tidak hanya membela hak-hak petani, Eva juga aktif membela perjuangan hak-hak kaum perempuan khususnya perempuan korban kekerasan di berbagai daerah di Sulawesi Tengah. Eva yang pada tahun 2002 sudah aktif di Kelompok Perjuangan Kesetaraan Perempuan Sulawesi Tengah bersama kawan-kawannya mengorganisir kaum perempuan di Kabupaten Poso yang kemudian melahirkan banyak perempuan-perempuan yang kemudian aktif di gerakan di Poso. Karena kegigihannya dalam mengorganisir dan mendidik kaum perempuan di Poso, Eva beserta kawan-kawannya menjadi salah satu penggerak proses perdamaian di Kabupaten Poso yang disebut dengan Perempuan Merajut Perdamaian.

***

Kasus yang menimpa Eva bermula pada Bulan September Tahun 2008. Waktu itu seorang petani memberi kabar kepada Eva perihal penggusuran yang dilakukan secara tiba-tiba oleh PT. Kurnia Luwuk Sejati (KLS) di kebun Kakao dan tanaman-tanaman lainnya seperti pisang, durian, kelapa, dll, diatas lahan bersertifikat milik masyarakat di Lokasi Program Transmigrasi pola Agroestate Desa Singkoyo. Penggusuran tersebut dilakukan atas dasar perintah pemiliknya, Murad Husein.

Tidak terima dengan perbuatan PT. KLS, Eva bersama dengan masyarakat peserta Trans-Agrostate dan LBH Sulawesi Tengah kemudian melakukan konsolidasi membahas permasalahan tersebut. Karena lambannya permasalahan tersebut direspon oleh pihak Pemerintah Daerah, akhirnya Eva dan bersama dengan LBH Sulteng memutuskan untuk memperluas dukungan terhadap masalah yang dihadapi oleh Petani Agroestate.

Rapat-rapat gencar dilakukan oleh Eva bersama dengan para petani dan jaringan LSM. Sehingga dari rapat-rapat itu kemudian memutuskan untuk menggelar aksi massa (17/02/2009) ke beberapa instansi pemerintahan; kantor Gubernur, Kantor Kepolisian Daerah. Tidak hanya itu, mereka yang tergabung dalam Solidaritas Rakyat untuk Petani Agro juga melakukan aksi pendudukan di kantor DPRD Sulteng.

Kebiadaban PT. KLS terhadap petani semakin menjadi-jadi. Penggusuran-penggusuran terhadap tanah petani di berbagai desa terus dilakukan. Bulan Mei 2010, PT.KLS beserta aparat TNI KODIM Banggai memasuki areal HTI Desa Piondo. Dengan menggunakan satu unit buldoser PT.KLS kemudian merusak jalan yang merupakan satu-satunya akses petani Piondo untuk menuju ke areal HTI. Sontak, petani Piondo dan Bukit Jaya marah, dan meminta agar pengrusakan jalan tersebut segera dihentikan. Sayangnya, permintaan tersebut tidak digubris oleh PT.KLS karena dikawal oleh ratusan aparat TNI. Petani pun menjadi emosi karena permintaan mereka tidak dipenuhi, dan sempat terjadi aksi penahanan mobil PT.KLS. situasi semakin menjadi memanas tatkala Wakapolsek menembakkan satu kali tembakan ke udara. Pada saat itu, petani pun kemudian membubarkan diri dan kembali ke desa mereka masing-masing.

Esoknya, ratusan petani kembali mendatangi areal HTI untuk memprotes keberadaan TNI di Desa Piondo. Mereka khawatir keberadaan TNI memicu bentrokan dan kekerasan terhadap masyarakat. Para petanipun meminta kesediaan aparat TNI untuk berdialog, tetapi permintaan tersebut tidak diindahkan.

Karena penggusuran dan pengrusakan jalan semakin gencar dilakukan oleh PT.KLS, warga pun semakin marah. Tanggal 26 Mei 2010, dua ratusan warga yang terdiri dari petani dan penambang melakukan aksi penuntutan pembukaan jalan produksi yang telah dirusak oleh PT.KLS ke kantor PT. Berkat Hutan Pusaka (BHP). Eva dan beberapa kawan-kawannya juga ikut menunjukkan solidaritasnya dalam aksi tersebut.

Kedatangan warga ke kantor PT. BHP tidak mendapat respon dari pihak perusahaan. Warga pun menjadi marah dan terjadi insiden pengrusakan kantor PT.BHP dan pembakaran buldoser. Eva bersama dengan beberapa pimpinan petani tak kuasa membendung kemarahan warga yang selama ini terpendam.

Dalam perjalanan pulang warga kemudian tiba-tiba berbelok menuju Camp Karyawan, di desa Bukit Jaya. Disitu kemarahan wargapun semakin tidak terkendali, warga kemudian membakar sebuah Camp yang baru dibangun oleh pihak perusahaan dan sebuah eskavator. Tentara dan kepolisian yang berada disitu tidak berusaha menghentikan aksi petani. Aksi warga pun selesai. Mereka kemudian kembali ke desa masing-masing.

