LMND Lampung Galang Mosi Tidak Percaya Terhadap SBY-Budiono

Sedikitnya 20-an anggota Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) menggalang mosi tidak percaya terhadap kepemimpinan nasional di bawah SBY-Budiono. Gerakan ini sekaligus untuk memperingati Hari Lahirnya Pancasila.

Wendry, aktivis LMND dari kampus Universitas Bandar Lampung (UBL), mengaku memprioritaskan aksinya ke kantor DPRD untuk mengajak anggota parlemen turut menanda-tangani Mosi Tidak Percaya terhadap SBY-Budiono ini.

Namun, di luar bayangan aktivis LMND ini, mereka disambut berlapis-lapis barikade pengamanan dari Satpol PP dan Kepolisian. Meski begitu, aktivis LMND tetap jalan terus dengan agenda aksinya, tanpa menghiraukan pengamanan yang estra-ketat itu.

Wendry, selaku Koordinator Lapangan, memanggil Aditya Albar untuk berorasi. “Pemerintahan SBY-Budiono bukan saja telah gagal mensejahterakan rakyat, tetapi juga terbukti telah mengkhianati Pancasila. Mari serukan untuk menarik mandat dari Presiden berhaluan neoliberal ini,” kata Aditya Albar, ketua LMND komisariat Universitas Lampung.

Beberapa jam berorasi, beberapa anggota DPR akhirnya keluar menemui massa. Katanya, hanya sedikit anggota DPRD yang menemui massa, lantaran mereka sedang ada agenda Rapat Paripurna. “DPRD sedang menggelar Rapat Paripurna,” ujar seorang dari mereka.

“Tanggal 6 Juli mendatang, silahkan rekan-rekan mahasiswa datang kemari dan menyumbangkan gagasan dan aspirasinya,” ujar Heri Muheri, pria yang dikenal sebagai Kepala Humas DPRD Bandar Lampung.

Bincang Sore Di Radar TV

Sore hari, seusai menggelar aksi Peringati Lahirnya Pancasila, dua pentolan LMND Lampung jadi pembicara dalam sebuah talk-show di Radar TV. Nama acaranya: Bincang Sore.

Kedua aktivis LMND yang menjadi pembicara adalah Saddam Cahyo, Pengurus LMND Wilayah Lampung, dan Nyoman Adi Wirawan, Ketua LMND Kota Bandar Lampung. Keduanya mengenakan pin organisasi tatkala muncul di layar kaca.

Tessy, selaku pembawa acara talk-show ini, langsung memulai pertanyaan. “Apa makna Pancasila menurut mahasiswa,” tanya perempuan yang mengenakan kerudung ini.

Nyoman pun menjawab. “Pancasila adalah filosofi kebangsaan yang digali oleh Bung Karno dari buminya bangsa Indonesia sendiri. Pancasila adalah philosofische Grondslag, yaitu sebuah fundamen, filsafat, pikiran yang sedalam-dalamnya, jiwa-hasrat yang sedalam-dalamnya untuk di atasnya didirikan gedung Indonesia merdeka yang kekal-abadi,” kata Nyoman dengan nada suara agak pelan.

Saddam Cahyo turut menambahkan. Menurut mahasiswa Unila ini, “Pancasila berkali-kali mengalami penyelewengan dan pendistorsian, terutama di jaman rejim Orde Baru dan rejim neoliberal sekarang ini.”

Saddam pun mengenang bagaimana setiap pelajar sekolah dipaksa menghafal butir-butir Pancasila. “Setiap pelajar wajib menghafal butir Pancasila yang direduksi oleh Orde Baru. Lalu, karena makna-maknanya sudah kosong, maka pengalaman Pancasila-nya pun sudah tidak bermakna,” kata pemuda berkacamata ini.

Sementara itu, Nyoman Adi Wirawan berusaha menceritakan bagaimana Pancasila telah meluntur sebagai filosofi bangsa. Melunturnya semangat Pancasila itu, kata Nyoman, tidak lepas dari praktek kebijakan pemerintah yang jusrtu melenceng dari nilai-nilai atau prinsip Pancasila.

“Pengusa sekarang tidak bisa menerapkan Pancasila dengan benar. Mereka justru merupakan pelanggar-pelanggar nilai-nilai Pancasila. Kalau mereka setia pada Pancasila, maka tidak mungkin iklim politik dan ekonomi Indonesia berbau neoliberal,” kata Nyoman.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut