Mana Yang Benar ,“Soekarno” atau “Sukarno”?

Sebagai bagian terpenting dalam sejarah Indonesia, nama Sukarno banyak ditulis. Namun, seringkali penulisan nama Proklamator sekaligus Presiden pertama Republik Indonesia itu masih salah alias tidak tepat.

Masih banyak yang menulis nama Sukarno dengan ejaan “Soekarno”. Di media, buku-buku, nama tempat, nama jalan, jurnal ilmiah, dan lain-lain. Bahkan ensiklopedia daring terbesar, Wikipedia, masih menulis dengan ejaan “Soekarno”.

Kami, berdikarionline.com, pun pernah melakukan kesalahan itu dulu. Namun, setelah kebijakan redaksi yang menyebut penulisan ejaan Soekarno itu salah, maka tidak ada lagi.

Lantas, mana yang benar, Soekarno atau Sukarno?

Jika anda membuka lembar demi lembar buku Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, karya Cindy Adams, yang diterbitkan PT Gunung Agung, 1966, nama Bung Karno sudah ditulis dengan ejaan “Sukarno”. Dan itulah yang benar.

Di buku itu Bung Karno memberi penjelasan kenapa namanya mesti dieja “S-u-k-a-r-n-o”. Menurut beliau, setelah Indonesia merdeka, tepatnya di tahun 1947, terjadi perubahan ejaan.

Jadi, antara 1901-1947, kita memakai ejaan Belanda atau sering disebut ejaan Van Ophuijsen. Menurut ejaan lama itu, bunyi “u” dituliskan dengan huruf “oe”. Makanya, pada waktu Bung Karno sekolah, namanya ditulis “Soekarno”.

Tahun 1947, Menteri Pengajaran Raden Soewandi mengganti ejaan Van Ophuijsen dengan ejaan baru, sering disebut “ejaan Republik” atau “ejaan Soewandi”. Dalam ejaan Republik, bunyi “u” dituliskan dengan huruf “u”.

Perubahan ejaan itu punya makna ideoligis dan politik. Setelah Indonesia merdeka, ada upaya dekolonialisasi di segala bidang, termasuk di bidang pendidikan dan kebudayaan. Dekolonialisasi adalah proses dari sebuah negara baru merdeka untuk menghilangkan sisa-sisa dan pengaruh dari negara bekas penjajahnya.

Nah, sebagai dukungan atas dekolonialisasi ejaan itu, Bung Karno menganjurkan agar namanya ditulis dengan ejaan Republik, menjadi: S-u-k-a-r-n-o. Hanya saja memang, perubahan penulisan ejaan itu tidak berlangsung serta-merta. Sukarno sendiri mengakui.

“Tidak mudah untuk merobah tanda-tangan setelah berumur 50 tahun. Jadi kalau aku sendiri menulis tanda-tanganku, aku masih menulis S-O-E,” kata Bung Karno di buku Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

Seharusnya, jika mengikuti seruan dekolonialisasi ejaan itu, nama Presiden Kedua Indonesia harusnya ditulis “Suharto”, bukan “Soeharto”. Tetapi sejauh pengetahuan saya, penguasa tertinggi Orde Baru sangat bangga menenteng ejaan kolonial hingga akhir hayatnya.

Kemudian, di luar soal ejaan itu, Sukarno sebetulnya tidak punya awal. Makanya dia marah besar ketika ada orang yang menambahkan nama Ahmad di depan namanya.

“Sekali ada wartawan goblok yang menulis, bahwa nama awalku adalah Ahmad. Sungguh menggelikan. Namaku hanya Sukarno saja,” jelasnya.

Soal panggilan, Sukarno lebih suka dipanggil “Bung”. Sapaan yang populer di kalangan para pejuang di masa Revolusi 1945 dapat disejajarkan dengan panggilang “Warganegara” (Citizen) di zaman Revolusi Perancis 1789 atau “Kamerad” di saat revolusi Rusia 1917.

Sapaan “Bung”, yang bisa berarti “saudara atau kawan seperjuangan”,  melenyapkan penghambaan terhadap hirkarki feodal maupun jenjang kepangkatan. Dengan panggilan “Bung”, setiap manusia Indonesia dianggap setara, sebagai saudara seperjuangan atau saudara sebangsa, tanpa menghilangkan rasa hormat dan prinsip saling menghargai.

Singkat cerita, sebagai bentuk dekolonialisasi, ada baiknya nama Sukarno dan orang-orang Indonesia yang lahir di masa ejaan kolonial ditulis sesuai dengan ejaan Republik—atau sekarang ejaan Bahasa Indonesia EBI yang berlaku sejak 2015).

Untuk sapaan, sesuai dengan semangat revolusi 1945, ada baiknya panggilan “Bung” digalakkan kembali.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut