Merindukan Semangat Soeratin

Kisruh di Kongres PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia) pada 20 Mei 2011, bertepatan peringatan hari Kebangkitan Nasional ke 103, membuat kita patut bertanya, untuk apa dan buat siapa organisasi ini didirikan?

Jika menengok sejarah, pendiri sekaligus Ketua Umum PSSI yang pertama, Soeratin Sosrosoegondo, menyadari sepakbola bukan sekadar urusan prestasi, namun juga saluran perjuangan bangsa. Pada Piala Dunia 1938 di Perancis, NIVU (Nederlandsche Indische Voetbal Unie) yang disokong penguasa kolonial berhak mengirim tim mewakili Hindia Belanda. Padahal, PSSI (saat itu bernama Persatoen Sepakraga Seloeroeh Indonesia) sudah terbentuk sejak 1930, namun di tengah penjajahan belum diakui internasional mengirim tim sendiri.

Soeratin lalu menantang tim NIVU bertanding melawan tim PSSI untuk menentukan siapa lebih layak tampil di Piala Dunia. Ia cukup percaya diri karena sejak 1931 PSSI menyelenggarakan kompetisi secara rutin dengan didukung berbagai perserikatan (vakbond). Setiap perserikatan melakukan kompetisi internal strata I dan II, untuk kemudian diadakan kejuaraan antar perserikatan. Adapun tim NIVU banyak diisi pegawai perusahaan Belanda. Pertandingan itu tak pernah terlaksana, dugaan yang muncul NIVU takut timnya dipermalukan kesebelasan bentukan “inlander” mengingat di atas kertas tim PSSI lebih kuat.

Kualifikasi Asia untuk Piala Dunia 1938 hanya diikuti Hindia Belanda dan Jepang. Tim NIVU lolos semata karena kemenangan WO atas Jepang yang tidak tampil akibat Perang Sino. Di Perancis, tim NIVU kalah telak 0-6 dari Hongaria sehingga dengan sistem gugur langsung angkat koper.

Apa yang dilakukan Soeratin dan PSSI merupakan cermin semangat zaman pergerakan era 1920-30-an. Di saat para pemimpin organisasi-organisasi sosial dan politik menyadarkan rakyat melalui pidato-pidato dan pengkaderan, serta membangun sekolah-sekolah bumiputera, PSSI menyalurkannya melalui aktivitas sepakbola terprogram untuk menumbuhkan jiwa kebangsaan.

Soeratin juga mendorong pembentukan ISI (Ikatan Sport Indonesia) sebagai badan olahraga nasional untuk menghimpun kekuatan olahraga bumiputera. Pada 1938 ISI menyelenggarakan Pekan Olahraga di Surakarta. Saat itu Surakarta menjadi pusat pergerakan bangsa melalui olahraga sehingga di masa penjajahan sudah terbangun sumber daya manusia dan infrastruktur yang menunjang kelahiran olahraga nasional. Tidak heran 10 tahun kemudian kota ini terpilih menyelenggarakan PON I untuk menunjukkan kepada dunia bahwa bangsa Indonesia tetap bersatu di tengah dampak Perjanjian Renville yang menempatkan Republik Indonesia hanya sejajar dengan negara-negara boneka bentukan Belanda.

Mengacu Ernest Gellner dalam Nations and Nationalism (1983), perjuangan gagasan nasionalisme memiliki hubungan erat dengan egalitarianisme dan usaha melakukan mobilitas vertikal. Dengan wadah berhimpun dan berkomunikasi, kunci penggeraknya adalah pendidikan yang menyediakan pelatihan umum.

Tak Berbekas

PSSI didirikan sebagai organisasi perjuangan, sehingga keterbatasan fasilitas bukan halangan. Semangat itu masih terus dipegang dunia sepak bola Indonesia era 1950-an hingga 1970-an. Di Olimpiade Melbourne 1956, Indonesia sempat menahan 0-0 Uni Soviet, tim kuat yang akhirnya juara. Pada Kualifikasi Olimpiade 1976, Indonesia hanya kalah adu pinalti melawan Korea Utara untuk menentukan satu wakil Asia.

Prinsip egalitarianisme dan usaha melakukan mobilitas vertikal tersebut juga relevan sebagai landasan membangun sepakbola profesional era modern. Dengan prinsip itu dapat dihasilkan kompetisi berkualitas yang menyedot perhatian masyarakat seluasnya sehingga menarik minat sponsor.

Namun pudarnya prinsip tersebut dalam tubuh PSSI membuat prestasinya terpuruk. Pembinaan sepakbola usia dini dan berjenjang tidak pernah ditangani serius, sebagai syarat pelatihan dan regenerasi bagi masyarakat sepakbola modern. Jalan pintas selalu ditempuh, sebagaimana berulang kali membikin proyek pembinaan tim ke luar negeri. Dalam menjalankan kompetisi, kontroversi sering terjadi, seperti jadwal yang tak konsisten, persoalan kontrak pemain, dan masalah wasit. Dugaan korupsi, mafia suap, dan pengaturan skor juga muncul.

PSSI juga tidak serius memperjuangkan Soeratin menjadi pahlawan nasional ketika mengajukan ala kadarnya tanpa riset mendalam pada 2005. Jika Dewi Sartika di bidang pendidikan dan RA Kartini di bidang emansipasi perempuan dianugerahi pahlawan nasional, rasanya sangat layak dipertimbangkan agar Soeratin disematkan gelar itu mengingat jasa historisnya cukup besar membangun karakter bangsa melalui olahraga. Tapi makamnya di Bandung saja tidak diurus PSSI yang menjadi simbol diabaikannya semangat Soeratin.

Sebagai ingenieur lulusan Jerman, Soeratin dapat hidup enak jika bekerja di perusahaan besar. Tapi ia memilih jalan terjal dengan sibuk mendirikan dan mengurus PSSI di tengah dominasi kolonial. Hidupnya susah dan meninggal dunia karena kekurangan uang untuk membeli obat.

Milik Rakyat

Perkembangan sepakbola nasional kontemporer mengindikasikan banyak orang berebut mengurus PSSI tanpa berlatar belakang dedikasi tinggi, melainkan sekadar menjadikannya lahan mencari materi dan bahkan disusupi aneka kepentingan sempit politik.

Padahal di tengah rangkaian gesekan sosial dan karut marut penyelenggaraan negara, sepakbola Indonesia dapat menjadi alat pemersatu dan saluran perjuangan bangsa. Dalam ajang Piala AFF lalu, tim nasional memberi ruang penghubung, perajut, dan pemakna kesadaran bersama sebagai bangsa. Pada saat semangat bhinneka tunggal ika di masyarakat memudar, semboyan ”Garuda di Dadaku” justru berkobar dan menggetarkan berbagai komponen bangsa lintas suku, etnis, dan agama.

PSSI bukan kepunyaan segelintir pihak yang membangun hubungan saling ketergantungan untuk menciptakan monopoli. PSSI adalah organisasi milik rakyat Indonesia yang lahir dari rahim pergerakan sehingga harus diselamatkan. Bukan hanya untuk kebangkitan sepakbola nasional, tapi juga sebagai bagian membangun karakter bangsa melalui sepakbola sebagaimana diwariskan Soeratin.

*) Retor AW Kaligis adalah pencinta Sepak Bola Indonesia dan Doktor Sosiologi Universitas Indonesia.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut