Israel Bunuh Seorang Aktivis Revolusioner Palestina

Militer Israel ( Israel Defense Forces/IDF) menyerbu sebuah Apartemen di Ramallah, Tepi Barat, Minggu (5/3/2017) malam, untuk mencari pemuda bernama Basel Al-Araj.

Sumber kepolisian menyebutkan, pada saat penyerbuan berlangsung, Al-Araj berusaha melawan dengan pistol mitraliur. Namun, pasukan IDF dan unit anti-teroris yang berjumlah belasan orang langsung menembaknya.

Sebuah video yang diunggah oleh IDF memperlihatkan mereka sedang memasuki apartemen. Tak lama kemudian, mereka menemukan al-Araj bersembunyi di ruang kecil atas pintu dan menembakinya.

Mustafa Barghouti, pimpinan partai progressif Inisiatif Nasional Palestina, membantah klaim IDF dan pihak kepolisian. Dia mengungkapkan, saat dirinya mengunjungi kamar apartemen Al-Araj, tampaknya Israel mendominasi tembakan.

“Mereka bilang ini pertempuran atau bentrokan, tetapi apa yang aku lihat hanya sisi tembakan. Dan itu Israel,” kata Barghouti kepada Al-Jazeera, Selasa (7/3/2017).

Menurut Barghouti, kalau al-Araj memang berkesempatan menembak, paling-paling hanya menembakkan satu peluru. Faktanya, kamar apartemen itu benar-benar dibombardir peluru Israel.

Selain al-Araj, dua orang palestina lainnya terluka dalam kejadian itu. Pemuda Palestina di Ramallah juga merespon pembunuhan al-Araj dengan menyerang aparat Israel.

Menuai Kecaman

Pembunuhan al-Araj menuai kecaman berbagai organisasi politik di Palestina.

Front Rakyat untuk Pembebasan Palestina (PFLP) menyebut al-Araj sebagai “martir yang berjuang dengan heroik”. Partai berhaluan marxisme ini mengajak pemuda-pemuda Palestina mengikuti jalan perjuangan al-Araj.

“Martir Basel al-Araj adalah pejuang kemerdekaan, intelektual dan ahli teori dalam kebangkitan pemberontakan muda Palestina. Dia mendedikasikan hidupnya di jalan perlawanan, intifada, untuk pembebasan seluruh tanah palestina,” tulis PFLP dalam siaran persnya, Senin (6/3/2017).

Sedangkan Mustafa Bhargouti dari Inisiatif Nasional Palestina menyatakan pembunuhan al-Araj sebagai tindakan pembunuhan ekstra-yudisial.

Sementara Fatah, partai berkuasa di Palestina kini, hanya menyebut kejadian itu sebagai “insiden” dari eskalasi lain antara Israel dengan Palestina. Tetapi Fatah mengutuk “operasi ilegal” Israel di wilayah Palestina dan menggambarkannya sebagai “tindakan mengerikan”.

Sementara rakyat Palestina, terutama di Bireh dan sekitarnya, menggelar aksi protes atas pembunuhan al-Araj. Mereka juga mengecam Otoritas Palestina (PA) yang telah membuka peluang bagi militer Israel membunuhi pejuang Palestina melalui kesepakatan yang disebut “koordinasi keamanan”.

“Koordinasi Keamanan”

PFLP mengutuk bentuk “koordinasi keamanan” antara aparat keamanan Otoritas Palestina dan militer Israel sebagai upaya membungkam perjuangan rakyat Palestina.

“Koodinasi keamanan adalah penghianatan yang eksplisit terhadap para martir, prinsip-prinsip, dan nilai perjuangan rakyat kami,” tulis PFLP.

Koordinasi keamanan adalah bentuk kerjasama keamanan antara Otoritas Palestina dan militer Israel. Pada prakteknya, kedua pihak saling berbagai informasi terhadap orang-orang yang dituduh berencana melakukan aksi teror.

Al-Araj sendiri, beserta 5 pemuda Palestina lainnya, pernah ditangkap oleh aparat intelijen Otoritas Palestina pada Maret 2016. Kemudian Al-Araj diserahkan ke interogator Israel dan dituduh merancang serangan bersenjata ke pemukiman Israel.

Tak lama kemudian, al-Araj dipindahkan ke penjara Jericho yang dijalankan oleh Otoritas Palestina. Di sana di mendekam selama 6 bulan penjara. Dia dibebaskan setelah menggelar aksi mogok makam selama berhari-hari.

Pejuang revolusioner

Basel al-Araj, yang baru berusia 31 tahun, dianggap pemikir muda Palestina yang cemerlang. Pikiran-pikirannya sangat tajam, revolusioner, dan tak mengenal kompromi.

Dia lahir di sebuah desa bernama Al-Walaja, di Tepi Barat. Al-Araj pernah belajar Farmasi di sebuah Universitas paling bergengsi di Mesir. Namun, penderitaan rakyat di tanah-airnya membuatnya meninggalkan peluang hidup nyaman sebagai alumnus sebuah perguruan tinggi bergengsi.

Al-Araj suka mempelajari sejarah Palestina. Dia juga suka menelusuri kisah-kisah perlawanan rakyat negerinya. Dia pernah menyimpulkan bahwa “taktik gerilya” merupakan strategi paling cocok untuk mengusir pendudukan Israel.

Sepanjang hidupnya, al-Araj selalu hadir dalam berbagai aksi-aksi menentang Israel. Dia berulangkali dipukuli dan ditangkap oleh aparat keamanan Israel maupun Palestina.

Tahun 2011, al-Araj bersama beberapa aktivis Palestina lainnya menaiki sebuah Bus khusus pemukim Israel di Tepi Barat dan berencana masuk ke Yerussalem. Sayang, di tengah jalan bus dihentikanl, lalu Al-Araj bersama kawan-kawannya dikeluarkan paksa dengan kekerasan.

Aksi naik Bus pemukim Israel ini merupakan bentuk aksi simbolik untuk mengeritik politik diskriminasi dan segregasi yang diterapkan oleh Israel di wilayah pendudukan.

Sebagai pemikir muda, Al-Araj memang revolusioner non-kompromi. Dia tidak hanya mengeritik Israel, tetapi juga Otoritas Palestina yang dianggapnya lembek dan penghianat.

Dia juga tidak terima dengan kapitulasi Perjanjian Oslo. Sebaliknya, dia memperjuangkan pembebasan penuh Palestina dari penjajahan Israel.

Sesaat sebelum al-Araj diserbu dan dibunuh Israel, dia menulis surat singkat. Dia membuka suratnya dengan kata-kata: Salam Arabisme, Tanah Air, dan Pembebasan. “Jika anda membaca surat ini, berarti saya telah mati dan jiwaku telah kembali pada Penciptanya. Aku berdoa kepada Allah, semoga Aku bertemu Dengannya dengan suara, hati bersih, penuh kerelaan, tanpa keraguan, penuh ketulusan, dan tanpa kemunafikan.”

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut