Resensi Film: Menelusuri Revolusi Kuba Lewat Sosok Fidel

Fidel.jpg

Sekarang, gerakan massa yang sangat kuat sedang dibangun. Mereka (gerakan massa ini) akan gunakan taktik yang berbeda. Bukan taktik Bolshevik, karena dunia telah berubah. Ini adalah sebuah era ketika senjata tidak lagi dapat menyelesaikan persoalan. Sebuah periode baru telah dimulai; kesadaran politik rakyat, kebutuhan sejarah, dan gagasan, yang mengubah dunia.

–Fidel Castro Ruz (2001)–

Sorak-sorai massa menggema dalam sebuah gereja di Harlem, New York, Amerika Serikat. Massa jemaat ini sedang menyambut kedatangan Fidel Castro. Butuh beberapa saat sebelum sorak-sorai itu mereda, dan Fidel tampil memulai orasinya diselingi gurauan hangat. Orang yang selama puluhan tahun telah digambarkan oleh pemerintah dan media massa negeri tersebut sebagai ‘iblis’, disambut sebagai pahlawan oleh warganya. Cuplikan situasi ini bisa ditemukan dalam film dokumenter karya Estela Bravo, Fidel: The Untold Story.

Film ini coba mengangkat satu kisah utuh tentang Fidel Castro, dengan menghadirkan rekaman-rekaman tokohnya itu dalam saat-saat yang istimewa. Juga serangkaian wawancara mengenai Fidel dengan orang-orang yang tak kalah istimewa: novelis penerima Nobel,Gabriel Garcia Marquez, penulis Alice Walker, artis Harry Belafonte, hingga bekas agen CIA, Philip Agee.

Singkatnya, di film ini kita diajak menelusuri tujuh puluh enam tahun perjalanan seorang revolusioner, penyintas sekian banyak mara-bahaya dan upaya pembunuhan, “seorang sosialis yang bertahan di dunia kapitalis”, sosok yang hangat, brilian dan penuh semangat, ke dalam sembilan puluh menit film dokumenter. Tak terelakkan, di film ini kita dapat menelusuri pula jalannya revolusi Kuba.

Masuk dalam atmosfir perlawanan

Untold Story

Ketika Fidel ke Havana untuk kuliah tahun 1945, situasi politik Kuba sedang memanas. Aksi-aksi protes mahasiswa marak melawan korupsi di pemerintahan Ramon Grau (1944-1948). Fidel segera tertarik masuk ke dalam atmosfir tersebut. Saat itu rakyat Kuba sudah melewati sejumlah fase perjuangan setelah merdeka dari Spanyol tahun 1902. Tapi lama waktu merdeka tidak menjamin demokrasi dan keadilan di negeri tersebut. Havana masih menjadi pusat hiburan bagi banyak orang kaya Amerika. Perjudian, pelacuran, dan kriminalitas tinggi seiring dengan kemiskinan rakyat dan rasisme.

Sampai kemudian pemerintahan berganti dari Grau ke Carlos Prio Soccaras (1948-1952), aksi-aksi perlawanan tidak juga surut. Pemerintahan Carlos Prio mempersiapkan pemilihan umum yang sedianya akan dilakukan tahun 1953. Tapi Jenderal Fulgencio Batista segera melihat gejala bahwa pemilu tersebut akan dimenangkan oleh Partai Ortodox yang cenderung radikal. Fidel sendiri bergabung ke partai ini. Belum sebagai seorang sosialis, melainkan seorang “nasionalis radikal yang mendamba keadilan sosial”.

Batista melancarkan kudeta terhadap pemerintahan Carlos Prio, tanggal 10 Maret 1952, dan mendirikan kediktatoran yang disebutnya “demokrasi berdisiplin”. Kenaikan Batista segera diikuti dengan represi-represi yang semakin brutal terhadap kelompok-kelompok yang menentangnya

Perjuangan bersenjata

Bagi Fidel, saat itu tidak ada pilihan lain kecuali menghadapi rezim brutal tersebut dengan perjuangan bersenjata. Ia mulai mengorganisir latihan-latihan di Universitas Havana yang saat itu menjadi sentral pergerakan. Mereka yang terlibat dalam pelatihan ini datang dari berbagai latar belakang, terutama dari kalangan mahasiswa dan anggota Partai Ortodoks.

