Lagi, Upaya Kriminalisasi Aktivis Rakyat Miskin

Dua orang aktivis Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI), Wahida Baharuddin Upa dan Dg Baji, dilaporkan ke Polda Sulsel, kemarin (7/9). Pelapornya adalah seorang pengusaha pengembang bernama William Effendi.

William menuding kedua aktivis itu telah melakukan pengrusakan terhadap gedung sekolah SD Gaddong Makassar. William sendiri adalah pengusaha yang hendak membangun ruko di halaman sekolah.

Rencana William itu mendapat penolakan keras dari warga dan murid SD Gaddong. Warga bersama Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI) pun mengorganisir perlawanan terhadap nafsu serakah pengusaha William ini.

Warga dan murid pun menggelar aksi berkali-kali. Hingga, pada 6 September lalu, saat warga dan murid SD Gaddong sedang menggelar aksi di kantor DPRD Sulsel, terjadilah pengrusakan yang dituduhkan pengusaha itu.

Sementara itu, menurut Wahida B Upa, salah seorang aktivis yang dilaporkan pengusaha, pihaknya mengetahui pelaporan pengusaha itu melalui media lokal.

Bagi Wahida, pelaporan itu sangat mengada-ada dan terkesan hendak menakut-nakuti organisasinya yang sedang berjuang bersama warga dan murid SD Gadongg. “Ini adalah bentuk intimidasi terhadap kami yang dilakukan oleh pengusaha,” katanya.

Lebih lanjut, kata Wahida, masyarakat memang menginginkan agar Direksi Kids (semacam kantor kecil pengusaha di halaman sekolah) segera dibongkar sendiri oleh pengusaha.

Tuntutan warga itupun disampaikan dalam sebuah rapat pada tanggal 28 Agustus di sekolah. Rapat itu dihadiri oleh Babinsa, Koramil, Kapolsek Bontoala, Lurah Gaddong, dan RT/RW setempat.

Dalam rapat itu, kata Wahida, warga sudah menyampaikan ultimatum agar pihak pengusaha membongkar kantor itu dalam 2×24 jam. Tetapi, sampai batas waktu yang dituntut warga, pihak pengusaha tidak juga membongkar kantor itu. Bahkan pembongkaran tidak terjadi hingga beberapa hari pasca lebaran.

Wahida sendiri, ketika dugaan pembongkaran itu dilakukan, sedang menggelar aksi massa bersama dengan warga Gaddong di kantor DPRD Sulsel. Dg Baji juga terlibat dalam aksi itu. “bagaimana kami bisa dituding sebagai pelaku, sedang kami sedang menggelar aksi di kantor DPRD,” katanya.

Merespon pelaporan pengusaha, Wahida dan Dg Baji berencana akan mendatangi Mapolda Sulsel, meski tanpa surat pemanggilan. “Kami akan datang untuk mengklarifikasi mengenai masalah tersebut,” katanya kepada Berdikari Online,

Sebaliknya, Wahida dan Dg Baji berencana melaporkan balik pengusaha tersebut, dengan tuduhan pencemaran nama baik dan perbuatan tidak menyenangkan. “Kami akan melaporkan balik pengusaha itu,” katanya.

Wahida menganggap William Effendi sebagai pengusaha yang anti terhadap kemajuan pendidikan. “Ini pengusaha yang tidak setuju dengan upaya mencerdaskan kehidupan bangsa,” kata Wahida.

Rencana Ruislag SD Gaddong

Pada tahun 2006, ada kesepakatan antara pihak Gubernur Sulsel dengan pihak pengusaha William Effendi. Kesepakatan itu adalah rencana melakukan ruislag terhadap SD Gaddong I dan II.

Begitu mendengar kabar ruislag itu, warga dan guru-guru pun melakukan perlawanan keras. Sebetulnya, pada tahun 2006, Pemkot Makassar juga sudah sempat menerbitkan Ijin Mendirikan Bangunan (IMB).

Akan tetapi, karena kuatnya perlawanan warga, guru, dan tokoh masyarakat, IMB itupun kemudian ditangguhkan. Tetapi, pada 9 Agustus 2011 lalu, rencana ruislag itu kembali muncul melalui surat Walikota kepada Dinas Tata Ruang kota Makassar dan ditembuskan ke lurah dan instansi terkait.

Warga pun kembali merapatkan barisan dan melakukan perlawanan.

Pihak pengusaha berdalih, pihaknya hanya mau membantu memperbaiki sekolah. Tapi, sebagai imbal baliknya, diberi kesempatan membangun ruko di separuh halaman sekolah.

SD Gaddong sendiri hanya memiliki luas 35x 37 meter persegi. Sekolah ini hanya memiliki 12 ruangan kelas, dengan jumlah murid sekitar 600-an orang. Halaman untuk upacara bendera pun sangat sempit.

Sehingga, kalau pengusaha dibiarkan membangun ruko di sekolah, maka tidak hanya menyempitkan sekolah dan mengganggu proses belajar-mengajar, tetapi juga berpotensi menggusur sekolah ini.

Ini sangat ironis, bahwa Pemda Sulsel dan Pemkot Makassar sama sekali tidak punya kepedulian terhadap pendidikan. Mereka rela mengubah lembaga sekolah yang bersejarah ini menjadi kegiatan bisnis.

Padahal, untuk sekedar diketahui, SD Gaddong ini menyimpan nilai historis dan telah melahirkan tokoh bangsa. Mantan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla, adalah salah satu alumnus sekolah ini.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut