Mobil Nasional Dan Semangat Berdikari

Langkah Walikota Solo, Joko Widodo, yang menggunakan mobil rakitan anak SMK sebagai mobil dinasnya, terus jadi pembicaraan publik. Bagi sebagian orang, khususnya di kalangan nasionalis, langkah ini telah menjadi titik awal untuk menumbuhkan kebanggaan terhadap produksi bangsa sendiri.

Mobil “Esemka” terus jadi perbincangan. Di banyak kalangan, langkah ini dianggap momentum paling tepat untuk membangkitkan kembali cita-cita “mobil nasional”. Cita-cita ini sudah muncul sejak lama, tapi berkali-kali kandas di tengah jalan. Ini adalah bagian dari upaya membangkitkan industri nasional kita.

Tetapi banyak pula yang masih ragu dengan gagasan “mobnas”. Salah satunya adalah Dahlan Iskan, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Katanya, pemerintah tak boleh latah dan terburu-buru memiliki mobil nasional tanpa didasari dengan pertimbangan matang.

Apa pertimbangan itu? Selain mempertimbangkan aspek produksi, kata Dahlan Iskan, tetapi juga menghitung aspek pemasaran. Kalau diproduksi, tapi tidak ada yang beli juga tidak akan bertahan,” ujar Dahlan. Selain itu, kata Dahlan Iskan, kegiatan produksi juga jangan menjadi beban negara. Satu lagi pertimbangan Dahlan Iskan: seberapa jauh proyek mobnas itu memberi keuntungan (profit)?

Salah satu hambatan kemajuan kita, termasuk perjuangan melikuidasi sisa-sisa kolonialisme, adalah rasa rendah diri dan kurangnya percaya diri. Perasaan minder dan rendah diri memang sangat akut dalam fikiran pemimpin bangsa kita. Terutama sejak jaman orde baru hingga sekarang ini.

Bung Hatta, yang menyebut gejala penyakit fikiran ini sebagai “economische minderwaardigheid”, menganggap ini sebagai bentuk perang psikologis negeri-negeri kolonialis untuk menaklukkan “semangat” bangsa kita dalam membangun perekonomian sendiri. Penyakit ini ternyata masih diderita oleh Dahlan Iskan dan banyak pejabat negeri.

Bagi kami, pendapat Dahlan Iskan juga punya banyak kekeliruan. Indonesia merupakan salah satu pasar terbesar industri mobil dunia. Pada tahun 2011 saja, angka penjualan mobil di Indonesia mencapai 890 ribu unit. Lihatlah perhelatan The 19th Indonesia International Motor Show (IIMS) pada Agustus 2011 lalu, yang pengunjungnya hanya ditarget 300 ribu orang, tapi nyatanya melonjak menjadi 322.823 orang. Hanya dalam 10 hari pameran, sudah terjual 11.585 unit kendaraan senilai Rp 3,274 triliun.

Yang menjadi hambatan bukanlah pasar, tapi soal mentalitas: maukah orang-orang itu, umumnya klas menengah ke atas, beralih menggunakan mobil buatan bangsa sendiri. Maklum, bagi klas menengah ke atas, mobil bukan sekedar soal nilai-guna, tetapi juga ada soal “status sosial” di situ. Orang suka menunjukkan status sosialnya dengan memiliki mobil mewah.

Lagi pula, sebelum bertanya kepada klas menengah ke atas, ada baiknya kita menanyakan sikap pejabat kita: maukah mereka meninggalkan kebiasaan menunggangi mobil mewah dan kemudian beralih pada mobil rakitan anak SMK. Bisakah para pejabat negara, dimulai dari Presiden hingga Kepala Desa, membuang gengsi sosial dan gaya hidup mewah mereka?

Selain itu, pada aspek lain, Dahlan Iskan juga tidak boleh menomor-satukan aspek keuntungan atau profit. Bagi kami, proyek mobnas bukan sekedar proyek mencari profit, tetapi harus diletakkan proyek membangun “kebanggan nasional”. Jika kita bangga menggunakan produksi bangsa sendiri, kendati kualitasnya lebih rendah, tentu merupakan “moral investment” untuk membangun bangsa kedepan.

Proyek mobnas akan menjadi pemicu kepercayaan diri kita untuk membangkitkan kembali semangat industrialisasi nasional. Maklum, dalam satu dekade terakhir, industri nasional kita ambruk berkeping-keping. Serbuan liberalisasi menjadi pangkal masalahnya. Akibatnya, bukannya berfikir tentang bagaimana memproduksi, bangsa kita malah makin doyan dengan segala hal yang berbau “impor”.

Sebab, tanpa menghilangkan ketergantungan kepada barang impor, maka perjuangan menghapus kolonialisme hanyala gembar-gembor belaka. Sebab, seperti diuraikan Bung Karno, salah satu ciri dari kolonialisme adalah menjadikan negeri kita sebagai pasar bagi produk negeri imperialis.

Lagi pula, dengan mengurangi ketergantungan terhadap impor, bangsa kita bisa mengamankan devisa negara. Dengan demikian, devisa negara justru bisa dipergunakan untuk membiayai pembangunan dan program sosial untuk rakyat banyak.

Dengan menghargai produksi anak bangsa, apalagi jika diberi ruang untuk berkembang lebih besar lagi, tidak menutup kemungkinan ini akan menjadi motivasi besar bagi seluruh anak bangsa yang lain untuk berkreasi di bidang lebih luas. Bukankah kebangkitan semangat rakyat, khususnya generasi muda, menjadi modal besar untuk kemajuan bangsa di masa depan.

Kami mau menyampaikan sebuah cerita: Dulu, ketika Lenin punya program elektrifikasi, ada orang yang mengejek Lenin dengan menuduhnya “orang gila”. Tapi terbukti kemudian, hanya dalam beberapa tahun, Soviet berhasil menjalankan elektrifikasi di seluruh negeri.

Cerita itu pun dikutip oleh Bung Karno saat menyampaikan pidato 1 Juni 1945, beberapa bulan sebelum Indonesia merdeka, ketika berusaha menyakinkan orang-orang Indonesia yang masih meragu mengenai siap dan tidaknya bangsa Indonesia untuk merdeka. Sejarah membuktikan: sudah 66 tahun berlalu, Indonesia masih tegak berdiri! Hanya saja, kemerdekaan itu belum 100% karena dikhianati oleh orang-orang Indonesia, terutama di kalangan pemimpin, yang rela menjadi antek dari neo-kolonialisme.

Jadi, modal awal dari sebuah bangsa yang sedang berjuang untuk mengejar kemajuan adalah semangat. Karena itu, perlu memupuk kembali semangat  “self-reliance” (jiwa yang percaya kepada kekuatan sendiri) dan “self help” (jiwa berdikari) sebagai modal membangun Indonesia masa depan yang lebih baik.

Karena itu, meski banyak sinisme yang mencoba menghalang-halangi, kami memberikan apreasi sebesar-besarnya atas setiap usaha menjadikan mobil esemka sebagai rintisan proyek mobil nasional. Dan kami berharap, pemerintah segera membuang jauh-jauh penyakit inlandernya, lalu bergegas untuk menyambut terobosan Jokowi dan proyek “Mobnas” itu.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut