Kunjungan Budiono Ke Lampung Disambut Aksi Massa

Meskipun dikawal oleh ribuan prajurit Polri dan TNI, kunjungan Wakil Presiden Budiono ke Lampung tetap disambut aksi massa. Setidaknya ada kelompok pergerakan yang menggelar aksi di dua titik berbeda, kemarin (19/03).

Kelompok pertama adalah Aliansi BEM Lampung (ABL), dengan massa sedikitnya 30 orang, menggelar aksinya di tugu Unila. Sedangkan kelompok kedua adalah Gerakan Rakyat Menggugat (GERAM), yang menggelar aksinya di tugu bundaran Adipura.

Meskipun dilakukan ole dua kelompok dengan titik aksi yang berbeda, tetapi tuntutan mereka tetap sama, yaitu rejim SBY-Budiono telah gagal mensejahterakan rakyat. Aksi ini mendapat pengamanan sangat ketat dari aparat kepolisian.

Ketika Budiono hampir tiba, sekitar pukul 08.00 WIB, hampir semua ruas jalan raya utama di Bandar Lampung ditutup. Sterilisasi ini dilakukan untuk mengamankan jalan yang akan dilalui Wapres Budiono. Akibat penututan jalan tersebut, banyak orang yang terjebak dalam kemacetan parah.

Menurut rencana, Wapres Budiono akan membuka seminar peringatan HUT Ikatan Alumni Lemhanas ke-33 di Balai Keratun, yang berada di komplek perkantoran pemerintah provinsi Lampung. Selain itu, Budiono juga dijadwalkan menjadi pembicara kunci dalam seminar berjudul: “Apa Golongan Darah Bangsa Anda Itu?”

SBY-Budiono terbukti gagal

Pokok tuntutan yang diangkat para demonstran adalah kegagalan pemerintahan SBY-Budiono, terutama dalam mensejahterakan rakyat. Demonstran juga menganggap SBY-Budiono sebagai penyebab hancurnya sendi-sendi kedaulatan bangsa di ekonomi, politik, hukum, dan sosial-budaya.

Oleh karena itu, Aliansi BEM Lampung menyatakan oposisi permanen terhadap rejim SBY-Budiono. “BEM akan tetap menjadi oposisi permanen terhadap rejim SBY-Budiono yang gagal mensejahterakan rakyatnya,” kata Feri Firdaus selaku koordinator Aliansi BEM.

Di tempat lain, GERAM yang merupakan gabungan berbagai organisasi seperti LMND, PMKRI, GMKI, FMN, dan SRMI, menganggap bahwa pemerintahan SBY-Budiono telah gagal karena menjadi boneka imperialisme-neoliberal.

Mujahidin, yang bertindak sebagai korlap aksi GERAM, menegaskan bahwa aksi demonstrasi ini merupakan bukti bahwa rakyat Lampung tidak tidur, tetapi terus-menerus melakukan perlawanan terhadap imperialisme-neoliberal.

Proyek demokrasi kita tidak boleh gagal

Dalam penjelasannya dihadapan 300-an Alumni Lemhanas, Wapres Budiono mengklaim Indonesia telah berhasil melampaui masa-masa kritis, terutama sebagai akibat dari dinamika ekonomi dan politik global.

Budiono juga menegaskan bahwa ujicoba proyek demokrasi dan politik Indonesia saat ini tidak boleh gagal. Untuk itu, Budiono berharap bahwa proses ini tidak diganggu.

“Kita pernah mengujicobakan sistim demokrasi di taun 1950-an, tetapi mengalami kegagalan. Jika kali ini pun gagal, maka kita akan terayun-ayun dan diombang-ambingkan oleh proses perubahan politik dari rejim ke rejim,” kata Budiono.

Menanggapi pernyataan Budiono di atas, ketua LMND Lampung Isnan Subkhi menegaskan bahwa sistem demokrasi yang dipraktekkan sekarang ini sudah mengalami kegagalan.

Proyek demokrasi liberal, menurut Isnan, telah menyingkirkan mayoritas rakyat Indonesia dari kehidupan politik dan ekonomi. “Ada banyak kebijakan pemerintah yang merugikan rakyat, tetapi rakyat tidak pernah dilibatkan untuk membicarakan hal tersebut,” katanya.

Isnan juga menyoroti soal praktek korupsi yang kian merajalela di dalam pemerintahan, yang menjadi penanda bahwa sistem demokrasi liberal sekarang gagal menciptakan pemerintahan bersih dan pro-rakyat.

“Jika sebagian besar rakyat dikeluarkan dari kehidupan politik, apakah itu pantas disebut demokratis. Jika sebagian besar rakyat dirampas hak-hak dasarnya, apakah itu bisa dikatakan demokrasi,” kata Isnan Subkhi.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut