Kaum Kiri Dan Reformasi (Bagian Pertama)

Apakah kaum kiri telah menjadi reformis?

Apakah kenyataan bahwa semakin banyak sektor Kiri di Amerika Latin dalam beberapa tahun ini mengkonsentrasikkan upaya mereka dalam ruang-ruang institusional berarti bahwa mayoritas kaum Kiri ini telah menjadi reformis?

Untuk menjawab pertanyaan ini kita harus pertama-tama menjawab beberapa pertanyaan lainnya: apakah Kiri yang berkonsentrasi pada hal-hal yang institusional pasti reformis? Apakah Kiri yang menolak hal-hal institusional dan mengajukan solusi yang sangat radikal pasti revolusioner? Apakah mereka yang kini memilih untuk maju melalui berbagai reformasi adalah kaum reformis?

Untuk memulainya, bagi saya sepertinya penting untuk merefleksikan sesuatu yang ditulis oleh seseorang beberapa dekade yang lalu: ‘Bahaya terbesar, mungkin satu-satunya bahaya bagi revolusioner sejati adalah revolusionisme yang dibesar-besarkan, yang mengabaikan batas-batas dan kondisi yang mengatur tentang metode revolusioner mana yang cocok dan dapat diterapkan dengan sukses.’ Ini bukanlah perkataan seorang sosial demokrat; ini adalah perkataan seorang revolusioner – tak lain dari Lenin sendiri. Ia berlanjut mengembangkan idenya dalam perkataan ini: ‘ Revolusioner sejati kebanyakan menemui kejatuhannya ketika mereka mulai menulis ‘revolusi’ dengan huruf kapital R, dan menjunjung ‘revolusi’ menjadi sesuatu yang ilahiah, kehilangan akal pikiran, kehilangan kemampuan untuk merefleksikan, menimbang dan memastikan dengan cara yang paling dingin dan tanpa nafsu pada momen apa, dalam situasi apa, dan dalam wilayah aksi mana kau harus bertindak secara revolusioner, dan pada momen, dalam situasi dan wilayah mana kau harus beralih pada tindakan reformis’.

Perbedaan antara revolusi dan reformasi

Perbedaan antara kaum reformis dan kaum revolusioner tidak selalu jelas, karena – seperti dikatakan oleh Norberto Bobbio – ‘reformasi tidak selalu diajukan untuk menghindari revolusi, pun revolusi tidak harus dihubungkan dengan penggunaan kekerasan’. Ketika kedua posisi ini dikembangkan menjadi hasil akhirnya yang logis, akan lebih mudah untuk membedakannya, tapi dalam praktek politik sehari-hari jauh lebih susah untuk melakukan itu.

Nyatanya, para pendiri Marxisme selalu mendukung pertempuran untuk reformasi, walaupun mereka mengetahui bahwa ‘reformasi adalah nama yang diberikan untuk perubahan-perubahan yang membiarkan kekuasaan negeri di tangan kelas penguasa yang lama’.

Masalahnya bukanlah mengatakan ya atau tidak kepada reformasi, tapi memeriksa kapan saat yang masuk akal untuk memperjuangkan reformasi dan bagaimana memetik buah revolusioner darinya.

Kesimpulannya, baik penggunaan kekerasan, di satu pihak, maupun penggunaan institutsi dan mengajukan reformasi, di pihak lainnya, tidak dapat digunakan sebagai kriteria dalam menarik garis demarkasi antara revolusi dan reformasi.

Maka, apa kriteria yang harus digunakan?

Menurut saya, definisi terbaik dalam memberi label reformis adalah kepada mereka yang hendak memperbaiki tatanan yang ada melalui reformasi, dan label revolusioner kepada mereka yang, meskipun mendorong reformasi, pada saat yang sama berjuang untuk memodifikasi tatanan tersebut secara mendalam, membawa perubahan yang tidak dapat terjadi tanpa keluar dari tatanan yang ada sebelumnya.

Syarat yang diperlukan agar perjuangan institusional mencapai tujuan revolusioner

Bagaimana mungkin mendeteksi apakah suatu praktek politik yang menggunakan reformasi dan mengambil rute institusional adalah reformis atau revolusioner, khususnya ketika pernyataan tujuan perjuangan semakin tidak berarti dalam politik?

Saya mengusulkan kriteria berikut untuk menentukan se-revolusioner apa suatu praktek politik:

Pertama: bila reformasi yang diajukan disertai oleh upaya paralel untuk memperkuat gerakan rakyat, sedemikian rupa sehingga semakin besar sektor rakyat yang mengorganisir diri dan bergabung dalam perjuangan.

Kedua: bila terdapat pelajaran yang bisa dipelajari dan diajarkan ketika kaum Kiri bekerja di dalam kerangka institusional yang ada. Kampanye elektoral, contohnya, dapat menjadi ruang yang sangat baik untuk pendidikan kerakyatan, asalkan kampanyenya diarahkan untuk meningkatkan kesadaran rakyat terhadap persoalan-persoalan politik yang paling penting. Walau demikian, sebuah kampanye juga dapat tereduksi menjadi semata-mata kerja pemasaran yang, bukannya meningkatkan kesadaran, justru menyesatkan rakyat atau semata-mata tidak berperan apa pun dalam peningkatan kedewasaan politik mereka.

Ketiga: bila praktek politiknya berbeda, sehingga tidak mungkin salah membedakan antara perilaku kaum Kiri dan partai-partai politik tradisional. Ini juga harus merefleksikan upaya untuk membeberkan batasan-batasan institusi-institusi yang ada dan kebutuhan untuk mengubahnya, tapi tanpa menciptakan harapan bahwa jalur reformasi mampu menuntaskan permasalahan yang membutuhkan solusi revolusioner.

Saya setuju dengan Carlos Vilas bahwa ‘tantangan yang dihadapi oleh organisasi-organisasi yang di masa lalu mengambil perjuangan bersenjata atau konfrontasi politik yang intens berhubungan dengan kemampuan dan kerelaan mereka untuk tetap setia pada proposal perubahan yang mendalam dalam skenario institusional yang baru. Skenario yang menuntut agar dilakukan penyesuaian dalam hal gaya, ritme dan strategi, tapi dalam prinsipnya seharusnya tidak melibatkan perubahan dalam konsep-konsep yang substansial atau dalam lingkup proposal alternatif.’ (Bersambung)

*) Marta Harnecker adalah seorang Sosiolog, Ilmuwan Politik, Jurnalis, dan Aktivis. Setelah mempelajari Louis Althusser di Paris, Ia kembali ke negerinya, Chili. Tetapi kemudian harus menjalani pengasingan di Kuba setelah kudeta militer terhadap pemerintahan kiri Salvador Allende. Marta Harnecker juga melakukan serangkaian penelitian di institute Memoria Popular Latinoamericana (LatinAmerican Popular Memory (MEPLA)). Buku-buku dan karyanya banyak menjadi referensi bagi gerakan kiri Amerika latin dan berbagai belahan dunia.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut