Kutukan “Ekonomi Ekspor”

ekspor

Dalam peringkat pertumbuhan ekonomi dunia, Indonesia berada di urutan kedua setelah Tiongkok. Eknomi Indonesia tumbuh 6,4%, sedangkan Tiongkok tumbuh dengan 8,7%. Dalam peringkat ekonomi terbaik dunia versi PBB, Indonesia juga masuk dalam kelompok sepuluh besar.

Karena itu, pemerintah pun tak henti-hentinya menepuk dada. “Alhamdulilah, saya berterima kasih kepada semua pihak dengan segala upaya dan kerja kerasnya. Kita bisa menjaga pertumbuhan (ekonomi) pada tingkat seperti itu,” kata Presiden SBY.

SBY memang tak henti-hentinya memuja pertumbuhan ini. Pada tahun 1998, ketika krisis ekonomi berkecamuk, pertumbuhan ekonomi sempat minus 13,1%. Pada tahun 2004, begitu SBY tampil sebagai Presiden, ekonomi tumbuh 5,1%. Dan sekarang ekonomi sudah tumbuh sebesar 6,4%.

Namun, tak sedikit pula yang skeptis dengan pertumbuhan ekonomi itu. Sejumlah ekonom kritis menyebut pertumbuhan itu sangat semu. Artinya, pertumbuhan ekonomi itu didorong oleh realitas kosong. Sebagian besar penggerak pertumbuhan itu adalah ekspor, investasi asing, konsumsi masyarakat, dan utang luar negeri.

Memang, seperti diakui pemerintah, ekspor menjadi penghela utama pertumbuhan. Akibatnya, begitu kinerja ekspor Indonesia melambat, maka proyeksi pertumbuhan ekonomi pun terganggu.

Sepanjang April-Mei 2012, kinerja ekspor Indonesia menurun. Laporan BPS menyebutkan, perdagangan pada bulan April 2012 mengalami defisit sebesar 641,1 juta dollar AS. Sedangkan perdagangan pada Mei 2012 mengalami defisit sebesar 485,9 juta dollar AS. Ini dianggap sinyal berbahaya.

Ironisnya, sejak zaman Belanda hingga sekarang, ekspor Indonesia masih mengandalkan bahan mentah: batubara, minyak, bauksit, gas, minyak kelapa sawit, dan karet. Pasar ekspor Indonesia pun tak banyak berubah, yakni Tiongkok, Amerika Serikat, Jepang, dan Eropa.

Sedangkan ekspor hasil industri tak begitu signifikan. Itupun, seperti diungkapkan LIPI, sebagian besar merupakan produk manufaktur berteknologi rendah, seperti industri kertas, kayu dan barang dari kayu, pakaian jadi, kulit dan barang dari kulit, dan industri makanan dan minuman.

Ekonomi yang bertumpu pada ekspor bahan mentah tak bermasa depan. Model ekonomi ini hanya menyebabkan kita kehilangan nilai tambah. Di samping, kita juga kehilangan peluang membangun industri olahan, menciptakan lapangan kerja, dan lain-lain. Lebih parah lagi, cadangan bahan mentah dan sumber-daya kita terkuras habis.

Bahan mentah kita pun berkurang drastis. Catatan Prof Emi Salim menyebutkan, cadangan bauksit akan habis sekitar tahun 2018. Cadangan besi, nikel, tembaga akan habis dalam 10, 15, dan 45 tahun. Cadangan minyak bumi dan gas alam akan habis dalam 11 dan 33 tahun. Cadangan batubara habis dalam 64 tahun.

Model ekonomi ekspor ini jelas tidak berkelanjutan. Dalam beberapa tahun kedepan, Indonesia akan mengalami krisis bahan baku. Sudah begitu, akibat eksploitasi alam yang tak terkendali, sedikitnya 1 juta hektar hutan di Indonesia rusak dan hilang per tahun. Kita pun menjadi langganan bencana.

Ekonomi ekspor juga membuat kita tak sanggup mengakumulasi nilai tambah. Nilai tambah kita berpindah ke negeri-negeri imperialis. Ambil contoh: bauksit diambil di Pulau Karimun, dibawa ke luar negeri dengan harga US$ 30. Kemudian masuk Indonesia menjadi alumina dengan harga US$ 220. Jadi, nilai tambah yang dirampok adalah US$190.

Padahal, 70 tahun yang lalu, Bung Hatta sudah mengingatkan, salah satu ciri ekonomi kolonialistik adalah mendasarkan dirinya pada “export-economie”. Menurutnya, sistem ini memutar ujung menjadi pangkal. Artinya, yang seharusnya menjadi ‘hasil akhir” justru ditempatkan di depan.

Seharusnya, kata Bung Hatta, setiap perekonomian berproduksi untuk keperluan rakyat. Nantinya, kalau ada barang yang tak bisa diproduksi sendiri, barulah pemerintah boleh melakukan impor. Nah, ekspor dilakukan untuk menutupi biaya impor tadi.

Pada kenyataannya, selama beratus-ratus tahun di Indonesia, ekspor selalu diutamakan. Baru kemudian dilakukan impor. Itupun sebagian besar impornya adalah bahan keperluan perusahaan-perusahaan besar.

Dengan model ekonomi ekspor begitu, ungkap Bung Hatta, pasar internal tidak terlalu menjadi perhatian. Akibatnya, keberadaan industri kolonial itu tidak dipusingkan oleh daya-beli rakyat Indonesia. Mereka pun tidak punya kekhawatiran sedikit pun dengan kehidupan massa-rakyat, termasuk buruh, yang makin melarat.

Bung Hatta menganjurkan, bahan mentah harus diusahakan menjadi bahan setengah jadi atau barang jadi industri. “Kalau kita sudah sanggup membuat ban oto sendiri dari karet kita yang begitu banyak berlebih, tidak saja nanti menghemat devisa berpuluh juta rupiah yang selama ini dipakai untuk membayar impor ban, tetapi ada kemungkinan sebagian produksi nasional itu dijadikan barang ekspor untuk pembayar barang atau kapital yang kita impor,” ungkapnya.

Karena itu, bagi Bung Hatta, kunci keluar dari struktur ekonomi kolonial menjadi ekonomi nasional-merdeka adalah menggeser ekonomi ekspor menjadi ekonomi-produksi. Artinya, pemerintah harus mulai membangun industri olahan di dalam negeri. Bersamaan itu, pasar internal juga harus dikembangkan. Tentunya, supaya itu bisa terjadi, daya beli massa-rakyat harus dinaikkan.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • edi

    bagimana akan tercipta ekonomi industri mandiri. kontrak perdagangan bahan mentah, sdh dilakukan. oleh pemrintah kita, dgn negara2 yg membutuhkan.

  • Tari Adinda

    Yang jelas, masyarakat kita makan NASI, bukan makan EKONOMI.

    Selama pertumbuhan ekonomi tidak bisa dirasakan oleh masyarakat, seperti ibu-ibu yang masih mengeluh karena harga sembako yang mahal bahkan semakin meningkat, juga daya beli yang semakin menurun, itu sama saja dengan ‘keberhasilan semu’. Alias BOHONG BESAR …