Menghadapi Defisit Ekspor

Ekspor Indonesia tiba-tiba defisit. Ini terjadi dalam dua bulan terakhir: April dan Mei 2012. Pertumbuhan nilai ekspor Indonesia tiba-tiba menurun. Selain itu, nilai impor, khususnya bahan baku industri dan migas, juga mengalami peningkatan.

Menurut catatan BPS, perdagangan pada bulan April 2012 mengalami defisit sebesar 641,1 juta dollar AS. Sedangkan perdagangan pada Mei 2012 mengalami defisit sebesar 485,9 juta dollar AS. Bagi sebagian orang, kecenderungan defisit perdagangan dalam dua bulan tersebut membawa sinyal “berbahaya”.

Seperti kita ketahui, ekspor merupakan salah satu faktor penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Artinya, jika defisit ekspor tak bisa diatasi, maka pertumbuhan ekonomi pun akan terganggu. Sejauh ini, langkah yang coba diambil pemerintah, antara lain: menahan laju impor dan mencari pasar baru untuk mendongkrak ekspor.

Sesederhana itukah persoalannya? Problem ‘defisit ekspor’ ini sebetulnya berakar pada problem pokok dalam politik perekonomian Indonesia.

Pertama, sebagian besar ekspor Indonesia masih masih berupa bahan mentah: batubara, minyak, bauksit, gas, minyak kelapa sawit, dan karet. Nah, ketika permintaan atau harga komoditi itu menurun, maka ekspor indonesia tentu akan merasakan dampak secara langsung.

Ini masih menyisakan ciri perekonomian kolonial. Sejak jaman kolonial, ekspor kita juga sebagian besar adalah bahan mentah. Padahal, kebiasaan ekspor bahan mentah ini membawa banyak kerugian: kehilangan nilai tambah, kehilangan lapangan pekerjaan, dan menghilangkan basis untuk pembangunan industri dalam negeri.

Kedua, kegagalan Indonesia menjalankan industrialisasi. Ini berdampak serius: kita sangat bergantung pada barang-barang impor. Ironisnya, barang-barang yang diimpor itu sebetulnya punya potensi untuk diproduksi di Indonesia. Lihat saja kebutuhan susu nasional, misalnya. Untuk diketahui, sebanyak 74% kebutuhan susu di dalam negeri bergantung pada impor. Padahal, seperti anda ketahui, kita punya peluang dan syarat-syarat untuk menjadi produsen susu.

Ketiga, industri kita sangat bergantung pada bahan baku dari luar. Jika dilihat dari nilai impor pada April 2012, sebagian besar impor kita adalah bahan baku/penolong dari luar, yakni sebesar 72,93% atau senilai US$45,488 miliar.

Ironisnya, sebagian bahan baku itu bisa diproduksi di dalam negeri. Salah satu yang diimpor, misalnya, adalah karet olahan dari Korea Selatan dan Tiongkok untuk kepentingan industri sepatu. Padahal, karet mentahnya berasal dari Indonesia.

Dengan demikian, kebijakan pemerintah melarang ekspor bahan mentah mestinya dibarengi dengan usaha besar-besaran untuk mendirikan industri olahan dan industri bahan baku/penolong. Untuk itu, perlu untuk mendorong pembangunan infrastruktur, elektrifikasi, dan pemastian pasokan energi.

Keempat, pasar ekspor Indonesia—karena bergantung pada ekspor bahan mentah—sangat terbatas: Tiongkok, Amerika Serikat, Jepang, dan Eropa. Akibatnya, ketika AS dan eropa mengalami krisis, maka permintaan untuk ekspor bahan mentah Indonesia juga semakin merosot.

Perekonomian kita belum merdeka. Peranan modal asing masih sangat dominan. Bahkan menguasai sektor-sektor dan aset-aset strategis. Akibatnya, politik ekspor sangat dikendalikan oleh perusahaan-perusahaan asing itu. Juga, karena ketergantungan pada modal asing, maka pembangunan industri tidak berporos pada pemenuhan kebutuhan mendasar rakyat.

Problem pokok dari semua persoalan di atas adalah tidak berdaulatnya perekonomian nasional kita. Kita tidak punya politik perekonomian: tindakan apa yang harus dijalankan dalam jangka pendek dan jangka panjang untuk menggunakan atau mengelola potensi dan sumber daya nasional untuk kepentingan rakyat.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut