Media dan Persoalan Rakyat

Kamis, 10 Juni 2010 | 01.11 WIB | Editorial

Sudah hampir seminggu publik Indonesia digegerkan oleh beberapa video porno mirip Ariel peterpan dengan beberapa artis papan atas Indonesia. Media pers “mainstream” punya sumbangsih besar dalam membesar-besarkan pemberitaan mengenai video porno itu. Di media-media tersebut, pemberitaan soal video porno itu menghiasi halaman-halaman utama, sementara persoalan-persoalan lainnya, meskipun berita sangat besar sekalipun, ditempatkan pada pojok-pojok kecil, tidak mencolok, dan tidak sering.

Sangat terang sekali, bahwa media-media tersebut hanya mengejar “rating” melalui pemberitaan yang sensasional, namun melupakan aspek-aspek kemanusiaan, edukasi, kontrol sosial, dan demokrasi. Kenyataannya, ada begitu banyak persoalan-persoalan lain yang tidak kalah pentingnya, misalnya kasus penembakan dua orang petani di Riau, soal pendidikan, soal taman nasional di NTT yang hendak diubah menjadi areal pertambangan, korupsi, dan penderitaan rakyat Palestina.

Dalam keadaan yang demikian, tugas dari pers yang mempunyai harga diri, pers yang menyadari arti suci kejujuran, sungguh tidak ringan. Kami teringat dengan perkataan pengarang demokrat Belanda yang besar, Multatuli, yang sangat tajam mengeritik pers yang tidak memihak kemanusiaan. Multatuli berkata: Padamu terletak tugas kemanusiaan! Tugas itu mengharuskan: berusaha ke arah kebenaran. Dan di mana-mana terdapat kebohongan. Maju! Berjuang terhadap kebohongan! Ayo berjuang! Maju, ke arah kemenangan!

Persoalan-persoalan rakyat yang tadi kami sebutkan sangatlah penting, bahkan membutuhkan penyelesaian yang mendesak. Di Desa Koto Cengar, kecamatan Kuantan Mudik, Kabupaten Singingi Riau, Selasa (9/6), dua orang petani tak berdosa, yaitu Yuniar (45) dan Disman (43), tewas diterjang peluru aparat kepolisian. Ya, Yuniar dan Disman memang tidak setenar Ariel dan Luna Maya, namun keduanya adalah manusia pejuang yang mati secara terhormat.

Belum lagi soal pendidikan, yakni soal label rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) dan sekolah bertaraf internasional (SBI), dianggap sekedar kedok untuk mengumpulkan pundi-pundi uang. Bukankah ini ancaman bagi masa depan pendidikan nasional. Kita tidak akan bisa mencerdaskan kehidupan bangsa, jikalau pendidikan hanya dijangkau segelintir orang.

Lebih parah lagi, entah apa yang ada di benak pemerintah saat ini, Kawasan Taman Nasional (KTN) Wai Langga Wanggameti di Kabupaten Sumba Timur, NTT, terancam rusak karena adanya aktivitas penambangan emas di sana. Taman Nasional itu merupakan paru-paru Sumba dan merupakan daerah resapan air terbesar bagi 114 sungai. Bukan tidak mungkin, jika kawasan hutan ini dihancurkan oleh pertambangan, maka rakyat NTT akan semakin sulit mendapatkan akses air untuk kebutuhan.

Karena itu, kita patut mengapresiasi tajuk rencana Kompas edisi Rabu, 9 Juni 2010, yang tetap berusaha menjelaskan situasi politik dan persoalan bangsa yang “serba mengambang”, dan tidak terganggu dengan gempuran pemberitaan soal video porno Ariel dan pacar-pacarnya.

Oleh karena itu, media pers tidak bisa sekedar mengabarkan hal-hal yang sensasional, tapi juga harus berani mengangkat fakta-fakta dan persoalan rakyat yang tertutup rapat dari jangkauan publik. Kami teringat dengan ucapan Bung Karno di depan para wartawan di istana Bogor, 20 November 1965. Bung Karno mengatakan, “janganlah ikut-ikut, atau kita menganjur-anjurkan, atau kita berbuat sesuatu yang membawa bangsa kita ini kepada self-destruction.

Anda dapat menanggapi editorial kami di email: [email protected]

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut