Di setiap sudut kota Indonesia, mereka ada. Menembus kemacetan Jakarta di tengah terik siang, menerobos hujan deras di Surabaya, mengantar makanan ke gang-gang sempit Bandung di tengah malam. Jutaan pengemudi ojek online adalah urat nadi ekonomi digital bangsa ini — bekerja tanpa henti, menanggung risiko sendiri, namun terus diperlakukan seolah keberadaan mereka hanyalah variabel biaya yang bisa diatur sesuka hati.
Hari Buruh 1 Mei bukan sekadar peringatan seremonial. Ia adalah pengingat bahwa perubahan kondisi kerja yang kita nikmati hari ini — upah minimum, jam kerja yang manusiawi, jaminan kesehatan — semuanya lahir dari perjuangan kolektif, dari keberanian jutaan pekerja yang memilih berdiri bersama ketimbang diam sendiri.
Kini giliran ojol Indonesia untuk berdiri.
Ketika Program Kerja Menjadi Alat Pemerasan
Sebelum berbicara tentang tuntutan, perlu dipahami terlebih dahulu mengapa keadaan sudah begitu mendesak.
Selama ini platform demi platform meluncurkan program-program yang secara teknis terlihat seperti inovasi bisnis, namun dalam praktiknya menjadi beban tambahan bagi pengemudi. Akses Hemat memangkas tarif demi menarik penumpang, lalu melempar selisih kerugiannya ke pundak driver yang sudah terpotong 20 persen lebih. Argo Goceng menggerus nilai per kilometer hingga ke titik yang tidak lagi masuk akal secara ekonomi. Gacor Berbayar meminta pengemudi membayar untuk mendapatkan akses pesanan yang lebih banyak — sebuah absurditas: hak untuk bekerja dijual kembali kepada mereka yang sudah bekerja. Dan sistem Slot merampas kepastian pendapatan, membuat jutaan keluarga tidak bisa merencanakan hari esok.
Ini bukan kebetulan. Ini adalah arsitektur sistem yang secara konsisten memindahkan risiko ke pengemudi sambil mempertahankan keuntungan di sisi platform. Dan selama tidak ada kekuatan kolektif yang cukup besar untuk melawan, sistem ini tidak akan berubah dengan sendirinya.
Di sinilah persatuan menjadi bukan sekadar semangat, melainkan strategi.
Lima Tuntutan, Satu Suara
Gerakan ojol Indonesia hari ini merumuskan tuntutan yang konkret, terukur, dan sudah seharusnya dipenuhi sejak lama. Bukan permintaan belas kasihan — ini adalah hak yang sudah terlalu lama tertunda.
Pertama: Akui Kami sebagai Pekerja, Bukan Mitra.
“Mitra” adalah kata yang indah di atas kertas, namun menipu dalam kenyataan. Mitra seharusnya setara — dua pihak yang masing-masing punya posisi tawar. Tapi apa yang terjadi? Tarif ditentukan sepihak. Aturan diubah tanpa konsultasi. Akun bisa diblokir tanpa penjelasan yang memadai. Ini bukan kemitraan. Ini hubungan kerja yang dikemas dalam bahasa bisnis untuk menghindari kewajiban hukum. Pengakuan sebagai pekerja adalah fondasi dari segala perlindungan lain yang akan diperjuangkan.
Kedua: Turunkan Potongan Aplikasi Menjadi Maksimal 10 Persen.
Angka 20 hingga 30 persen potongan platform bukan sekadar tidak adil — ia menghancurkan kelayakan ekonomi jutaan keluarga. Setelah potongan platform, setelah bahan bakar, setelah perawatan kendaraan, setelah premi asuransi yang harus ditanggung sendiri, berapa yang tersisa? Batas maksimal 10 persen adalah angka yang masih memberi ruang bagi platform untuk beroperasi dengan sehat, sekaligus memastikan bahwa mereka yang benar-benar bekerja mendapat bagian yang layak dari nilai yang mereka ciptakan.
Ketiga: Jaminan Sosial Wajib Ditanggung Platform.
Setiap hari, pengemudi ojol menghadapi risiko yang nyata: kecelakaan, cedera, sakit. Namun seluruh biaya perlindungan sosial — yang semestinya menjadi tanggung jawab bersama antara pekerja dan pemberi kerja — kini ditimpakan seluruhnya kepada pengemudi. Perusahaan yang meraup keuntungan dari setiap transaksi wajib ikut menanggung jaminan kesehatan, jaminan kecelakaan kerja, dan jaminan hari tua bagi mereka yang menjalankan operasional bisnisnya. Tidak ada argumen bisnis yang cukup kuat untuk membenarkan sebaliknya.
Keempat: Sahkan Segera RUU Pekerja Gig.
Kekosongan regulasi adalah senjata paling ampuh yang dimiliki platform untuk menghindari akuntabilitas. Tanpa undang-undang yang jelas, semua tuntutan di atas hanya akan terus berputar dalam debat tanpa ujung. DPR RI dan pemerintah harus memahami bahwa menunda pengesahan RUU Pekerja Gig bukan sikap netral — ia adalah keberpihakan aktif kepada status quo yang merugikan jutaan warga negara. Sudah cukup lama Indonesia tertinggal dari negara-negara lain yang sudah lebih berani mengambil posisi.
Kelima: Transparansi Algoritma.
Inilah yang paling jarang dibicarakan, namun sesungguhnya sangat mendasar. Seluruh kehidupan kerja pengemudi ojol ditentukan oleh algoritma yang tidak pernah mereka lihat, tidak pernah mereka pahami, dan tidak pernah mereka setujui. Mengapa pesanan tidak masuk? Mengapa pendapatan tiba-tiba turun? Mengapa akun kena sanksi? Jawabannya selalu: “sistem.” Transparansi algoritma bukan tuntutan teknis — ia adalah tuntutan tentang martabat. Pekerja berhak tahu bagaimana nasib mereka ditentukan.
Persatuan adalah Kekuatan
Ada satu hal yang sering dilupakan ketika membicarakan pekerja ojol: mereka adalah salah satu kelompok pekerja terbesar dan paling strategis di Indonesia.
Bila jutaan pengemudi di seluruh nusantara bergerak dalam koordinasi yang solid — menolak program-program yang merugikan, menuntut perubahan dengan suara yang serentak dan konsisten — dampaknya tidak akan bisa diabaikan. Bukan hanya oleh platform yang sangat bergantung pada ketersediaan driver untuk menjaga layanannya tetap berjalan. Tapi juga oleh pemerintah yang tidak bisa menutup mata terhadap tekanan sosial dari jutaan keluarga yang terdampak secara langsung.
Tekanan kolektif adalah bahasa yang paling dimengerti oleh kekuasaan — baik kekuasaan korporasi maupun kekuasaan negara.
Pengemudi ojol di London berhasil karena mereka bersatu dan membawa kasusnya ke pengadilan. Pengemudi di sejumlah kota Eropa berhasil mendorong perundingan yang lebih adil karena mereka mengorganisir diri. Keberhasilan itu bukan karena mereka lebih pintar atau lebih beruntung — tapi karena mereka memilih untuk tidak berjuang sendiri-sendiri.
Hapus Program yang Merugikan, Bangun Sistem yang Adil
Persatuan yang solid harus diarahkan pada tujuan yang kongkret. Selain lima tuntutan utama, gerakan ini harus tegas menuntut penghapusan program-program yang telah terbukti merugikan: Akses Hemat, Argo Goceng, Gacor Berbayar, dan sistem Slot Hub harus dihapus — bukan direvisi, bukan dimodifikasi, tapi dihapus. Kembalikan skema kerja yang sederhana, transparan, dan bisa dipercaya, di mana setiap pengemudi tahu persis berapa yang akan ia terima sebelum ia memutuskan menerima pesanan.
Ini bukan permintaan yang mustahil. Ini adalah standar minimum dari sebuah hubungan kerja yang bermartabat.
Bersatu Bukan Pilihan, Ia adalah Jalan Satu-satunya
Tidak ada tuntutan yang akan dipenuhi bila ia datang dari suara yang tercerai-berai. Tidak ada regulasi yang akan lahir bila tekanannya tidak cukup kuat untuk dirasakan. Dan tidak ada program yang merugikan yang akan dihapus bila platform masih merasa aman karena tidak ada konsekuensi nyata yang mengancam.
Satu pengemudi yang mengeluh bisa diabaikan. Sepuluh ribu yang bersuara bersama mulai terdengar. Satu juta yang bergerak serentak tidak bisa dihentikan.
Di Hari Buruh ini, pilihan ada di tangan jutaan pengemudi ojol Indonesia: terus berjuang sendiri dalam kesunyian, atau bersatu dan mengubah sistem yang sudah terlalu lama berjalan di atas punggung mereka.
Sejarah selalu berpihak kepada mereka yang berani berdiri bersama.
Sultan Ardy, Penulis merupakan Ketua Forum Kebangkuta Ojol Indonesia
Ditulis dalam semangat peringatan Hari Buruh Nasional, 1 Mei 2026

