“Melawan Ketidakadilan, Perempuan harus Berjuang”

Dalam konstruksi masyarakat patriarkal, menjadi perempuan itu tidak gampang. Apalagi jika perempuan itu juga bekerja di luar rumah. Mereka harus melakukan kerja ganda, yaitu kerja domestik di rumah dan bekerja di luar rumah.

Hal tersebut disampaikan oleh politisi perempuan dari PDI Perjuangan, Nuraini Hilir, dalam diskusi bertajuk “Gerakan Perempuan dan Semangat Kartini Hari ini” di Studio Sang Akar Tebet, Jakarta Selatan, Sabtu (21/4/2018).

“Bercermin pada film Impossible Dream, itulah yang dialami oleh perempuan hingga hari ini. Mereka melakukan pekerjaan ganda, yaitu tugas domestik yang dianggap kodrat dan bekerja di luar untuk mencari uang,” ujarnya.

Ironisnya, ketika perempuan melakukan pekerjaan yang sama dengan laki-laki di pabrik, tetapi upah yang diterimanya lebih kecil dibanding oleh laki-laki.

“Kesenjangan upah berdasarkan gender di Indonesia masih tinggi, yakni 13 persen,” ungkapnya.

Karena ketidakadilan itu, lanjut dia, sejak dulu perempuan memperjuangkan perubahan, termasuk yang dilakukan oleh Kartini lewat tulisan-tulisannya.

“Lewat tulisannya, Kartini menyuarakan protesnya terhadap ketidakadilan Itu. Saat itu dia melakukannya seorang diri, di tengah kultur yang sangat feodal,” tuturnya.

Sekarang ini, kata dia, Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 sudah menjamin kesamaan hak bagi setiap orang untuk berpartisipasi dalam kehidupan politik.

Kendati demikian, keterwakilan perempuan di lembaga politik masih terbilang rendah. Di pemilu 2014, hanya 17,32 persen perempuan yang berhasil masuk parlemen. Angka itu lebih rendah dibanding pemilu sebelumnya sebesar 18,21 persen.

“Di partai saya, PDI Perjuangan, dari 109 kursi partai kami di DPR, hanya 19 kursi yang diisi perempuan,” ungkapnya.

Nuraini menegaskan, konstruksi patriarkal sangat menghambat ruang-gerak perempuan dalam politik. Ditambah lagi, perempuan kurang didukung oleh sumber daya ekonomi, jejaring sosial dan pengalaman politik.

Masalahnya lagi, karena pemilu identik dengan ketersediaan sumber daya ekonomi dan pengaruh sosial, maka hanya perempuan kalangan elit yang bisa berpartisipasi dalam kontestasi politik.

“Itu yang membuat perempuan yang terpilih kurang peduli dengan agenda dan isu-isu perempuan,” jelasnya.

Meski demikian, Nurani beranggapan bahwa perjuangan politik merupakan jalan terbaik bagi perempuan untuk memperjuangkan kesetaraan hak dan kesejahteraan sosial.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut