Membaca Arah Baru Pergerakan Mahasiswa

Inovasi merupakan keharusan bagi pergerakan mahasiswa saat ini, agar tidak tertinggal oleh kereta kemajuan zaman. Pilihan di hadapan kita hanya: berinovasi atau mati!

Geliat aksi demonstrasi mahasiswa dan pelajar dalam satu pekan terakhir September 2019 lalu mengguncang negeri ini. Elit politik mapan pun bertanya dengan nada sinisme konspiratif: “Siapa di belakang mereka?”

Dibangun narasi seolah-olah aksi mahasiswa dan pelajar yang massif itu ditunggangi. Tuduhan tersebut dipertajam oleh Wiranto dalam konferensi pers atas nama Menkopolhukam yang menuding gerakan mahasiswa ditunggangi elit tertentu untuk menggagalkan pelantikan Presiden. Tuduhan tersebut tidak disertai dengan bukti-bukti dan cenderung konspiratif, sehingga cenderung hanya untuk mendelegitimasi gerakan mahasiswa.

Dibanding aksi-aksi sebelumnya, aksi demonstrasi kali ini memiliki efek kejut yang massif dan dukungan yang luar biasa luas. Hebatnya, aksi yang dilakukan tidak dilakukan dengan metode konvensional gerakan. Seruan #GejayanMemanggil, misalnya, yang diinisiasi oleh lingkaran aktivis UGM lintas organisasi dengan metode baru, mecangkokkan kegelisahan kolektif dengan inovasi gerakan yang fresh. Hingga menyedot perhatian publik, dengan partisipasi massa yang begitu luas.

Pertanyaanya, kenapa bukan organisasi pergerakan mahasiswa mapan dan telah berdiri lama yang menjadi pelopor dan inisiatornya? Bukankah itu yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya? Bagaimana pergerakan mahasiswa seharusnya melakukan inovasi pergerakan?

Situasi Baru

Realitas baru hasil perkembangan teknologi informasi menciptakan disrupsi di berbagai hal, termasuk dunia kampus dan pergerakan mahasiswa. Perkembang terknologi digital, yang menjadi ciri Revolusi 4.0, dengan kecerdasan buatannya (artificial intelegent), sentralisasi dan penggunaan data raksasa, dengan Internet of Things-nya,  dan lain-lain, telah mengubah landscape budaya, sosial, ekonomi, dan politik politik.

Gejalanya sudah terasa saat ini. Tinggal dalam hitungan beberapa tahun kedepan, perkembangan baru ini akan mendominasi kehidupan kita. Sementara kehidupan dan penyelenggaraan pendidikan tinggi kita masih diselenggarakan dengan cara-cara lama.

Tak terpungkiri dalam demonstrasi baru-baru ini, penggunaan teknologi sangat berperan. Terutama media sosial, yang memungkinkan isu-isu politik, seperti revisi UU KPK, RKUHP, dan UU bermasalah lainnya, bisa diketahui secara meluas. Tak perlu sebar-sebar selebaran seperti di masa lalu.

Penyebaran pesan dan seruan aksi juga lebih cepat dan meluas berkat teknologi digital dan internet. Banyak orang yang bergerak, hadir di titik aksi, berkat pesan dan seruan aksi yang beredar massif di media sosial.

Tak bisa dipungkiri, pengaruh influencer di media sosial, baik twitter, facebook, maupun instagram, lebih kuat menyampaikan pesan ketimbang Ketua-Ketua Umum organisasi pergerakan mahasiswa ekstra kampus.

Inilah yang menjelaskan kenapa organisasi pergerakan mahasiswa tidak terlihat memimpin atau menjadi penggerak dalam aksi demonstrasi hari ini.

Bahasa atau istilah populer di media sosial, baik lagu hingga film, menjadi bahasa-bahasa poster mahasiswa. Bukan lagi pesan-pesan agitatif nan heroik dari organisasi-organisasi pergerakan mahasiswa.

Inovasi Gerakan

Satu hal mendasar yang sampai saat ini jadi masalah besar dan menghantui pergerakan mahasiswa, yaitu keselarasan antara teks dan konteks, yang belum menjangkau mahasiswa secara luas.

Kebuntuan ini yang perlu diurai lebih jauh. Mempertajam isu-isu perjuangan, sehingga menjadi lebih strategis sekaligus berdampak luas. Aksi-aksi yang terjadi belakangan ini memiliki pola yang mirip dengan gerakan mahasiswa di negara lain. Mereka melepaskan diri dari pengorganisiran aksi yang konvensional, lalu menemukan inovasi-inovasi baru dalam pergerakan.

Mari kita melihat Chili, salah satu negara di Amerika latin yang gerakan mahasiswanya pernah mendunia tahun 2011 lalu, karena menghadirkan mobilisasi massa dalam skala besar hingga berhasil melengserkan 3 Menteri Pendidikan hanya dalam hitungan bulan. Beberapa aktivisnya, seperti Camila Vallejo dan Karol Cariola, sempat menjadi idola banyak aktivis di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.

Dalam jurnal ilmiah bertajuk Internal Movement Transformation and the Diffusion of Student Protest in Chile, terbitan Cambridge University Press 2016, yang ditulis oleh Indira Palacios-Valladares, dipaparkan tentang bagaimana gerakan mahasiswa di negara tersebut bertransformasi.

Buku itu sangat menarik untuk ditelisik lebih lanjut karena membahas tentang transformasi gerakan mahasiswa menjadi sebuah kekuatanpolitik yang besar, salah satunya karena inovasi yang dilakukan sehingga gerakan bisa memobilisasi dan menarik dukungan banyak pihak. Menjangkau mereka yang non-aktivis, merambah ke berbagai Universitas dan Sekolah-Sekolah.

Gerakan tersebut muncul akibat kejenuhan mahasiswa dan siswa terhadap kebijakan neoliberal warisan diktator Chile, Augusto Pinochet (1974-1990). Kebijakan neoliberal tersebut terus dijalankan oleh pemerintahan yang terpilih oleh pemilu demokratis sesudahnya ( 1990-2010).

Kebijakan neoliberal telah membuat biaya pendidikan meningkat, banyak mahasiswa terperangkap utang, dan pemotongan belanja negara untuk pendidikan. Di Chili, neoliberalisme telah menciptakan ladang subur untuk mobilisasi mahasiswa. Di satu sisi, neoliberalisme berkontribusi memperluas akses terhadap pendidikan seiring dengan menjamurnya perguruan tinggi, sehingga memungkinkan kelas menengah dan bawah memasuki pendidikan tinggi. Di sisi lain, neoliberalisme membuat biaya pendidikan meningkat sangat tajam.

Seperti diungkap oleh Indira Palacios-Valladares, sebagian besar mahasiswa yang terlibat dalam aksi demonstrasi berasal dari keluarga berpendapatan rendah dan tidak terafiliasi dengan partai politik.

Keberhasilan mengemas isu menjadi strategis, dengan sektor pendidikan sebagai jantungnya, memungkinkan gerakan mahasiswa mendapat dukungan dari asosiasi pengajar, asosiasi orang tua siswa, serikat buruh, masyarakat adat, hingga gerakan lingkungan.

Selain isu, gerakan mahasiswa juga menggunakan metode aksi yang kreatif dan kekinian, seperti flash-mob, zombie massal (sebuah metafora terhadap sistem pendidikan yang sudah mati tetapi tetap dijalankan), hingga aksi ciuman massal.

Disamping itu, gerakan mahasiswa Chili juga mengadaftasi penggunaan teknologi dalam gerakan mereka, terutama twitter dan youtube. Selain sebagai sarana propaganda dan mobilisasi, teknologi itu juga jadi alat untuk “kampanye alternatif” menghadapi sabotase media mainstream.

Ketika mereka menduduki gedung Senat Chili, misalnya, mahasiswa menyelenggarakan live-streaming lewat Youtube dan TwitCasting.

Sedikit Catatan

Dari pengalaman itu kita mendapat pengetahuan, bahwa kemampuan mengemas isu, melalukan inovasi dan kreativitas dalam metode aksi akan berdampak pada perluasan pesan dan mobilisasi massa.

Pertama, bagaimana isu dipilih berdasarkan persoalan yang paling mendesak, yang turut dirasakan oleh banyak orang, lalu disuarakan dengan daftar tuntutan yang bisa menjangkau banyak orang dan banyak sektor sosial.

Kedua, penyampaian pesan atau daftar tuntuan perlu diserahkan pada kreativitas banyak orang, asalkan tidak melenceng dari substansi persoalan. Tidak perlu sloganistik dan heroik, tetapi lebih lucu, satire, dan mengadopsi bahasa/istilah yang sedang populer. Kadang materi materi shitposting bernada jenaka dan satire tetapi mengena lebih cocok ketimbang postingan serius, tegang, heroik, dan sloganistik.

Ketiga, perlu metode aksi yang lebih inovatif, yang riang-gembira, yang berpotensi menarik banyak orang dan simpati publik, ketimbang aksi-aksi yang bisa memicu vandalisme dan kerusuhan.

Keempat, lebih mengefektifkan penggunaan teknologi, terutama media sosial, untuk menunjang perluasan kampanye dan seruan mobilisasi pergerakan mahasiswa. Penggunaan kampanye berbasis audio-visual harus lebih diperbanyak, dengan konten-konten yang lebih segar dan populer.

Transformasi dan inovasi merupakan keharusan bagi pergerakan mahasiswa saat ini, agar tidak tertinggal oleh kereta kemajuan zaman. Pilihan di hadapan kita hanya: berinovasi atau mati!

ADHYNA, pernah menjabat sebagai Ketua Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.

Keterangan foto ilustrasi: Mahasiswa gabungan dari berbagai kampus berunjuk rasa membawa beragam poster di depan Kantor DPRD Kota Salatiga, Salatiga, Jawa Tengah, Senin (30/9/2019). Sumber foto:
KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut