Bung Karno Dan Suka Duka Memimpin Republik Di Masa Awal

BK-mogok.jpg

Ada kantor dan fasilitas dulu baru bekerja. Begitulah kira-kira mental pejabat negara sekarang. Uh, dasar birokrat mata-duitan. Bicaranya gaji dulu sebelum bekerja. Minta dipastikan mobil dinas dan rumah dinasnya. Dan, huhh, minta pula tunjangan untuk keluarganya.

Tetapi tidak begitu dengan pemimpin Republik di awal kemerdekaan. Proklamasi kemerdekaan saja berlangsung sederhana: tidak ada pesta, tidak ada musik, tiang benderanya pun dari bambu yang baru dipotong, tidak ada seragam peserta upacara, dan upacaranya hanya berlangsung di halaman rumah. Tetapi begitulah Revolusi.

Bung Karno ditunjuk sebagai Presiden tanggal 18 Agustus 1945. Saat itu, tidak ada perayaan khusus atas penunjukan sebagai Presiden itu. Hanya sate lima puluh tusuk sebagai ungkapan rasa terima kasih. Istri Bung Karno, Fatmawati, juga tak melompat kegirangan begitu mengetahui suaminya diangkat sebagai Presiden. Tidak seperti istri-istri pejabat sekarang.

Saat itu, Bung Karno adalah presiden tanpa istana negara. Istananya adalah rumah kediamannya. Sementara istana merdeka—istana negara kita saat ini—baru ditempati Bung Karno tahun 1949. Coba bayangkan, seandainya Bung Karno minta kantor dulu baru menjadi Presiden, betapa sulitnya membentuk Republik saat itu. Untung saat itu pejabat negara tak bermental “pejabat KPK”!

Apa bung Karno sudah punya kendaraan? Tidak ada. Sekalipun begitu, Bung Karno tidak merengek minta dibelikan mobil dinas. Ide mobil kepresidenan justru dilontarkan oleh seorang pejuang kemerdekaan. Namanya Sudiro. Ia aktivis Menteng 31—kelompok pemuda radikal jaman itu.

Ceritanya begini: Sudiro mengetahui ada mobil buick besar dengan kapasitas tujuh orang. Mobil itu punya gorden di jendela belakang. Ini mobil paling keren di jakarta kala itu. Sayang, mobil itu punya orang Jepang: kepala Jawatan Kereta Api.

Tapi ini perkara gampang buat Sudiro. Ia mencari mobil itu dan menemukannya sedang parkir di garasi. Kebetulan, ia mengenal sopir mobil itu. Orang Indonesia juga. Sudiro meminta kunci pada sopir itu. Sopir itu kaget dan bertanya: kenapa?

“Kenapa?” Sudiro mengulang pertanyaan orang itu, “karena saya bermaksud hendak mencurinya buat presidenmu.”

“Oh, begitu, baiklah,” kata orang tersebut sambil meringis.

Sopir tadi disuruh pulang ke kampung halamannya. Lalu, masalah baru muncul: Sudiro bukan pencuri mobil yang hebat. Ia tak bisa menyetir. Maklum, jarang sekali orang Indonesia punya kendaraan jaman itu. Akhirnya, Sudiro meminta bantuan kawannya yang juga seorang sopir.

Begitulah Presiden pertama Indonesia punya mobil kepresidenan. Ia tak seperti Presiden sekarang: belum punya prestasi apapun tetapi sudah minta dibelikan pesawat kepresidenan. Orang bisa bilang, tindakan Sudiro itu kriminal. Saya kira, dalam jaman revolusi tak ada yang namanya kriminal. Lagi pula, nilai mobil itu tak sebanding dengan kekayaan dan harta bangsa Indonesia yang dirampok Jepang.

Cara “ala Sudiro” itu juga dipergunakan pula oleh Adam Malik untuk menyebarkan berita proklamasi kemerdekaan. Saat itu, Adam Malik memang bekerja di kantor berita Domei milik penguasa Jepang. Nah, pada tanggal 17 Agustus 1945 itu, saat orang-orang Jepang sedang makan siang, Adam Malik memanfaatkan pemancar gelombang pendek untuk menyiarkan berita proklamasi kemerdekaan.

Versi lain mengatakan, berita proklamasi kemerdekaan disiarkan pertama-kali olehJusuf Ronodipuro, yang saat itu bekerja di Hoso Kyoku Jakarta (Radio Militer Jepang di Jakarta), setelah mendapatkan naskah proklamasi dari Adam Malik.

Saat itu, bendera kebangsaan kita sudah ditetapkan merah-putih. Rakyat Indonesia dikenal gemar akan lambang-lambang. Republik belum punya uang untuk nyetak bendera. Berbeda dengan parpol-parpol sekarang, yang kadang hanya karena mau menyelenggarakan sebuah pertemuan, sangat gampang menghamburkan bendera di seantero tanah air.

Pemimpin Republik tak putus asa. Maka dibuatlah 10 juta bendera merah-putih yang terbuat dari kertas. Bendera-bendera itu kemudian disebar ke seantero tanah air melalui bantuan para kurir.

Begitu merdeka, Indonesia mesti berhubungan dengan dunia luar. Termasuk dalam urusan diplomati dan pers. Ada cerita tersendiri terkait konferensi pers pertama dalam sejarah Republik. Konferensi pers hanya dilakukan di depan beranda rumah Bung Karno di Pegangsaan Timur 56. “Press office”-nya adalah seorang pelajar yang tentu belum berpengalaman. Nah, saat itu—di masa awal Republik—Bung Karno hanya menyediakan teh untuk tamu-tamunya.

Tanggal 5 oktober 1945 Indonesia punya tentara nasional. Tapi, saat itu, jangankan untuk beli senjata, beli seragam pun Republik masih tak sanggup. Jadinya, sebagian besar seragam tentara nasional adalah hsil rampasan dari belanda. Ada juga yang dirampas dari tentara Australia dan Jepang. Pokoknya semuanya rampasan: seragam, sepatu lars, tanda pangkat, dan lain. Maka, jangan heran kalau ada prajurit yang cuma memakai peci sebagai penutup kepala. Saat itu, Republik belum punya senjata. Ada kalanya satu pucuk senjata dipegang oleh lima prajurit. Ada pula prajurit yang belum punya senjata, tak memakai seragam, bahkan tak bergaji.

Jangan tanya pakaian resmi Bung karno. Ia membuat sendiri uniformnya. Sebagian besar pakaiannya dijahit dan dipermak sendiri. Bahkan, salah satu seragam kebesarannya adalah pakaian bekas militer wanita Australia. Ia tak seperti pejabat sekarang yang pakaiannya bernilai jutaan.

Begitu sederhananya Bung Karno di masa awal memimpin Republik. Ini hanya bagian kecil dari kisah-kisah kesederhanaan pemimpin di masa awal Republik. Intinya, kita ingin memberi tahu pemimpin sekarang: menjadi pemimpin itu adalah soal pengabdian kepada rakyat dan negara. Kita harus siap berkorban dan hidup menderita karenanya.

Rudi Hartono

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Lilik Soehendro

    akankah muncul kembali pemimpin seperti ini pada jaman nan serba instan, ……