26 Juli 1953 Fidel dan kawan-kawan melancarkan serangan ke barak Moncada, markas militer terbesar kedua di Kuba. Serangan ini digagalkan oleh pasukan Batista. Sejumlah besar kawan Fidel gugur .Sebagian lagi ditangkap dan disiksa. Sementara Fidel ditangkap dan diadili di pengadilan Havana.

Di pengadilan ini ia membuat pernyataan sebagai pledoi yang menjadi sangat terkenal. Martha Rojas, jurnalis yang meliput pengadilan tersebut mengisahkan kepada Estela Bravo:

Di bagian akhir kesimpulan pembelaannya, Fidel menggebrak meja di depannya, kemudian berkata: “Silakan penjarakan saya.Tidak masalah. Sejarah akan membebaskan saya.” Para hakim dan orang-orang di pengadilan tertegun tanpa kata. Fidel kemudian berdiri dan berucap, “Baiklah, saya sudah selesai.” Kemudian berjalan meninggalkan ruang sidang.

Fidel dibebaskan dua tahun kemudian lewat amnesti umum setelah protes massa yang semakin marak. Ia bersama beberapa kawannya kemudian berangkat ke Mexico untuk mempersiapkan rencana baru menggulingkan diktator Batista. Penggalangan dukungan juga ia lakukan di kalangan imigran Kuba di AS. Mereka menyumbang materi dan dukungan lain untuk perjuangan Fidel dan kawan-kawan.

Di tahun 1956 Fidel telah berhasil membentuk kelompok kecil gerilyawan dan merasa siap untuk kembali ke Kuba. Nama gerakan penjatuhan Batista ini diambil dari tanggal peristiwa serangan barak Moncada, yakni “Gerakan 26 Juli”. Saat itulah datang bergabung seorang dokter muda asal Argentina yang kemudian menjadi kawan terbaiknya dalam revolusi: Ernesto Che Guevara.

Delapan puluh dua orang melakukan perjalanan dari Mexico menuju Kuba menggunakan sebuah kapal bernama Granma. Di Kuba sendiri telah disiapkan pula sebuah pemberontakan untuk disinkronkan dengan pendaratan Granma, namun pemberontakan di kota ini kembali digagalkan oleh Batista.

Granma berhasil mendarat di tepi hutan bakau dekat kota Niquero, bagian timur Kuba. Tapi, tak lama setelah itu, posisi mereka terlacak sehingga disergap oleh tentara Batista. Sebagian besar anggota ekspedisi ini kembali gugur. Hanya dua puluh satu orang yang berhasil lolos dari awalnya berjumlah delapan puluh dua.

Sisa yang lolos ini, termasuk Fidel, Che, Raul Castro, Juan Almeida, dan Camilo, berjalan ke pegunungan Sierra Maestra dan membangun basis gerilya di sana. Mereka segera memenangkan hati rakyat. Dukungan terhadap pasukan kecil ini mengalir dari para petani di sekitar pegunungan tersebut. Sejumlah pemuda dan kaum perempuan dari desa setempat bergabung dalam pasukan gerilya.

Dari pegunungan ini segala sesuatu diorganisir, termasuk menerbitkan selebaran, sampai kemudian di tahun 1958 sanggup miliki stasiun radio sendiri yang dinamakan “Radio Rebelde” (Radio Pemberontakan). Gerilya terus dilancarkan di luar kota. Sementara di perkotaan Gerakan 26 Juli mengorganisasikan perlawanan bawah tanah (klendenstin) dengan propaganda sampai sabotase-sabotase. Respon Batista pun semakin brutal.

Kemenangan Revolusi

Tidak banyak cerita tentang perjalanan gerilyawan dari timur ke barat Kuba dalam film ini. Juga tidak diceritakan bagaimana pasukan Fidel, Raul, dan Almeida, memenangkan pertempuran yang menentukan di Guisa, serta kemudian pasukan Che dan Camilo Cienfuegos menang di Santa Clara. Hanya ditunjukkan bahwa tanggal 1 Januari 1959 iring-iringan pasukan gerilya memasuki kota Havana dan mereka dielu-elukan oleh rakyat.

Sesaat setelah memasuki kota Havana, Fidel Castro menyampaikan orasi politiknya yang pertama. Di tengah kerumunan massa yang gegap gempita, mereka melepas dua ekor merpati putih sebagai simbol perdamaian. Hal yang tak diduga terjadi. Seekor merpati terbang mengitari podium dan hinggap di pundak Fidel. Merpati putih, bagi agama kristiani maupun kepercayaan sebagian suku Afrika, menyimbolkan kesakralan tertentu. Demikian halnya masyarakat Kuba yang saat itu masih sangat religius.“Dengan kejadian ini orang-orang percaya bahwa Fidel Castro adalah utusan Kristus”, ujar Juan Almeida sambil tertawa.

Konsolidasi kemenangan selanjutnya dilakukan Fidel ke sejumlah negara di Amerika Latin. Fidel juga berkunjung ke AS untuk mendapatkan “pengertian yang baik” dari publik AS mengenai revolusi mereka. Sepulang dari AS Fidel mulai melakukan redistribusi lahan atau reformasi agraria. Pembagian lahan ini bersinggungan dengan dua kepentingan sekaligus, yakni perusahaan-perusahaan AS dan kalangan elit Kuba.

Kepentingan keluarga Fidel sendiri tidak luput dari kebijakan ini. Ramon Castro, adik Fidel, menuturkan bahwa orang tuanya menyekolahkan Fidel di fakultas hukum dengan harapan ia dapat membela kepentingan keluarganya. Keluarga Castro sendiri pemilik lahan luas dan tergolong petani kaya. Ternyata sarjana hukum tersebut yang justru menandatangani kebijakan bagi-bagi lahan untuk petani miskin.

Ketegangan dengan AS semakin memuncak kala kebijakan Fidel dibalas AS dengan mengembargo perekonomian Kuba. Seluruh perusahaan AS, yang saat itu menguasai perekonomian Kuba, dinasionalisasi. Di saat-saat ini lah Fidel mendeklarasikan Sosialisme sebagai jalan bagi rakyat Kuba.

Mempertahankan revolusi

Sebagai negeri sosialis yang berada di ujung hidung negeri imperialis, tidak mudah bagi Kuba untuk menempatkan dirinya benar-benar independen dalam hubungan luar negerinya. Tapi ini tidak mencegahnya untuk memberi solidaritas kepada negeri-negeri lain yang berjuang untuk pembebasan nasionalnya. Atas komando Fidel, Kuba mengirimkan berbagai bantuan untuk Vietnam ketika menghadapi AS, kemudian mengirim 36.000 pasukan dan paramedis ke Afrika, membantu perlawanan rakyat Angola menghadapi kolonial Portugis yang didukung negeri-negeri imperialis lain.

Daya tahan revolusi Kuba diuji terutama setelah Uni Soviet runtuh tahun 1991. Pasokan bahan bakar menurun drastis, sehingga terjadi kelangkaan angkutan. Perekonomian secara umum pun mengalami penurunan. Ekspor turun sampai 50%, impor turun sampai 70%, dan pabrik-pabrik banyak yang tutup. Sejumlah warga yang tidak sanggup menghadapi situasi sulit ini memilih migrasi ke Amerika Serikat. Banyak diantaranya yang menggunakan perahu seadanya.

Kali ini Fidel kembali tampil menjadi penyemangat. Ia datang ke kampung-kampung rakyat dan secara langsung menyampaikan sikapnya terhadap situasi tersebut, seperti terliput berikut:

Kita berada dalam situasi khusus, salah suatu periode yang paling sulit dalam sejarah kita. Kenapa? Karena kita sendirian (di dunia) melawan imperium. Jadi apa yang dibutuhkan? Bersatu, berani, semangat patriotisme dan revolusioner. Hanya orang yang lemah, kaum pengecut, yang menyerah dan mundur ke perbudakan. Seorang yang terhormat, berani, seperti kita ini, tidak akan menyerah atau mundur ke perbudakan.

Banyak orang meramalkan bahwa sosialisme Kuba paling lama bertahan satu-dua tahun lantas akan ambruk menyusul Uni Soviet. Ternyata sampai detik ini revolusi Kuba masih bertahan. Kemajuan-kemajuan sosial yang telah diraih dalam sosialisme tidak pernah dikompromikan.

Film ini kaya dokumentasi langka; baik tentang kehidupan Fidel di masa lalu maupun yang terbaru, baik pertemuan-pertemuannya dengan tokoh-tokoh dunia maupun keakrabannya dengan kaum buruh, musisi, sampai anak-anak. Meski belum tersedia subtitle dalam bahasa Indonesia, rasanya sayang bila dokumenter hebat ini dilewatkan begitu saja

Dominggus Oktavianus, Sekretaris Jenderal Partai Rakyat Demokratik (PRD)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Ruhaeni Intan Hasanah

    halo, dimana bisa dapatkan film ini?