Mendiskusikan Buku “Imperialisme Baru” Karya David Harvey

“Siapa yang mengontrol minyak Timur Tengah, maka dia telah mengontrol keran minyak dunia. Dan siapapun yang sudah mengontrol keran minyak dunia, maka dia sudah mengontrol ekonomi global,” demikian kata David Harvey dalam bukunya “Imperialisme Baru”, yang diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh Resist Book.

Perbicangan mengenai imperialisme mengharu-biru saat Komunitas Kedai Kopi dan Hik Nusantara menggelar bedah buku karya David Harvey tersebut. Apalagi, sebagian besar peserta dalam diskusi ini adalah aktivis pergerakan se-kota Solo dan sekitarnya.

Kelik Ismunanto, yang didaulat sebagai pembicara dalam diskusi itu, mengatakan apa yang dibahas oleh David Harvet dalam bukunya bukanlah hal baru bagi kalangan aktivis pergerakan yang sudah lama menyimak perkembangan dan dinamika kapitalisme.

Pengertian Imperialisme

Dari sekian banyak defenisi mengenai imperialisme, Harvey memahami imperialisme kapitalis (baca: capitalist imperialism) sebagai sebuah perpaduan kontradiktif antara perpolitikan negara dan imperium serta proses molekular dari akumulasi modal.

Negara dan modal, menurut david harvey, tidaklah identik. Negara, misalnya, dilihatnya beroperasi di wilayah yang tetap dan hanya berubah melalui proses demokratis. Sedangkan kapitalis, pada sisi lain, selalu berkembang dalam ruang dan waktu secara terus-menerus, datang dan pergi, bergeser lokasi, memindahkan sumber daya dan mengambil keputusan secara sepihak.

Meskipun mengaku logika kapitalis dan teritorial berbeda satu sama lain, tetapi Harvey menekankan bahwa keduanya bisa terjalin secara kompleks dan kadang-kadang kontradiktif.

Harvey berpendapat bahwa kebanyakan literatur tentang imperialisme mengasumsikan bahwa proses ekonomi dan politik dipandu oleh negara dan imperium, dan karenanya dipandu oleh motivasi kapitalis. “Kedua logika ini sering berlawanan, dan kadang berkontradiksi secara langsung,” katanya.

Menurut Kelik Ismunanto, ketika berusaha menjelaskan teori Harvey ini, Imperialisme bisa memiliki dua makna sekaligus, yaitu: pertama, sebagai proyek politik khusus dari pelaku-pelaku/aktor-aktor yang kekuasaannya didasarkan pada komando atas satu teritori dan pada kapasitas untuk memobilisir sumberdaya manusia dan alamnya untuk tujuan politik, ekonomi dan militer. Sementara disisi lain, Imperialisme dalam posisinya sebagai suatu proses ekonomi-politik yang lintas ruang dan waktu dimana didalamnya komando atas dan pemanfaatan kapital menjadi hal yang utama (proses-proses molekular dari akumulasi kapital dalam ruang dan waktu).

Dalam makna yang pertama, penggunaan dan pendekatan politik, diplomasi dan militer seringkali digunakan untuk meneguhkan kepentingan-kepentingannya. Sementara tipologi yang belakangan dicirikan dengan cara-cara dimana kekuasaan ekonomi mengalir disepanjang dan melalaui ruang yang kontinyu menuju atau menjauh dari entitas teritori tertentu.

David Harvey, sebagaima Ellen Wood, berpendapat bahwa negara bangsa punya fungsi dalam imperialisme baru dengan dua jalan: pertama, sebagai kekuatan politik, yaitu melakukan pemeliharaan ketertiban sosial, kepastian, stabilitas dan regulasi dan pengendalian peredaran tenaga kerja, modal dan barang. Kedua, negara bangsa sebagai teritori tertutup oleh perbatasan, dapat membuat rezim perbatasan dan unit spasial dasar untuk restrukturisasi tata ruang, pembangunan yang tidak merata dan kontrol sirkulasi dan regulasi.

Spasi dan Geografi

“Spatial/spatio-temporal-fix” adalah sebuah situasi atau kondisi yang dinamakan overakumulasi dengan ditandai adanya sebuah surplus capital (dalam bentuk uang, komoditi atau kapasitas produksi) dan surplus kekuatan tenaga kerja yang mengiringi sehingga memaksa kapitalis untuk melakukan ekspansi geografis dan reorganisasi spasial dengan jalan melakukan investasi di sektor proyek-proyek jangka panjang yang butuh berpuluh-puluh tahun agar nilai investasi tersebut kembali bersikulasi lewat aktifitas produksi yang sedang mereka dukung pendanaanya (jaringan transportasi, komunikasi, pendidikan dan riset).”

Harvey berusaha menempatkan produksi, reproduksi, dan rekonfigurasi ruang selalu menjadi pusat untuk memahami perkembangan kapitalisme. Bentuk kontemporer kapitalis sekarang ini, yaitu globalisasi, tidak lebih dari perputaran lain dar produksi kapitalis dan rekonstruksi ruang.

Harvey mengaku hanya menurunkan konsep dari Marx mengenai “penghancuran ruang melalui waktu” sebagai hukum dasar dari perkembangan kapitalisme. Menurutnya, segala proses itu memerlukan restrukturisasi geografis untuk aktivitas kapitalis (de-industrialisasi di sana, re-industrialisasi di sini, misalnya) di seluruh dunia, memproduksi apa yang disebut “perkembangan kapitalisme yang tidak merata”.

Pertanyaannya, menurut Harvey, bukan pada bagaimana globalisasi berdampak pada geografi, melainkan tentang bagaimana proses-proses geografis spesifik dari produksi dan rekonfigurasi ruang untuk menciptakan kondisi baru bagi perkembangan kapitalisme kontemporer.

Imperialisme Lama dan Imperialisme Baru

Dalam menggambarkan soal imperialisme dewasa ini, David Harvey mencoba mengambil analisa Rosa Luxemburg yang tersampaikan seratus tahun yang lalu. Menurut Luxembug, proses akumulasi kapital terjadi melalui dua jalan: Pertama, beroperasi melalui eksploitasi di tempat kerja, dan itu berlangsung secara ekonomis dan transparan. Kedua, melalui kebijakan kolonial dan terlihat secara telanjang; pemaksaan, perampokan, dan penjarahan.

Menurut Harvey, konsep Luxemburg mengenai “tahap asli kapitalisme” tidak harus dilihat sebagai sesuatu yang terjadi hanya di awal kolonialisme. Demikian juga mengenai konsep Marx tentang akumulasi primitif. Bagi Harvey, hal-hal yang dijelaskan oleh Luxemburg dan Marx mengenai akumulasi primitif masih terjadi hingga sekarang ini.

Harvey menyebut fenomena itu dengan istilah “accumulation by dispossession”. Apa yang dijelaskan Marx sebagai akumulasi primitif, seperti penghapusan paksa keberadaan kaum tani dan cara-cara barbar dalam akumulasi lainnya, masih terjadi sampai sekarang. bahkan, bagi seorang Harvey, proses privatisasi yang menjadi agenda neoliberal saat ini hampir serupa dengan apa yang dijelaskan oleh Marx sebagai akumulasi primitif.

Dalam konteks ini, menurut Harvey, kaum borjuis Amerika sekarang ini telah menemukan cara yang pernah dipergunakan borjuis Inggris di abad ke-19, yaitu perampokan, sebagai cara pertama akumulasi modal dan akan terus dilakukan untuk menjaga motor akumulasi tetap berjalan.

Akan tetapi, apa yang membedakan imperialisme sekarang dan abad 19, katakanlah di Inggris dan Perancis, adalah bahwa imperialisme sekarang ini tidak bekerja dengan apa yang disebut kontrol aktif terhadap teritori (wilayah). Tentunya dengan pengecualian Irak, kata Harvey (dan penambahan Libya dan kasus Timur Tengah, hari ini).

Sekarang ini, imperialisme AS menjalankan agenda imperialistisnya dengan strategi ganda: pertama, melalui pemaksaan kekuasaan ekonominya, dengan menggunakan lembaga semacam IMF, Bank Dunia, dan WTO, yang membuat agenda imperialisme Amerika bisa beroperasi secara bebas di berbagai negara. strategi kedua, yang ini sudah berlangsung sudah cukup lama, adalah bagaimana Amerika serikat berusaha menemukan sekutu lokal yang kuat, dengan bantuan militer dan dana, untuk menjalankan kepentingan-kepentingan imperialistisnya. Inilah yang terjadi dengan rejim Somoza di Nikaragua, Pinochet di Chile, Pahlevi di Iran, dan Soeharto di Indonesia.

Nah, dalam konteks globalisasi, kedua strategi itu dipadukan, meskipun ada peranan spesifik dari lembaga atau institusi keuangan.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Bravo!
    Bagus!
    Sangat menarik!
    Tingkatkan terus pemahaman untuk meningkatkan ofensif melawan Nekolim!

    Pemahaman yang baik dan benar tentang apa imperialisme serta proses ‘mlungsungi’ dan konsekuensinya memang harus selalu ditingkatkan.

    Satu hal yang wajib diwaspadai adalah bahwa nekolim tidak lagi semata-mata memusatkan perhatian terhadap komiditi yang berupa barang, namun komoditi yang berwujud jasa sudah semakin tinggi nilainya.
    Komoditi dagang yang berwujud jasa, antara lain adalah jasa keuangan, jasa transportasi, jasa komunikasi, jasa pendidikan.
    Khusus tentang jasa pendidikan, perlu disimak kembali UU Pendidikan, -yang didahului oleh UU BHMN dan BHP.

    Sekali lagi ‘salut’ kepada anda semua.

    Salam juang,
    HES

  • Natalis

    terimakasih buat artikel ini,
    barangkali bsa menambh gerak kesadaran kita..
    Merdeka buat Pak Marhaen….!

  • Oyonk “Sutoyo”

    Sederhananya Imprealisme adalah Penjajahan gaya baru………….