Solidaritas Sampai Merdeka Untuk Palestina

Kutukan yang paling keras sudah dialamatkan kepada Israel dari seluruh dunia atas kekejaman yang terjadi di Gaza sejak 11 Juli 2014 lalu. Beberapa pemerintahan, khususnya di Amerika Latin seperti Chile, Peru, dan El Savador, telah menarik duta besarnya dari Israel sebagai bentuk protes. Aksi-aksi massa juga terjadi di berbagai negara. Tapi Israel tidak menghiraukan. Mereka beralasan bahwa militan Hamas berlindung di pemukiman sipil untuk meluncurkan roket. Dengan alasan itu pengeboman atas sasaran-sasaran sipil tetap mereka benarkan, seburuk apapun dampaknya bagi rakyat dan anak-anak di Gaza.

Sampai berkali-kali rudal Israel menghantam sekolah-sekolah PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa), kutukan semakin menggema, baru kemudian Israel setuju gencatan senjata dan memberi jeda untuk misi kemanusiaan di Gaza. Hanya jeda, untuk kemudian menyerang lagi.

Klaim Israel bahwa sekolah-sekolah tersebut digunakan sebagai basis peluncuran roket Hamas sesungguhnya sangat tidak masuk akal berhubung fasilitas PBB itu dijamin ‘netral’ sehingga warga Gaza menganggap cukup aman untuk berlindung. Tapi, kutukan bukan hanya layak diberikan manakala rudal tersebut menyasar fasilitas PBB atau rakyat sipil, melainkan karena agresi antar bangsa yang dilakukan.

Satu hal yang perlu dipahami dengan baik, bahwa rentetan kejadian belakangan ini bukan lagi sekumpulan insiden. Bukan karena kesalahan-kesalahan teknis atau human error di lapangan. Bisa dipastikan semua itu disengaja. Disamping masalah kemanusiaan yang sedang mengemuka, ada persoalan hak merdeka bangsa Palestina yang selama ini diinjak-injak oleh Israel.

Bila merunut pada masalah hak kemerdekaan ini, sudah tidak terhitung jumlah rudal Israel yang menghantam Gaza dengan korban sipil dan anak-anak. Bisa jadi Israel menganggap dirinya superior di antara bangsa-bangsa lain sejak memenangi perang Arab-Israel tahun 1948. Bahkan, patut diuji anggapan bahwa Israel memang sengaja melakukan genosida, suatu kerja pemusnahan sistematis atas orang Palestina, agar mereka dapat menguasai sepenuhnya Tanah Palestina.

Tentunya kita tidak menutup mata bahwa di kalangan warga sipil Israel sendiri ada yang menjadi korban roket Hamas. Tapi ceritanya akan lain bila Israel tidak memblokade Gaza yang menyebabkan penderitaan berlapis bagi rakyat setempat. Dan lebih akan berbeda lagi, bila Israel menghormati Palestina sebagai negara-bangsa yang merdeka dan sedia hidup berdampingan secara damai.

Persoalannya, Israel tidak sendiri dalam sikapnya yang kepala batu itu. Terdapat negara-negara Barat yang membela mereka habis-habisan. Sejak Israel berdiri tahun 1948 sampai sekarang, negara-negara Barat tidak pernah berhenti menyokong Israel dalam berbagai bentuk. Sampai yang terakhir: di Prancis, aksi-aksi solidaritas terhadap Palestina dibubarkan dengan kekerasan. Bahkan, di tengah serangan rudal terhadap anak-anak di Gaza, pemerintah Amerika Serikat (AS) masih berikan bantuan kepada militer Israel sejumlah 2,6 triliun rupiah.

Banyak pendapat yang menunjuk kekuatan lobby Israel di AS sebagai penyebab sikap pemerintah AS yang terus saja menyokong Israel. Pendapat ini barangkali benar. Tapi, logisnya adalah timbal-balik untuk kepentingan AS sendiri, terutama secara ekonomi-politik. Mengapa ekonomi politik? Karena sumber daya alam (khususnya minyak) dan letaknya yang strategis sebagai wilayah pertemuan antara daratan Asia, Afrika dan Eropa.

AS sebagai pemegang ‘kendali’ wilayah ini paska menang Perang Dunia II membutuhkan Israel sebagai sekutu terpercaya di Timur Tengah. Dan tampaknya lobby Israel berhasil meyakinkan elit AS tentang hal ini. Sementara kekuatan yang berada di seberangnya, yang bersimpati terhadap Palestina, seperti gerakan BDS (Boikot, Divestasi, dan Sanksi), sebagian besar bukanlah datang dari kalangan yang punya akses lobby ke lingkaran elit AS. Tapi gerakan semacam ini terus mendapat dukungan seiring kebrutalan Israel dan pemerintahan mereka yang bungkam dalam kebohongan.

Sampai di sini kita sadari, bahwa satu-satunya cara menghentikan pembantaian di Gaza adalah dengan solidaritas yang sebesar-besarnya dari seluruh dunia, baik rakyat maupun pemerintahan berbagai negara. Solidaritas di sini dalam makna yang sebenar-benarnya, jika punya sedikit waktu bisa melampaui sekedar ucapan prihatin atau pernyataan kesedihan. Solidaritas sebagai sesama umat manusia, sesama penghuni bumi yang diwariskan kepada kita tidak secara gratis, tapi menuntut tanggungjawab untuk berpartisipasi dalam kerja besar memanusiakan manusia.

Sebagaimana yang dikatakan oleh seorang kawan dari seberang: para Martir Palestina bukan lah angka, mereka bukanlah korban salah sasaran (colateral damages). Tiap-tiap mereka punya nama, mempunyai wajah, punya keluarga yang menguburkan mereka, punya cerita, tapi yang terpenting adalah punya penyebab, punya tanah yang untuk itu mereka mati.

Dominggus Oktavianus, Sekretaris Jenderal Partai Rakyat Demokratik (PRD)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut