Lumpur Lapindo Disebut ‘Skandal Dunia Pertambangan’

Pada tanggal 29 Mei 2012 mendatang lumpur Lapindo genap berusia 6 tahun. Sampai sekarang, semburan lumpur masih terus terjadi dan terus meluas tanpa terkendali.

“Sampai saat ini lebih dari 800 hektar area yang telah tenggelam oleh lumpur Lapindo. Di dalamnya termasuk rumah, sawah, sekolah, pabrik, rumah ibadah, jalan dan sebagainya,” kata Humas Solidaritas Darurat Nasional (SDN) Jawa Timur, Yuliani, di Surabaya, Minggu (27/5/2012).

Menurut Yuliani, upaya untuk mengatasi semburan lumpur Lapindo selama ini terkesan hanya sebatas proyek yang hanya menghabiskan uang negara (APBN) tanpa ada hasil yang memuaskan.

Ia menjelaskan, Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) terlihat mengecilkan persoalan lumpur Lapindo yang hanya sebatas urusan memperkuat tanggul penahan lumpur, pembuangan lumpur Lapindo ke Kali Porong, relokasi infrastruktur, dan ganti rugi aset warga yang tenggelam. “Namun, bagaimana penjaminan keselamatan warga selama ini, ini sama sekali diabaikan,” katanya.

Yuliani pun mencontohkan, dalam urusan pendidikan, dari 33 sekolah yang tenggelam dan tidak dapat digunakan lagi, sampai hari ini tidak ada satupun yang dibangun kembali oleh pemerintah maupun pihak Lapindo.

Demikian pula dengan kondisi kesehatan korban Lapindo. Meski wilayah di sekitar lumpur Lapindo telah dinyatakan tidak layak huni dan banyak korban Lapindo yang jatuh sakit karenanya, namun pemerintah sama sekali tidak menjamin kesehatan warga, seperti pemberian pengobatan secara gratis hingga sembuh.

Karena daya rusaknya yang tak terkendali, ditambah sikap lepas tangan pemerintah dan pihak Lapindo, Yuliani menganggap kasus lumpur Lapindo sebagai “skandal dan menjadi preseden dalam dunia pertambangan.”

“Hal inilah yang menginspirasi sekumpulan gerakan rakyat yang menjadikan momen 29 Mei -tanggal awal terjadinya semburan lumpur Lapindo- sebagai Hari Anti Tambang,” ungkapnya.

Untuk memperingati 6 tahun Skandal lumpur Lapindo dan Hari Anti-Tambang tersebut, SDN Jatim akan menggelar diskusi publik bertajuk “Pulihkan Hidup Kami, Selamatkan Negeri Ini” di kampus Ubaya Surabaya. Diskusi ini berlangsung tanggal 28 Mei 2012 besok.

Selain itu, pada tanggal 29 Mei 2012 akan berlangsung aksi massa bersama korban lumpur Lapindo di Tanggul Penahan Lumpur di Porong. SDN Jatim merupakan gabungan dari puluhan organisasi, seperti Posko Keselamatan Korban Lumpur Lapindo,WALHI Jatim, IKOHI Jatim, LAMRI Surabaya, Lembaga Bhinneka, KSN Jatim Bali, SBK Jatim, PRP Surabaya, KPPD, Kontras Surabaya, PPRM, dan LPBP.

MAHESA DANU

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut