Mahasiswa Universitas Airlangga Menolak Kenaikan SP3

Kamis siang, 17 Maret 2011, ratusan mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) kembali menggelar aksi di depan Gedung Rektorat Kampus C jalan Mulyorejo, Surabaya.

Mahasiswa, yang menggunakan nama Aliansi Mahasiswa Unair Peduli Pendidikan, menyatakan penolakannya terhadap kenaikan Sumbangan Pengembangan Pelayanan Pendidikan (SP3).

“Kenaikan SP3 ini sangat memberatkan bagi mahasiswa baru angkatan 2011,” ujar Arif Fathurrahman selaku juru-bicara dari aliansi mahasiswa ini.

Lebih lanjut, Arif mengatakan, SP3 dari jalur Seleksi Nasional Mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) dibandrol harga dari Rp2,5 juta hingga Rp15 juta, sedangkan dari jalur PMDK, kenaikannya mencapai 30% hingga 100%.

Dengan kenaikan ini, para mahasiswa ini mengkhawatirkan bahwa angkatan baru akan kesulitan untuk mengakses pendidikan di Unair, terutama dari kalangan keluarga berpendapatan sedang ke bawah.

Dalam aksi ini, mahasiswa menenteng spanduk yang cukup menggelitik pengambil kebijakan, yang bunyi spanduknya adalah: “Orang Miskin Dilarang Masuk Unair” dan “Unair Hanya Untuk Mahasiswa Kaya”.

Untuk menyampaikan tuntutannya secara langsung, mahasiswa pun berusaha masuk ke dalam rektorat. Usaha itu dihalangi oleh Satpam Kampus dengan mendorong mundur massa mahasiswa. Setidaknya ada dua kali dorong-dorongan antara mahasiswa dan Satpam Kampus.

Kekesalan makin bertambah tatkala mahasiswa mengetahui bahwa Rektor tidak ada di tempat. Akhirnya, mahasiswa hanya dipertemukan dengan Pembantu Rektor II Unair, M. Nasih.

M. Nasih pun berusaha memberi penjelasan kepada mahasiswa, bahwa kenaikan SP3 ini dimaksudkan untuk menerapkan proporsionalitas dalam untuk pembiayaan pendidikan. “Jangan sampai ada orangtua yang mampu, menikmati subsidi untuk mereka yang tidak mampu,” katanya.

Berbagai penjelasan Pembantu Rektor II ini tidak memuaskan para mahasiswa. Mahasiswa pun kembali melanjutkan aksinya dengan menggelar tetrikal di depan gedung Rektorat.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Kenaikan SP3 (penipuan dari kata ‘membayar uang kuliah’) merupakan akibat logis dari UU Nomor 7 Tahun 1994 yang meratifikasi Hasil-hasil Perundingan Putaran Uruguay dan Pembentukan WTO (sidang terakhir bulan Desember 1993.
    Pendidikan merupakan salah satu komoditi dagang di bidang jasa (‘services’). Dan di dunia modern perdagangan di bidang jasa melibatkan uang dengan nilai yang lebih tinggi dari pada perdagangan barang (‘goods’).
    Jadi tidaklah aneh, apabila lembaga pendidikan dikelola sebagaimana halnya mengelola perusahaan dagang.
    Lihat saja urutan ‘penipuan’ yang dilakukan oleh Pemerintah sejak tahun 1994. Semula perguruan tinggi negeri disebut BHMN (Badan Hukum Milik Negara)-lha wong BH kok Milik Negara. BHMN adalah sama dengan BUMN.
    Kemudian penipuan ditingkatkan dan diperluas cakupannya menjadi BHP (Badan Hukum Pendidikan) – sama dengan perusahaan pendidikan.

    Lha wong BH kok P?
    Pasti, deh, aneh!!!!!!

  • macho

    ini merupahkan perlakuan prifatisasi kampus dan benar -benar BHP berlaku..akibatnya yang miskin tidak dapat mengakses dunia pendidikan perguuan tinggi,