Sorenya di kantor PEPSI, tempat Eva dan kawannya Nasrun Mbau beristirahat, didatangi oleh puluhan polisi dari Polsek dan Polres Banggai. Polisi kemudian mengacak-ngacak barang-barang milik Eva yang berada dalam kantor. Eva yang pada saat itu keluar dari kamar mandi sontak terkaget. Eva kemudian meneriaki puluhan polisi tersebut dan meminta memperlihatkan surat perintah. Mengetahui perihal tersebut, ratusan warga dari berbagai desa; Piondo, Bukit Jaya, Tou, Singkoyo, kemudian berbondong-bondong mendatangi kantor PEPSI dan mengawal Eva Bande dan Mbau untuk diantarkan ke kantor Polisi Toili.

Tidak hanya menindas hak-hak petani, Murad Husein pemilik PT.KLS juga melakukan tindak kekerasan terhadap para petani. Malam itu, ketika para petani yang mengawal Eva sedang berada di halaman kantor Polsek Toili,  50-an preman bayaran suruhan Muraid Husein dengan bersenjata tajam tiba-tiba datang dan melakukan aksi pembacokan secara membabi buta terhadap massa petani. Polisi yang berada disitu seolah tidak peduli dan membiarkan aksi pembacokan itu terjadi.

Karena insiden tersebut, Eva bersama Nasrun Mbau dan Moh.Arif kemudian dibawa ke kantor Polres Banggai dengan alasan pengamanan. Tanpa disangka, alasan tersebut berbuah penahanan dan penangkapan terhadap pejuang agraria dan petani-petani di Piondo. Total Petani Piondo yang di hotel prodeokan berjumlah 23 orang; ditambah Eva menjadi 24 orang.

Di dalam penjara, Eva bersama pejuang agraria lainnya yang ditahan di Lapas  melakukan aksi mogok makan selama 7 hari. Akibatnya, kondisi mereka menjadi drop dan kemudian dilarikan ke rumah sakit. Karena mahalnya biaya pengobatan rumah sakit, akhirnya Eva dan para petani lainnya di izinkan untuk memulihkan kesehatan di rumah masing-masing.

***

Paska penangkapan pejuang agraria dan puluhan petani, PT.KLS semakin gencar melakukan pengrusakan terhadap lahan-lahan petani dan merusak jalan akses produksi petani semakin parah. Walaupun Pihak KOMNAS HAM telah memfasilitasi pertemuan antara warga Piondo, DPRD dan pihak perusahaan PT.BHP yang diwakili oleh direkturnya langsung, Herwin Yatim, dan menghasilkan Nota Kesepahaman, tetapi tetap saja PT.KLS tidak memperdulikan. Mereka melanggar hasil nota tersebut.

Ahmad Pelor, Direktur Walhi Sulteng dalam situs Mongabay.co.id, mengatakan, KLS perusahaan milik Murad Husain, telah merampas lahan petani di Desa Piondo, Singkoyo, Moilong, Tou, Sindang Sari, Bukit Jaya, dan beberapa desa lain. Secara keseluruhan tanah-tanah petani digusur KLS seluas 7.000 hektar. Sejak 1996, Murad membuka perkebunan sawit skala besar di Toili Kabupaten Banggai. KLS mendapat izin pengelolaan hutan tanaman industri (HTI) 13.000 hektar dengan dana pinjaman pemerintah untuk penanaman sengon dan akasia Rp11 miliar. Hingga kini dana tidak dikembalikan dan lahan HTI malah jadi kebun sawit.

Sungguh ironis keadilan di negeri ini. Murad Husein yang telah ditetapkan sebagai tersangka sejak bulan April 2010 karena tidak memiliki Izin Usaha Perkebunan tidak ditahan oleh pihak Kepolisian maupun Kejaksaan. Sedangkan para petani dan Pejuang Agraria seperti Eva Bande yang berjuang untuk menuntut dan membela hak-hak para petani kemudian dengan cepat ditangkapi. Mungkin seperti itulah keadilan di negeri kita, tajam dibawah tetapi tumpul diatas. Keadilan di negeri kita lebih memperlihatkan keberpihakannya kepada pemilik modal dibanding rakyatnya sendiri.

***

Eva Bande kini mendekam di dalam Penjara, Lapas 2B Luwuk, Kab. Banggai. Penangkapan Eva di Jogjakarta oleh Tim Kejaksaan Negeri Luwuk bak seorang teroris yang sangat menakutkan: dibekuk dan dibawa paksa. Padahal, pada saat itu Eva sedang berjuang untuk mendapatkan pendampingan hukum dalam upaya Peninjauan Kembali atas putusan MA yang menolak Kasasi Eva Bande, dan dalam amar putusan MA tersebut tidak dicantumkan perintah penahanan dan penangkapan. Sungguh miris nasib pejuang-pejuang agraria di negeri kita. Ketika memperjuangkan hak-hak para petani, pejuang agraria selalu ditempatkan sebagai momok yang menakutkan bagi penguasa. Semoga para pejuang-pejuang agraria seperi Eva Bande dan lainnya bisa menambah dan menyulutkan api-api perlawanan rakyat.

Eva, teruslah berjuang!

Ulfa Ilyas

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut