Memahami Perjuangan Anak Muda Kekinian

Joshua Wong dan Agnes Chow, keduanya berusia 22 tahun, bersama dengan Nathan Law, 26 tahun, adalah tiga dari pemimpin Demosisto, sebuah kelompok aktivis pemuda pro-demokrasi di Hong Kong yang berada di garis depan demonstrasi.

Wong dan Law berada di antara beberapa orang yang dijatuhi hukuman penjara pada tahun 2017 karena peran mereka dalam Umbrella Movement, gelombang protes pro-demokrasi lainnya pada tahun 2014 yang dipimpin sebagian besar oleh mahasiswa.

Diatas adalah cuplikan berita mengenai aksi demonstrasi di Hongkong yang cukup menyita perhatian karena berlangsung secara masif dan diikuti oleh massa berjumlah besar.

Keterlibatan kaum muda dalam demonstrasi tersebut mencengangkan, di saat sebagian besar kaum muda lebih banyak menenggelamkan diri dalam kemanjaan dunia digital. Demonstrasi tersebut juga menunjukkan bahwa kaum muda tetap memiliki gagasan dan mau bergerak

Di belahan dunia lain, ada Greta Thunberg, anak perempuan berusia 16 tahun, yang menginspirasi gerakan perubahan iklim di Swedia dan seluruh dunia.

Bagaimana dengan kaum muda di Indonesia? Tentu saja kita tidak dapat menutup mata terhadap prestasi yang telah diukir kaum muda baik di ruang seni, olahraga maupun pendidikan.

Di ruang ekonomi, sosial dan politik, kaum muda memiliki caranya sendiri untuk menunjukkan eksistensinya. Ada yang tergabung dalam organisasi, tetapi banyak juga yang memilih untuk berkiprah di jalur yang lebih independen, seperti perpustakaan jalanan

Memang apabila dibandingkan dengan keseluruhan kaum muda saat ini, presentasi kaum muda yang peduli masih jauh lebih sedikit dibanding mereka yang pasif. Bukti paling nyata dapat dilihat dari jumlah kaum muda yang mau datang ke diskusi-diskusi baik didalam maupun diluar kampus. Atau pada aksi-aksi di jalanan.

Lantas, dimana sebagian besar kaum muda lainnya? Sosial media. Data menunjukkan bahwa Indonesia berada di peringkat kelima dengan pengguna internet sebanyak 143,26 juta per Maret 2019. Angka tersebut memiliki selisih tipis sebesar 5,8 juta dengan Brasil yang memiliki pengguna internet sebanyak 149,06 juta.

Dikutip dari Katadata, jumlah pengguna aktif media sosial di Indonesia mengalami peningkatan sebanyak 20 persen di tahun 2019, yakni mencapai 150 juta pengguna.

Selain dinobatkan sebagai salah satu negara dengan pengguna Facebook terbanyak di Dunia, studi juga menunjukan bahwa Indonesia merupakan negara ke-4 dengan pengguna instagram terbesar, mengalahkan Rusia, Turki, Jepang dan Inggris.

Apakah kelompok ini dapat dikatagorikan pasif atau apatis? Tentu saja tidak, karena kepedulian kaum muda terhadap situasi ekonomi dan politik tetap ada walaupun dengan skala yang berbeda. Tengok saja pada obrolan di kafe-kafe yang tumbuh subur seperti jamur di musim hujan. Kafe-kafe, taman, angkringan hampir di setiap sudut jalan dipenuhi kaum muda. Obrolan pun beragam dari rokok hingga kecaman pada politisi.

Suara kaum muda melalui cuitan di twiter pun tak kalah ramainya, bahkan komentarnya dapat lebih tajam dari aksi pembakaran ban. Trending topic di twiter dapat menjadi gambaran berapa banyak kepedulian kaum muda terhadap situasi yang berkembang di negaranya.

Keresahan kaum muda melahirkan sikap kritis. Hal ini patut untuk di apresiasi karena dari sikap kritis tersebut melahirkan banyak gagasan baru untuk turut memberi sumbangsih pada negeri. Sekecil apapun itu, jauh lebih berharga daripada mereka yang sibuk mengejar nilai dan karir tanpa memiliki kepedulian pada lingkungan sekitar.

Perubahan di sebuah negara tentu membutuhkan perjuangan dari semua pihak. Perjuangan dengan demikian mesti dimaknai sebagai sebuah gerak maju yang simultan, namun dengan tempo yang berbeda-beda. Dinamika perjuangan baik dalam lingkup ekonomi, sosial maupun politik tidak dapat terlepas dari situasi masyarakat, negara baik nasional maupun internasional

Di dunia internasional, melalui kartografi geopolitik yang dimulai dari berakhirnya perang dingin, kita mendapati landscape yang berbeda. Dunia tidak lagi terbelah secara ideologi, pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan pembangunan infrastrukrur mengaburkan batas-batas negara dan ras. Pergolakan yang terjadi di Timur Tengah, dunia barat dan kemunculan negara superior dari Timur bukan semata ras maupun ideologi tapi modal.

Kaum muda saat ini yang akan menempati dunia dan menjadi penentu masa depan dunia, perlu memiliki paradigma baru peradaban. Era lama akan dan harus berakhir digantikan oleh era baru, ketidaksiapan dalam membaca kartografi geopolitik akan mengakibatkan kegagapan dalam menentukan arah.

Berjuang dengan gembira dapat menjadi strategi dalam penciptaan paradigma baru. Peradaban tidak harus dibentuk dengan jalan revolusi fisik. Peradaban juga dapat dibentuk secara smooth dan riang penuh warna. Pertarungan saat ini bukan lagi pertarungan ideologi, melainkan pertarungan untuk mempertahankan dunia. Dunia dengan segala situasi nya akan berada di tangan generasi penerus.

Tanpa mereduksi arti dan nilai perjuangan, strategi ini dapat direalisasikan dalam bentuk tulisan di media massa, media sosial, karya seni, dan lain sebagainya, yang berisi seruan atau ajakan untuk terlibat secara aktif dalam membangun peradaban baru. Aksi nyata dalam bentuk kepedulian terhadap lingkungan dan sesama mahluk hidup, melakukan gotong royong atau karnaval akan banyak menarik simpati masyarakat dan dinilai lebih produktif. Namun sekali lagi, strategi ini tidak dimaksudkan untuk mereduksi aksi parlemen jalanan

Membangun paradigma baru juga dapat dilakukan melalui seni musik, seni rupa, perubahan perilaku dan tata kelola keluarga.  Jika dulu kita mengenal Imagine-nya John Lennon atau Wind of Change-nya Scorpion, maka generasi mendatang diharapkan mampu melahirkan lagu-lagu baru yang menggambarkan situasi yang mewakili jamannya sebagai bentuk kesadaran baru bukan sekedar hiburan semata

Tingkat sosialisasi generasi abad ini sudah dimulai sejak lahir. Media sosial memudahkan orang untuk saling berinteraksi. Setiap orang memiliki fasilitas untuk memperkenalkan diri melalui berbagai aplikasi media sosial.

Informasi dari berbagai belahan dunia dapat diakses dengan mudah. Fasilitas untuk belajar di luar negri pun terbuka lebar. Saat ini, kaum muda dapat dengan mudah melompat dari satu negara ke negara lain untuk memenuhi kebutuhan akademisnya atau sekedar melancong.

Peradaban dunia terus bergerak maju. Kemajuan tehnologi digital dan kemudahan akses informasi dapat memudahkan kehidupan namun juga dapat menghancurkan.

Perjuangan untuk paradigma baru demi kesejahteraan bersama sekiranya dapat diwujudkan oleh generasi masa kini dan yang akan datang. Dinamika diantara kaum muda, antara keresahan dan sikap kritis membutuhkan satu benang merah untuk menyambungkan dan menjadi saluran atau kanal untuk mengekspresikan gagasan baru.

Kanal tersebut dapat berupa sebuah aplikasi yang di desain untuk tukar menukar informasi, menyuarakan dan menyebarkan gagasan baru dan terutama sumber terpercaya untuk saling mengkonfirmasi data dan informasi.

Dengan berbagai resiko yang sudah disadari sejak dini, kewaspadaan dan penghargaan yang tinggi akan kemanusiaan lebih lagi dibutuhkan. Berbagai bidang pekerjaan akan tergantikan oleh mesin namun sentuhan tangan seorang perupa pada seni patung atau seni craving pada makanan semoga tak tergantikan

Ernawati, kader Partai Rakyat Demokratik (PRD) Daerah Istimewa Yogyakarta

Keterangan Foto: Demo mahasiswa memprotes RKUHP dan revisi UU KPK di depan DPR, 24 September 2019. (Sumber foto: The Jakarta Post, Anggie Angela)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut