Pancasila Masih Diakui, Tapi Diabaikan!

Sampai hari ini, Pancasila memang masih dianggap dasar negara. Namun, pada kenyatannya, proses penyelenggaraan negara makin menjauh dari nilai-nilai Pancasila.

Hal tersebut diungkapkan oleh aktivis Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND), Fuad Kurniawan, dalam diskusi bertajuk “Menelaah Relevansi Antara Nilai Dan Praktek Pancasila Dalam Kehidupan Berbangsa” di Aula BPPNFI, Bengkulu, Sabtu (11/5/2013).

Menurut Fuad, banyak sekali kebijakan ekonomi-politik pemerintah saat ini yang bertolak-belakang dengan Pancasila. “Di bidang ekonomi, pemerintah menganut sistem neoliberal. Padahal, sistim itu dimana-mana menciptakan ketimpangan dan ketidaksetaraan,” ungkap Fuad.

Sementara Pancasila, kata Fuad, menghendaki sebuah penyelenggaraan ekonomi yang berkeadilan sosial. Di sini, kata, seharusnya sistem Indonesia mengacu pada pasal 33 UUD 1945.

“Jiwa ekonomi yang dikehendaki konstitusi adalah ekonomi yang berbasiskan usaha bersama, tolong-menolong, dan kerjasama. Bukan kompetisi bebas dan eksploitasi segelintir orang terhadap mayoritas rakyat,” tegasnya.

Sementara itu, pembicara lain dalam diskusi ini, yakni Elvis Bakrie Tanjung SPd, mengeritik pelaksanaan pemilihan langsung, seperti Pilkada, yang dianggapnya melenceng dari Pancasila.

“Kalau kita setia pada Pancasila, maka basis dari sistem politik kita adalah musyawarah-mufakat,” katanya.

Ia juga menegaskan, jika masih banyak rakyat yang kekurangan dan terperangkap dalam kemiskinan, berarti Pancasila secara esensi kehilangan makna. “Apa artinya ber-Pancasila jika rakyat tetap saja miskin dan tidak ada keadilan sosial,” tegasnya.

Pembicara lainnya, Dempo Xler Sip, yang juga ketua DPD KNPI Bengkulu, menekankan Pancasila sebagai pembentuk mental dan kepribadian bangsa Indonesia.

Ia juga mengeritik praktek penyelenggaraan negara yang sama sekali tidak punya haluan. “Dulu masih ada GBHN, sekarang tidak ada lagi. Sehingga kita tidak punya arah pembangunan yang hendak kita capai bersama,” katanya.

Acara diskusi ini dihadiri oleh organisasi mahasiswa dan elemen pergerakan di kota Bengkulu. Mereka berharap diskusi ini bisa menjadi ajang konsolidasi gerakan.

Rudi Nurdiansyah

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut