Maradona, Legenda Sepak Bola dan Pandangan Politik

Saya begitu bangga menulis soal Diego Armando Maradona, legenda sepak Bola dunia yang sudah kukenal sejak kecil, di sebuah daerah terpencil di bagian timur Indonesia. Saat itu, saya masih mengingatnya, melalu televisi yang terbatas jumlahnya, Maradona adalah salah satu nama yang kami kenal dari kotak itu, selain petinju Mohamad Ali, pemain bulu tangkis Rudi Hartono, dan penyanyi Rhoma Irama.

Sampai-sampai, karena kehebatannya memainkan si kulit bundar, saya mengira Maradona adalah pemain Indonesia, apalagi Maradona (tanpa Diego Armando) sekilas mirip dengan nama orang Bugis. Ya, namanya juga orang kampung. Belakangan, saya baru mengetahui bahwa Maradona berasal dari Argentina, negeri yang jaraknya sangat jauh dari Indonesia.

Rakyat Argentina sendiri, terutama pemuda dan pemudinya, sangat bangga dengan trinitas mereka; Evita Peron, Diego Maradona, dan Ernesto Che Guevara. Evita Peron, yang memang memiliki latar belakang artis, adalah politisi radikal dan sangat membela kepentingan rakyatnya, terutama pekerja, petani, dan kaum miskin lainnya. Tidak salah, bagi sebagian rakyat Argentina, dia dipanggi Santa Evita. Begitupula dengan Ernesto Che Guevara, tokoh revolusioner yang namanya menginspirasi perjuangan rakyat di seluruh dunia hingga saat ini. Dia mendapatkan julukan sebagai mesias dari Argentina.

Maradona lahir pada tanggal 30 Oktober tahun 1960 di Villa Fiorito, salah satu kawasan paling kumuh dan termiskin di Buenos Aries. Pada usia 9 tahun, ia mulai bergabung dengan tim Yunior Argentina, Cebollitas, dan mendapatkan julukan sebagai “Anak Emas”.

Pada tahun 1978, Maradona gagal memperkuat negaranya dalam piala dunia junior, karena pelatih tim menganggapnya terlalu muda dan kurang berpengalaman. Setahun kemudian, dia membayarnya dengan mengantarkan negaranya sebagai juara dunia untuk junior. Setalah itu, Maradona bermain di sebuah klub yang sangat populer di Amerika latin, Boca Juniors.

Untuk pertamakalinya, Maradona mulai bermain di turnamen Piala dunia Spanyol, namun belum memberikan keberuntungan bagi dirinya. Dia hanya mencetak gol dalam ajang bergengsi tersebut. Dari situ, akhirnya, Maradona mengikat kontrak dengan klub asal Spanyol, FC. Barcelona, selama dua tahun. Karirnya semakin menanjak saat bermain di Napoli, salah klub divis A Liga Italia, dan membawa prestasi besar untuk klub itu; dua kali piala Champion, sekali piala UEFA, sekali piala Italia cup, dan sekali piala Supercoppa.

Di periode itulah Maradona menjadi bintang, dimana ia menjadi pahlawan kemenangan Argentina di piala dunia Meksiko tahun 1986. “Gol tangan” tuhannya dikenang sepanjang masa, yaitu saat dia menjebol gawang Inggris di menit 51 dengan bantuan tangannya, dan mengantarkannya pada kemenangan.

Sejak kecil, entah karena latar belakangnya dari keluarga miskin, Maradona sudah memperlihatkan perlawanannya, terutama untuk menunjukkan kemampuannya di hadapan anak-anak kaum kaya.

Suatu hari, Maradona berkata, dia tidak punya waktu untuk berpolitik. Meski begitu, Maradona sendiri mengatakan; jika suatu hari angkatan bersenjata kami harus mempertahankan negeri ini, maka akan ada prajurit bernama Maradona. Karena, pertama dan terutama sekali, saya seorang Argentina.

Ini penting saat itu, karena selain identifikasi kiri dan kanan dalam politik, sebagian besar rakyat Argentina lebih senang disebut nasionalis. Ini menyebabkan Maradona sempat dekat dengan nasionalis kanan, diantaranya, Carlos Menem.

Maradona sendiri mengakui, pihaknya tidak pernah bisa menghindar dari politik, seperti ketika dia sedang bermain bola, ia seolah menjelma sebagai anak kecil kurang gizi dan dari pemukiman kumuh melawan kekuatan besar. Ia kemudian menggunakan image ini saat menuduh FIFA berkonspirasi melawan orang miskin Argentina. Sebagian orang miskin di Buenos Aries menyebut Maradona sebagai Santo rakyat-“san Diego”-pelindung rakyat miskin.

Perkenalan Maradona lebih lanjut dengan politik kiri terjadi saat dia berkunjung Ke Kuba, dimana ia akan melakukan pengobatan dan terapi di sana. “Saya memilih Kuba karena martabat orang-orangnya. Saya percaya obat Kuba, dan aku tahu mereka akan menyembuhkanku,” ujar Maradona saat tiba di Bandara Internasional Havana, Kuba.

Maradona begitu terpukau dengan kedamaian dan politik sosialisme di negeri itu. Di sana pula, negeri yang memiliki tim bisbol dan bola Voli terbaik di dunia, Maradona menyaksikan pemerintahan yang begitu mencintai rakyatnya.

Aku punya tattoo bergambar Castro, dan memproklamasikan Fidel sebagai Tuhan, tulis Maradona dalam otobiografinya. Selama tinggal di klinik, maradona sering sekali mengenakan T-shirt bergambar “Che Guevara”. Saat itu pula, dia mendonasikan royalti otobiografinya bertajuk Yo Soy El Diego (Saya Diego) di Kuba untuk masyarakat setempat.

Karena itu, Maradona pun berkesempatan bertemu dengan Fidel Castro di Istana Revolusi, Havana, pada tahun 2001. Mereka tidak hanya berdiskusi soal sepak bola dan politik revolusioner, Maradona juga mengajari Fidel teknik dan taktik untuk bermain bola. “Hari ini aku mendapat pelajaran darinya. Aku belajar bagaimana cara menggiring bola,” ujar Fidel Castro.

Sepak terjang Maradona dalam politik kian menanjak saat ia menyatakan penentangan terhadap proposal Perdagangan Bebas Amerika (FTAA) akhir 2005. Ketika Bush berkunjung ke Argentina saat itu, Maradona tampil bersama Presiden Hugo Chavez dan Evo Morales dalam rally menentang Bush dan Imperialisme.

Dalam acara yang dikenal “pertemuan anti-amerika” itu, Maradona berjalan bersama dengan Evo Morales dan penyanyi revolusioner Kuba, Silvio Rodriguez. Maradona menyebut Bush sebagai “manusia sampah”. “Argentina sangat layak; menendang Bush keluar,” tegas Maradona

Terakhir, Maradona begitu dekat dengan presiden Hugo Chavez, dan menawarkan diri untuk melatih tim nasional Venezuela suatu saat. “Saya percaya Chavez. Saya Chavista. Apapun yang dilakukan Fidel, apapun yang dilakukan Chavez, buat saya itu yang terbaik,” katanya.

Maradona sangat memuji sosialisme di Kuba dan Venezuela. “Sosialisme jauh lebih baik ketimbang imperialisme yang diusung Amerika,” ujar Maradona.

RUDI HARTONO

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut