Milisi Rakyat Bolivarian

Setiap revolusi, yang benar-benar revolusi, pasti akan dirintangi oleh kontra-revolusi. Dalam berbagai kisah revolusi di jagad ini, kekuatan-kekuatan reaksioner akan selalu mengorganisir aksi-aksi kontra-revolusi untuk menghentikan laju revolusi.

Itu pula yang terjadi dengan revolusi Bolivarian di Venezuela. Pada  tahun 2002, sekelompok perwira sayap kanan, partai-partai kanan, dan asosiasi pengusaha melancarkan kudeta terhadap pemerintahan Hugu Chavez. Namun, berkat penyatuan aksi militer progressif dan mobilisasi massa rakyat, kudeta tersebut berhasil dipatahkan kurang dari 48 jam.

Chavez sendiri menyadari bahwa setiap proyek revolusi akan selalu dirintangi oleh tindakan kontra-revolusi. Karena itu, dia selalu bilang, “revolusi kami adalah revolusi damai, namun bukan berarti menanggalkan senjata.” Ia sadar, kadang-kadang senjata diperlukan untuk membela revolusi.

Ia juga sadar, revolusi Bolivarian akan terus menghadapi ancaman permanen dari kontra-revolusi, baik dari internal maupun eksternal. Ia juga tahu, kudeta tahun 2002 itu bukan hanya digerakkan oleh kaum oposisi di dalam Venezuela, tetapi juga disokong oleh negeri-negeri imperialis, yakni Amerika Serikat (AS).

Hingga tahun 2012, AS punya 22 basis militer di Amerika Latin. Ada 7 basis militer baru di Kolombia. Sebagian basis militer itu malah ditempatkan di perbatasan dengan Venezuela. Dalam banyak kasus, para-militer Kolombia dan tentara bayaran sering menyebrang ke Venezuela untuk menghabisi aktivis petani dan masyarakat adat.

Karena itu, pada tahun 2010, bertepatan dengan peringatan keberhasilan gerakan rakyat menggagalkan kudeta sayap kanan di tahun 2002, Chavez mengikrarkan: “milisi adalah rakyat dan rakyat adalah milisi; rakyat bersenjata dan angkata bersenjata adalah satu.”

Saat itu berlangsung parade militer. Yang menarik, yang berbaris bukan hanya tentara profesional, tetapi juga ada 35.000 milisi rakyat. Mereka berasal dari pelajar/mahasiswa, kaum miskin kota, perempuan, pekerja, dan petani.

Ide membentuk milisi rakyat sudah lama bersemayam dalam benak Chavez. Saat menimbah ilmu di Akademi Militer, ia mulai bersentuhan dengan tulisan-tulisan Mao Zedong. Dari ia Mao ia tahu, “Rakyat bagi tentara adalah ibarat air bagi ikan.” Chavez sangat setuju dengan buah pikiran Mao tersebut.

“Saya selalu setuju dengan itu dan berusaha mempraktekkannya. Maksudnya, saya selalu punya visi seorang sipil-militer,” kata Chavez dalam buah wawancaranya dengan Marta Harnecker, Understanding the Venezuelan Revolution, 2005.

Tahun 1992, Chavez bersama sejumlah tentara progressif melancarkan pemberontakan bersenjata terhadap rezim neoliberal Venezuela kala itu, Carlos Andrez Perez. Sayang, pemberontakan itu menemui kegagalan. Chavez mengakui, faktor utama kegagalan pemberontakan itu adalah minimnya dukungan rakyat. “Kami gagal karena ini pemberontakan militer tanpa Rakyat,” katanya.

Beda halnya dengan kudeta sayap kanan terhadap pemerintahannya di tahun 2002. Saat itu, militer proggressif dan massa rakyat bersekutu. Alhasil, upaya kudeta yang disokong oleh imperialisme AS itu menemui kegagalan.

Segera setelah kejadian itu, Chavez mulai menggagas konsep “milisi Rakyat”. Ide milisi rakyat pun digulirkan. Puluhan ribu rakyat jelata, terutama pekerja, petani, perempuan, kaum miskin kota, mendaftarkan diri sebagai anggota milisi.

Milisi rakyat Bolivarian diakui sebagai bagian dari Angkatan Bersenjata Nasional Bolivarian (FANB). Siapapun warga Venezuela, asalkan sudah berusia 17 tahun, bisa mendaftarkan diri untuk bergabung dalam milisi rakyat ini. Selanjutnya, mereka akan menerima pelatihan dan instruksi militer.

Setiap tanggal 13 April, yang bertepatan dengan peringatan kemenangan rakyat-militer mengalahkan kudeta tahun 2002, ditetapkan sebagai “Hari Milisi Bolivarian”. Dan slogannya: “setiap 11 ada 13.” Angka 11 mengacu pada 11 April 2002; tanggal dilancarkannya kudeta oleh sayap kanan. Sementara angka 13 mengacu ke 13 April 2002; hari ketika gerakan rakyat dan militer berhasil mengalahkan kudeta.

Tidak ada angka pasti mengenai jumlah milisi rakyat ini. Sekarang ini milisi pekerja dan petani juga sudah terbentuk. Milisi pekerja dibentuk di pabrik-pabrik untuk membela kaum buruh dan negara. Sementara milisi petani juga sudah terbentuk. Milisi petani bukan hanya bertugas membela negeri, tetapi juga melindungi kaum tani dari serangan paramiliter ataupun pembunuh bayaran pengusaha.

Nicolas Maduro, pelanjut Chavez saat ini, juga berkomitmen kuat untuk memperluas partisipasi rakyat Venezuela dalam pembangunan milisi rakyat Bolivarian ini. “Kelas pekerja akan sangat dihormati. Dan itu akan lebih dihormati jika milisi pekerja punya 300.000 – 500.000 anggota dan satu atau dua juta rakyat berseragam dan bersenjata untuk mempertahankan tanah air,” katanya.

Ya, sampai hari ini, revolusi Bolivarian masih berjalan. Dan ini adalah pertempuran jangka panjang. Seperti pernah diingatkan Chavez: “ini adalah perjuangan yang sudah berusia 200 tahun: di sisi kita, kemerdekaan, perdamaian, kedaulatan dan martabat untuk menentukan nasib kita; di sisi lainnya, ketergantungan, perang, perbudakan, dan jalan gelap kolonialisme.”

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut