Mural Sebagai Bahasa Protes Dan Media ‘Watchdog Government’

Menurut data Biro Pusat Statistik (BPS) tahun 2010, jumlah penduduk Jakarta telah mencapai lebih dari 9,5 Juta jiwa. Sedangkan tingkat kepadatan penduduk rata-rata 146 juta jiwa per hektarnya. Padatnya penduduk ini tentu berimbas pula kepada keterbatasan lahan yang tersedia di Kota Jakarta.

Akibatnya, banyak pemukiman yang terlihat padat dan kumuh memenuhi gang-gang sempit di Jakarta. Hal inilah yang coba disiasati oleh para warga di sekitar Bantaran Kali Ciliwung (BACILI) RW 04 Kelurahan Kebon Baru, Tebet, Jakarta Selatan. Bekerja sama dengan Perhimpunan Kampung Kreatif Indonesia, yang telah sukses dengan konsep Kampung Kreatifnya di Bandung serta kota-kota lainnya di Indonesia, dan didukung pula oleh para mahasiswa jurusan Desain Komunikasi Visual dan Seni Rupa dari beberapa Universitas di Jakarta, warga mengadakan Kampung Kreatif Bantaran Kali Ciliwung (BACILI) dengan kegiatan utama: lomba Mural (Mural adalah cara menggambar atau melukis diatas media dinding, tembok atau permukaan luas yang bersifat permanen lainnya) dan juga Lukis Kaos.

Sejak program ini dimulai pertengahan Agustus lalu, warga yang mayoritas masyarakat golongan ekonomi lemah ini bertekad menyingkirkan predikat kusam dan kumuh dari lingkungan mereka. Sambil mengusung semangat yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia, gotong royong, warga bersama para mahasiswa bahu-membahu membersihkan lingkungan dan komunitasnya. Tidak ketinggalan mereka juga menghiasi dinding-dinding rumah dan gang yang tadinya kusam dengan lukisan-lukisan mural dengan berbagai gaya dan rupa. Pesan dan protes yang ingin disuarakan oleh warga dan mahasiswa melalui mural-mural tersebut umumnya menyentil berbagai isu sosial kemasyarakatan seperti isu lingkungan, politik, dan juga budaya

Bila ditilik dari definisinya sendiri, Kampung Kreatif adalah sebuah kampung dimana masyarakatnya mempunyai skill yang bernilai ekonomis. Artinya, apapun yang ada di sekelilingnya menjadi lahan untuk berkarya dan menghasilkan nilai ekonomi. Itulah sebabnya kegiatan mural terpilih menjadi kegiatan utama dalam acara yang berlangsung sejak 10 Agustus hingga 8 September 2012 ini. Maklum, mural adalah bagian dari seni publik yang melibatkan komunikasi dua arah, dimana masyarakat awam juga dapat mengambil peran sebagai seniman. Rencananya peresmian serta pengumuman pemenang acara ini akan diadakan pada 10 September 2012 dan dihadiri oleh Gubernur DKI Jakarta.

Mural kini dapat kita jumpai dengan mudah sebagai pengisi kekosongan ruang-ruang di dinding kota atau beton-beton jalan layang yang kosong. Warna-warnanya yang sangat representatif serta mengandung pesan-pesan yang begitu persuasif membuat mural menjadi salah satu media yang sangat komunikatif di tengah masyarakat modern bahkan tak jarang kini mural dipakai untuk berbagai kepentingan komersial iklan. Padahal, pada awalnya, mural digunakan sebagai media pemberontakan dan bahasa protes sosial, seperti lukisan mural yang paling termashur di dunia, Guernica atau Guernica y Luno, karya Pablo Picasso. Picasso membuat mural ini untuk memperingati pengeboman tentara Jerman di sebuah desa kecil dengan mayoritas masyarakat Spanyol saat perang sipil Spanyol berkecamuk di tahun 1937. Di Indonesia, penggunaan mural sebagai media pemberontakan dan bahasa protes sosial dipelopori oleh para pejuang pergerakan kemerdekaan yang menggambar bendera Merah Putih di tembok-tembok kota atau gerbong-gerbong kereta. Tujuannya satu : yaitu untuk memberitakan kepada penjajah bahwa Merah Putih akan terus berkibar di langit Indonesia.

Seorang Pakar Anthropology dari Universitas Indonesia, Hilarius Taryanto, pernah mengamati tentang fenomena mural ini. Menurutnya, “Mural dan Graffiti itu seperti anjing pipis”. Maksudnya, mural adalah sebuah seni spontanitas yang ditorehkan begitu saja di dinding-dinding, tanpa harus dirawat, dilindungi, atau diabadikan karena seiring waktu, cuaca akan menghapusnya.

Terlepas dari itu semua, mural juga media yang dianggap paling mewakili tujuan diadakannya acara Kampung Kreatif BACILI ini, yaitu ingin mengubah paradigma Masyarakat Bantaran Kali Ciliwung yang sebelumnya negatif dan sering termarjinalkan menjadi lingkungan masyarakat kreatif yang bisa bersinergi dengan Pemerintah karena mural bisa jadi adalah media paling terjangkau dan aplikatif dimana masyarakat dari lapisan terbawah sekalipun bisa menyuarakan aspirasinya kepada para pemimpin yang berada diatas. Hal ini tentu sejalan dengan salah satu fungsi media yaitu sebagai watchdog atau “anjing pengawas” jalannya pemerintahan. Sekarang tinggal berada di tangan masyarakatlah bagaimana caranya untuk pintar-pintar memanfaatkan si medium “Anjing Pipis” ini menjadi “Anjing Pengawas” yang efektif terhadap berbagai kebijakan pemerintah, bukankah “Vox Populi Vox Dei”. “Suara Rakyat adalah Suara Tuhan?”

Indarti Fareninda, Kontributor Berdikari Online

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut