Mahasiswa Aceh Kecam Represi Saat Kunjungan SBY

Pengurus Komite Dewan Kampus Solidaritas Mahasiswa Untuk Rakyat (SMUR) Universitas Jabal Ghafur Pidie mengecam keras tindakan represif aparat kepolisian ketika membubarkan aksi mahasiswa saat kunjungan Presiden SBY.

SMUR menganggap kejadian ini sebagai pukulan telak terhadap kehidupan demokrasi di negeri serambi Mekah itu, sebuah daerah yang selama puluhan tahun pernah menderita di bawah tekanan militer.

“Represi ini ditujukan untuk menjaga pencitraan SBY, yaitu dengan menindas aksi protes agar terkesan rakyat senang dengan kunjungan SBY,” demikian dinyatakan SMUR dalam release yang diterima Berdikari Online.

Pihak mahasiswa pun sangat menyayangkan kejadian ini, sebab telah menghilangkan kesempatan mereka untuk menyampaikan tuntutan rakyat Aceh kepada Presiden SBY.

Demo Saat Kunjungan SBY

Sebelumnya, saat kunjungan Presiden ke Aceh pada 29 November kemarin, ratusan mahasiswa menggelar aksi damai di Simpang Mesra, Kota Banda Aceh.

Mereka menamakan diri Front Mahasiswa Rakyat Aceh Peduli Perdamaian ( FMRA-PP), yang merupakan gabungan dari berbagai organisasi gerakan mahasiswa, seperti SMUR, IMM, Gempa, Poros Lauser, GPPS Sawang, FKMA, BEM FKIP Unsyah, BEM IAIN Ar-raniry, BEM AL-Washiliah, BEM Poltekes Lhoksumawe.

Ketegangan sudah muncul saat mahasiswa mulai bergerak dari Kampus Unsyiah menuju Hermes Palace, tempat Presiden SBY menginap saat kunjungan ke Aceh kemarin. Polisi menghadang mahasiswa di tengah jalan. Namun, bentrokan dapat dihindarkan karena mahasiswa memilih menggelar aksi di Simpang Mesra.

Setelah siang hari, sekitar pukul 14.30 WIB, Polisi mulai bergerak untuk membubarkan aksi mahasiswa. Dengan menggunakan peralatan lengkap, seperti water cannon, gas air mata, dan peluru karet, Polisi mulai menyerang mahasiswa.

Bentrokan pun tidak terhindarkan. Mahasiswa membalas serangan polisi dengan menggunakan lemparan batu. Dalam bentrokan yang tidak seimbang ini, seorang mahasiswa ditangkap oleh Kepolisian.

Akan tetapi, penangkapan itu justru memicu kemarahan mahasiswa yang lebih luas. Bentrokan baru mereda setelah pihak kepolisian melepaskan aktivis mahasiswa yang ditangkap.

Tuntutan Mahasiswa

Mahasiswa berkeinginan untuk menyampaikan sejumlah tuntutan rakyat Aceh yang sampai sekarang ini masih diabaikan pemerintah pusat di Jakarta.

Diantaranya, mahasiswa menganggap bahwa pemerintah pusat tidak serius dalam membuat peraturan pelaksanaan terkait UU pemerintahan Aceh yang sudah diundangkan sejak tahun 2006 silam.

Untuk itu, mahasiswa mendesak agar Presiden SBY segera mengesahkan PP, Perpres, Keppres untuk menjalankan ketentuan UU tersebut. Juga, mahasiswa menuntut agar segera dibentuk Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) dan pembebasan seluruh Narapidana Politik (Napol).

Disamping itu, mahasiswa juga mendesak agar pemerintah tidak menjual BUMN, terutama PT. AAF dan KKA di Aceh utara, kepada investor asing.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut