Mahasiswa Bali Buka Posko Tolak Kenaikan Harga BBM

Saat ini, di Denpasar, menjelang kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), harga cabe sudah mulai melambung.

“Harga cabe satu kilo di pasar Badung Denpasar sekarang sudah Rp 70 ribu per kilo, saya dan teman-teman di sini sudah gak bisa membikin bumbu jagung bakar untuk melayani turis,” ujar Mulyono, seorang pedagang jagung bakar di kawasan wisata Sanur.

Dirinya dengan beberapa pedagang lainnya di pantai Sanur sudah cemas dengan harga yang sudah melangit.

Kondisi pedagang itu tak lepas dari perhatian kelompok Mahasiswa di Bali. Bersama kelompok sopir taxi blue bird di Bali, mahasiswa yang menamakan diri Gerakan Rakyat Bali tolak kenaikan harga BBM menggelar posko di depan kampus Universitas Udayana Bali, jalan PB Diponegoro, Senin, 26 Maret 2012.

Tak hanya sopir, Gus Indra, tokoh agama di Bali, juga ikut terlibat dalam panggung rakyat di posko itu. Dalam orasinya, Gus Indra menegaskan bahwa Pemerintah SBY-Budiono telah melahirkan kebijakan yang sangat buruk terkait rencana kenaikan harga BBM.

“BBM itu ibarat kebutuhan sandang pangan. Kebutuhan pokok rakyat terutama rakyat menengah ke bawah. Jika harga BBM dinaikan, secara perlahan SBY akan membunuh rakyat di negara ini,” tegas tokoh agama Hindu ini.

Selain itu, ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat Bali untuk menolak keras liberalisasi sektor migas serta menghimbau pemerintah untuk menasionalisasikan aset yang menyangkut hajat hidup orang banyak, efisinsi anggaran birokrasi, turunkan harga bahan pokok dan laksanakan hikmat amanat pasal 33 ayat 2 UUD tahun 1945 agar kebocoran APBN tidak terjadi.

“Saya merasa tidak nyaman lagi jika gerakan saya hanya lewat doa dan meditasi. Sudah saatnya saya bergerak dan mengajak seluruh elemen rakyat Bali dan rakyat Indonesia untuk menolak kebijaka rezim SBY ini,” tegas Gus Indra.

Pada aksi itu, humas Gerakan Rakyat Bali Tolak Kenaikan Harga BBM, Aziz Suryo Putro, menjelaskan bahwa posko yang dimotori oleh mahasiswa ini diselenggarakan hingga 29 Maret mendatang.

“Posko ini adalah wadah untuk sosialisasi dan ajakan kepada masyarakat Bali dari semua sektor untuk tergabung dalam gerakan ini. Ini adalah proses demokratik untuk mewujudkan persatuan nasional yang diinisiasi oleh rakyat Bali,” tegas aktivis muda yang juga tergabung dalam Liga Mahasiwa Nasional untu Demokrasi (LMND).

Saat ini, lanjut Aziz, pemerintah sudah melakukan pembohongan dengan menaikkan harga BBM itu. “Kami mempertanyakan kenapa pengelolaan migas dari hulu dan hilir di negeri ini dikuasai oleh pemain asing. Kami mencatat sekitar 80% pengelola adalah asing dan Pertamina tidak diberikan ruang sama sekali untuk pengelolaannya. Padahal Pertamina adalah perusahaan negeri yang harus berdaulat secara ekonomi dalam penguasaan migas sesuai amanat UUD ’45 pasal 33,” ujar aktivis yang juga akrab dipanggil Noey ini.

Menanggapi soal Bantuan Langsung Sementara (BLSM) yang rancananya diberikan oleh pemerintah untuk mengamankan ekonomi rakyat, Aziz menjelaskan bahwa bantuan itu membodohi rakyat. Ia mengumpamakan bahwa pemerintah harusnya memberikan pancing bukan ikan agar rakyat lebih mandiri dan berdikari secara ekonomi.

Saat menutup pembicaraan Aziz menandaskan bahwa pada tanggal 29 Maret nanti posko ini akan menggelar aksi demonstrasi di Bali dengan melibatkan kelompok buruh, miskin kota dan kelompok marjinal lainnya yang terkena dampak kenaikan harga BBM.

ABENG, Kontributor Berdikari Online Wilayah Bali

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut