Leila dan Tjoet: Duo Kombatan Perempuan

Sebelum mereka menjadi sadar, mereka tidak akan pernah berontak; dan sebelum mereka berontak mereka tidak pernah menjadi sadar. (Celoteh Winston, dalam novel “1984” George Orwel)

Bila ada pertanyaan seperti ini: apa perbedaan antara Leila Khaled dan Tjoet Nja’ Dhien? Tentulah jawaban yang ada sangat beragam. Karena Leila adalah seorang Palestina, sedang Tjoet seorang Sumatra. Karena Leila hidup dalam memanggul senjata di padang pasir, sedang Tjoet menghunus rencong di rimba raya hutan Aceh. Karena Leila memimpin operasi pembajakan pesawat, sedang Tjoet memimpin pasukan gerilya. Dan lain-lain. Tetapi bila pertanyaan itu dibalik: apa persamaan Leila dan Tjoet? Maka hanya ada satu jawaban tepat bagi saya: “pesona”. Dua perempuan ini bagi saya sama-sama memiliki sebuah pesona.

Kenekatan Leila muda adalah balutan merah dibalik jilbabnya (tepatnya kaffiyeh). Bagi Leila, jilbab bukan hanya perkakas kebudayaan atau sekedar pembungkus aurat agar terhindar dari lirikan syahwat. Jilbab juga adalah identitas dan sehelai kain perlawan bagi perempuan. Karena jilbab bukanlah permainan sublim pada “babak drama kolosal hampa” yang tak bisa memberontak dan mengokang senjata. Juga membongkar takdir palsu yang mengatakan bahwa perempuan selamanya akan menjadi makmum dari lelaki . Anggapan itu seketika rapuh tatkala Leila yang bernyali batu itu dua kali memimpin sebuah pembajakkan pesawat. Dan Dia seorang perempuan. Dan bisa bergerilya dimedan pertempuran.

Jejak yang lebih dulu dipilih oleh Tjoet. Melawan kaum kafir yang sungguh menjijikan, yang merampas kedaulatan dan meninggalkan penjajahan dinegeri Darussalam. Tjoet bergerilya tak kenal ampun meski ditinggal syahid kedua suaminya Teuku Umar dan Ibrahim Lamgna. Tjoet semakin bergelora, meski lapar dan TBC menghantamnya selama dibelantara perang. Tjoet dan tubuh kurusnya menerobos alam liar, menumpahkan seluruh darah juangya.

Sungguh sayang, cerita Leila masih sangat indah untuk dikenang. Seperti juga cerita gerilya Tjoet di pedalaman Meulaboh. Namun, baiklah. Mari sejenak kita menuju ke Leila. Cerita Leila bermula ketika semua penumpang seakan tak ada yang menyangka bahwa penerbangan hari itu adalah penerbangan yang paling menegangkan sepanjang hayat. Suasana didalam kabin pesawat menjadi beku, ketinggian pesawat dilangit yang sedang dibajak sungguh semakin menambah kencang debar jantung para penumpang. Pesawat yang mereka tumpangi telah dibajak oleh dua orang kombatan yang salah satu diantaranya ternyata adalah perempuan. Dalam keadaan tenang dan rapih, diwaktu hari yang bersejarah, tanggal 29 Agustus 1969. Leila telah menyiapkan segalanya, bertaruh nyawa dan optimisme. Sebuah pesawat penumpang komersil TWA 840 rute Roma-Athena, dipaksa untuk berubah haluan. Kendali penerbangan diambil alih oleh para pembajak Salim Issawi dan Leila Khaled, pesawat tersebut segera diperintahkan mendarat di Damaskus. Pilot dan Co-Pilot terpaksa hanya bisa pasrah seribu bahasa.

Cerita diatas, sungguh tidak sedang terjadi dalam sebuah garapan film action, namun inilah sebuah realitas perjuangan Leila yang terbuang dari tanah kelahiranya. Seperti halnya amuk Tjoet atas kaum kape-ondo yang meluap-luap. Tak berselang lama, setahun kemudian, Leila kembali berulah. Di tanggal 6 September 1970 pesawat EL AL 219 Boeing 707 penerbangan rute Amsterdam–New York telah dibajak oleh dua orang manusia. Kali ini Leila melakukan aksi kolaborasi dengan seorang lelaki Sandinista, Patrick Arguelo. Mereka memaksa masuk ke ruang kokpit dan hendak mengambil kemudi pesawat, namun pilot pesawat tersebut dengan sergap tajam menukikkan pesawatnya tepat diatas langit teritori Inggris hingga para pembajak tersebut hilang keseimbangan. Dan, mereka terjatuh. Patrick ditembak mati, sedang Leila ditangkap kemudian menghabiskan waktu sebulan dikantor kepolisian Ealing London sebelum pada akhirnya tak lama dibebaskan karena pertukaran tahanan.

Demikianlah Leila dan Tjoet, yang membuat banyak orang takjub lagi hormat. Leila begitu mempesona, hingga sampai-sampai banyak ibu di Palestina, Jordania, Lebanon, Pakistan, India dan belahan negeri lainya–memberi nama anaknya dengan nama serupa “Leila”. Ibu-ibu itu seperti ingin mengukir nama “Leila” lebih dekat dalam pahatan perlawanan. Mereka bangga memiliki anak yang menyerupai “Leila”, karakter yang bisa memberontak dan berjiwa militan. Sedang Tjoet, kuburannya yang berada di Sumedang sering diziarahi oleh rakyat Aceh dan pejuang Aceh. Mereka ingin terus mendamba dan mengenangnya. Tak lama setelah meletus pemberontakan GAM, pemakaman Tjoet dijaga ketat oleh militer. Pemerintah khawatir kuburan akan membangkitkan perlawanan. Kunjungan peziarah pun semakin menyusut.

Tanah Leila adalah serbuk-serbuk debu peperangan. Tanah Tjoet adalah ladang perang yang tak pernah berujung. Tanah mereka berdua adalah tanah yang dijanjikan Tuhan. Apabila sebuah kemerdekaan telah direnggut maka tak ada kata lelah untuk merebutnya kembali. Bila tanah air yang sudah didiami oleh turun-temurun kemudian dicaplok begitu saja oleh kedatangan penjajah, maka tak ada lagi batasan gender disini. Semua bisa angkat senjata. Tua-muda, lelaki-perempuan, Islam-Yahudi-Kristen-Ateis, bagi siapa saja yang terketuk hatinya melihat penindasan, sah untuknya berlaga di medan tempur. Demi sebuah kemerdekaan. Seperti Palestina, negara suci tanah perjanjian ini dari hari kehari berselimutkan kemelut perang yang tak pernah redup. Perang seperti api vulkanik dikawah gunung berapi aktif. Bergemuruh dan meletup-letup. Leila, adalah seorang kombatan Unit Komando Che Guevara Front Rakyat untuk Pembebasan Palestina, atau disingkat PFLP. Israel selalu memburunya, hingga pada akhir 1976 terjadi insiden paling buruk baginya. Akibat begitu masif perlawanan, berbuntut kematian pada adik perempuanya bersama tunangannya di sebuah rumah persembunyian–adiknya harus terbunuh karena mirip dengan wajah Leila. Operasi salah sasaran tentara Israel tersebut sempat sejenak membuat Leila terpukul. Namun tak lama, Ia bangkit lagi. tetapi bahaya tak berhenti disitu, ancaman terus saja mengintai dirinya dan keluarganya. Disaat-saat moment prosesi “ijab qabul” dengan suaminya, perkawinan Leila turut diriuhkan dengan ledakan granat dan molotov dari jarak hanya sekian puluh meter dari tempat Ia melangsungkan pernikahan. Sehingga tanah-tanah diacara pernikahanya ikut tergoncang dan bergetar-getar. Dirinya, begitu penting untuk masuk dalam target pencarian orang.

Gerilya tanpa batas, rasanya kata ini pantas disematkan pada dua perempuan ini. Ulah Leila membajak pesawat tak disangka–menuai kehangatan dalam perjuangan kemerdekaan Palestina, yang tak lekang dari sanubari rakyatnya. Fotonya berdampingan bersama Che dipampang didinding-dinding rumah, wajahnya yang berhijab sedang memanggul senjata termuat dalam banyak grafiti ditembok-tembok Jerusalem Palestina. Begitu pula Tjoet, sebuah produksi film drama epos ditahun 1998 yang disutradai Eros Djarot serta mata uang rupiah 10.000 ditahun yang sama adalah buah penghormatan tinggi rakyat terhadapnya. Kenekatan mereka tidak menjadikan ketakutan akan sebuah keyakinan; bahwa setiap tanah sejengkal direbut secara keji oleh para penjajah maka yang harus terjadi adalah “perlawanan”. Tak sedikit orang memandang aksi-aksi mereka dengan meletakan dua telapak pada mata. Karena Leila dan Tjoet begitu berani mengibarkan nyawa diujung maut.

Leila dan Tjoet adalah dua pribadi yang nekat. Yang tak rela tanahnya dijajah.

Janeska Mahardika, Ketua Asrama Mahasiswa Sulawesi Tengah Yogyakarta periode 2008-2010            

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut